Penikmat kopi
2 minggu lalu · 115 view · 3 min baca · Pendidikan 17014_54229.jpg
Foto: educenter

Xenofobia Rektor Asing

29 Juni 2019, melalui akun twitternya, Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengungkapkan rasa bahagia atas capaian putrinya, Shafa Sabila. Putrinya dinyatakan lulus dari Queen Mary University of London, Inggris. 

Bagi saya, tidak ada yang istimewa dengan peristiwa itu meski Shafa lulus dengan predikat summa cum laude

Selain Shafa, sederet anak elite politik juga berkuliah di luar negeri. Sebut saja Ibas putra bungsu SBY, bahkan putra Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep, yang sejak SMA berada di Singapura dan sekarang melanjutkan studi di Singapore Institute of Management University.

Fenomena itu memunculkan tanya bagi saya, barangkali Anda pernah juga bertanya, mengapa elite politik kita kerap menyekolahkan putra-putri mereka ke luar negeri? Apakah ini pertanda kualitas sekolah dan universitas kita jauh tertinggal? Sehingga mereka kurang percaya anaknya dididik di dalam negeri.

Selain anak pejabat negara, kalangan artis maupun kaum borjouis juga memilih melanjutkan studinya ke luar negeri. 

Apakah rencana impor rektor asing berkaca dari hal itu? Agar anak-anak elite politik tak perlu lagi ke luar negeri untuk kuliah. Kalaupun berkuliah di luar negeri, bukan disebabkan rendahnya kualitas sekolah dan universitas kita. Akan tetapi, mereka kuliah ke luar negeri karena motif lainnya.


Rencana pemerintah impor rektor asing memang tak mudah. Selain masih banyak xenofobia di tengah masyarakat, regulasi kita juga belum benar-benar mengatur hal itu. Namun soal regulasi nantinya akan teratasi setelah proses dialektika para intelektual negeri.

Xenofobia yang barangkali menjadi tantangan utama. 'Penyakit' ini bukan hanya diderita kaum awam, bahkan intelektual kampus mengindapnya. Sekaliber Donald Trump yang kini menjadi Presiden Amerika Serikat sekalipun melontarkan kalimat xenofobia, bahkan cenderung rasis.

Di Indonesia, sentimen Arab dan Cina serta asing pada umumnya menjadi bagian propaganda politik. Sebagai negara yang pernah dijajah secara fisik, wajar saja xenofobia masih melekat dalam jiwa dan pemikiran rakyat Indonesia.

Hal itu diperparah dengan realitas berkuasanya etnis keturunan Cina di bidang ekonomi. Bukan hanya di bidang ekonomi, di bidang agama xenofobia juga terjadi. Dan sekarang di bidang pendidikan.

Kita terlalu takut bersaing meski persaingan sejatinya tak bisa dihindari. Bukannya meningkatkan kapasitas diri dan bangsa, kita malah meningkatkan dosis ketakutan akan asing. Padahal kita diciptakan bersuku dan bangsa untuk saling mengenal.

Menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi calon rektor asing. Di antara syarat yang diajukan, misalnya, calon rektor harus memiliki jaringan yang baik di kalangan profesional.

Selain itu, harus memiliki pengalaman dalam memimpin perguruan tinggi di luar negeri. Dan harus memiliki pengalaman dalam menerbitkan publikasi dan riset. Bahkan menurut M. Nasir, kampus yang menerima rektor asing akan mendapat tambahan anggaran.

Melihat syarat yang harus dimiliki calon rektor asing, kita harusnya membebaskan diri dari xenofobia. Apalagi pihak kampus akan mendapat keuntungan terutama peningkatan kualitas. Xenofobia hanya menjadi penghambat kemajuan pendidikan tinggi kita.

Kita harus mampu membedakan antara asing yang ingin menguasai sumber ekonomi dan hajat hidup orang banyak dengan asing yang malah menguntungkan kita. Rektor asing malah akan memicu para guru besar agar berbenah diri. Mereka tidak lagi jumawa dengan posisi sekarang karena orang lain yang bisa jadi lebih baik dari mereka.

Jangan alergilah dengan kemampuan orang lain yang lebih baik. Justru kita harus dapat menyerap ilmu dari mereka. Tak peduli apa pun kebangsaan mereka, yang terpenting prestasi dan ilmu mereka. Jangan menutup diri.


Tidak ada peradaban sebuah negeri yang dilahirkan dari xenofobia. Terkadang aneh terjadi, benci orang asing namun cinta pada produk asing. Berapa banyak mereka yang xenofobia rektor asing namun senang dengan barang-barang impor?

Paradoks ini yang menurut saya merupakan hasil propaganda politik. Pikiran kita ditanam kebencian bangsa lain, namun di saat yang sama begitu mencintai produk asing. Justru ini yang salah.

Melawan xenofobia harus dimulai dari hati yang jernih dan pikiran terbuka. Harus mencontoh pendahulu kita yang terbuka pada bangsa lain. Mereka menerima orang lain yang dianggap memiliki peradaban lebih tinggi.

Tidak usah jauh-jauh, negeri jiran (Malaysia) pernah impor guru dari kita. Kini mereka lebih maju ketimbang kita. Momen impor rektor harus kita jadikan kebangkitan perguruan tinggi kita. PT (Perguruan Tinggi) kita harus menjadi destinasi studi bagi negeri lain pada waktunya.

Jika kemarin dan hari ini kita mengekspor pelajar ke luar negeri, maka nantinya Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika yang akan ekspor pelajar ke Indonesia. Bayangkan bila nanti pelajar-pelajar asing membanjiri Indonesia, mereka menjadikan Indonesia sebagai pusat ilmu pengetahuan. 

Ah, Anda bermimpi. Tidak ada yang salah dengan mimpi itu. Anda ingin itu terjadi? Singkirkan xenofobia.

Artikel Terkait