Mahasiswa
2 tahun lalu · 175 view · 4 menit baca · Ekonomi food-healthy-vegetables-potatoes-large.jpg

Wujudkan Berdikari Ekonomi di Tengah Arus Globalisasi

Sebagai negara Agraris sekaligus negara Maritim sudah barang tentu Indonesia menjadi magnet bagi negara-negara lain, termasuk negara-negara besar yang memiliki kans modal (Kapital) cukup besar, untuk menikmati keindahan dan kelimpahan sumber daya yang ada. Tak ayal negara adi daya seperti Amerika Serikat beserta sekutu-sekutunya berbondong-bondong melirik indonesia sebagai wilayah strategis untuk menanamkan investasinya secara besar-besaran.

Sebagai pintunya undang-undang tentang penanaman modal asing (PMA), yang memberikan keleluasan dan kebebasan sebesar-besarnya kepada Asing untuk menanam sahamnya keberbagai sektor produktif. Untuk di eksploitasi habis-habisan, sehingga sebagian besar perusahaan mengelolah sumber daya alam adalah milik Negara Industri. Tangan-tangan besar seperti International Monetery Fund (IMF) Bank Dunia (Word Bank) dan Word Trade Organization(WTO) sebagai perpanjangan langsung dari kepentingan besar pula.

Sumber daya alam yang melimpah mulai dari daratan, kandungan bumi dan isi lautan, Bukan lagi sekedar basa-basi belaka. Akan tetapi merupakan fakta objektif, yang tak terbantahkan lagi keberadaanya. Kekayaan alam dan keanekaragaman tersebut dapat memberikan sumber kehidupan yang layak bagi kemajuan masyarakatnya indonesia secara keseluruhan. Dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) negara mampu menjadi negara yang stabil dan kuat, Membangun perekonomian kemandirian yang berorientasi pada kemajuan ekonomi kerakyatan.

Namun sangat disayangkan sekali sederatan cerita panjang indonesia tentang kekayaan sumber daya alam maupun lautan, tidak lebih dari narasi besar cerita pemanis bibir untuk menina bobokan warga masyarakat. Terlena lalu terhempas oleh serakahnya hasrat politik para elit, yang menjual sebagian besar Aset negara seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai sumber pendapatan negara (Devisa).

Sebagai dalangnya dalam menskenariokan settingan politik, tentu mafia berkeley yang sudah dicuci otangknya oleh asing memiliki peranan penting dalam menggolkan setiap agenda berbau Asing. Bahwa ekonomi produktif indonesia harus diarahkan pada apa yang disebut sebagai ramah terhadap pasar (market friendly), namun melupakan kesan bahwa pasar selalu berorientasi pada keuntungan (profit) walaupun mereka melibatkan organisasi berkelas internasional sebagai jembatan.

Berdikari atau dijajah

Gagasan yang dibangun oleh bapak Proklamator Indonesia Ir. Soekarno “berdiri diatas kaki sendiri” merupakan suatu keharusan ditengah melemahannya ekonomi bangsa indonesia. globalisasi menuntut adanya pasar global (Global Market) yang meniadakan batas-batas wilayah geografis atau dunia tanpa batas.

Sekat-sekat wilayah di anggap sebagai hambatan dalam meningkatan perkembangan pasar, sehingga globalisasi dapat disebut sebagai penjajahan model baru oleh negara imperialis kepada negara dunia ketiga. Keterbukaan dan kebebasan (Liberalisasi), di anggap sebagai keniscayaan bagi pertumbuhan ekonomi negara terbelakang. Namun justru meninggalkan lubang jurang (kesenjangan) yang dalam antara negara penjajah dan terjajah.

pesatnya barang-barang impor menyerang perekonomian indonesia, sehingga pasar lokal banyak yang gulung tikar oleh karena ketidak mampuan bersaing dengan pasar bebas. Dimana Pasar bebas (free market), menekankan bahwa peran negara dalam pengambilan kebijakan maupun intervensi secara langsung terhadap keberlangsungan pasar di minimalisasikan bahkan sampai pada titik yang paling ekstrem yaitu dihilangkan sama sekali perannya.

Sehingga membiarkan pasar sendiri yang mengatur naik turunnya harga. Karena sebagian pemikir Ekonom Liberal menganggap ketika negara ikut campur mengurusi dapur pasar, maka pasar akan mengalami gangguan peningkatan pendapatan perusahaan swasta atau individu. Jadi biarkan pasar sendiri yang mengaturnya melalui tangan-tangan tersebunyi (Invensible Hand).

Gagasan yang dibangun oleh pemikir ekonomi klasik David Ricardo dan Adam Smith, menemukan relevansinya di indonesia. dimana peran negara hampir sebagai penunjang kepentingan pasar bebas, dan membiarkan ekonomi lokal lusuh dan layu sebelum tumbuh.

Harusnya pemerintah mengambil langkah insentif untuk menolong pelaku ekonomi dalam negeri, dengan membuatkan regulasi yang pro terhadap rakyat. Bukan malahan menjadi perpanjangan tangan secara langsung bagi kepentingan negara imperialis, yang eksploitatif dan menindas.

Pemerintah harusnya dapat belajar dari sejarah, ketika ekonomi dalam negri mengalami krisis moneter yang sangat akut di ditahun 1997. Harga-harga melambung tinggi, kurs mata uang rupiah melemah dan justru dolar mengalami peningkatan yang cukup drastis.

Sehingga kesenjangan sosial antara yang kaya dengan yang miskin sangat dramatis adanya, perusakan dan penjarahan marak terjadih oleh karena ekonomi tidak stabil. maka munculah konflik antara sesama rakyat dan pemerintah, yang berujung digulingkan kekeuasaan rezim Soeharto yang dikenal dengan Reformasi 1998. Justru orang seperti jos Sorroslah yang menikmati keuntungan dari krisis moneter, mengambil semua sahamnya lalu pergi meninggalkan duka.

 Undang-undang tentang Penanaman Modal Asing, menjadi senjata ampuh bagi kapitalis untuk menjarah sebagian besar dari kekayaan sumber daya alam (SDA) kita yang melimpah. Free Port dipapua Tambang Emas terbesar didunia, Newmont di sumbawa besar (NTB) Minahasa disulawesi dan beberapa tambang lain seperti di Kalimantan, Sumatra dll.

Secara geografis merupakan sah milik indonesia, namun yang menguasainya adalah perusahan besar asing yang telah bercokol lama. Kalaupun ada warga setempat bekerja ditambang itupun menjadi pekerja kuli serabutan, dengan kontrak kerja beberapa tahun. Setelahnya itu dibuang, karena sangat tidak mungkin buruh kasar ditempatkan diposisi manajer, staf ahli, mandor dan sebagainya.

Kalau saja kekayaan alam yang melimpah tersebut, dimanfaatkan sepenuhnya oleh negara sebagai mana terurai dalam bunyi undang-undang dasar 45 pasal 33: ayat 2 dan ayat 3 yaitu:

(2). Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. (3).  Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Penulis berpendapat bahwa tidak akan ada lagi kesenjangan sosial yang terjadi, oleh karena negara dapat memberikan kesejahteraan melalui pemerataan dan distribusi ekonomi yang adil dan sehat kepada warga masyarakat. aset-aset negara yang sudah terlanjur dikelolah oleh perusahan asing, dinasionalisasikan demi kepentingan nasional dalam negri.

Karena bangsa ini tidak bisa berharap banyak melalui pajak yang dikenakan kemasyarakat utk mengelolah negara sebesar indonesia ini. Namun harus ada upaya yang cukup serius untk mengembalikan Marwah dan kedaulatan ekonomi, sehingga negara ini memiliki Martabat dan tidak menjadi buruh murah dan budak dinegri sendiri. Kalau ingin negara ini menjadi negara yang berdaya saing, maka lakukan Nasionalisasi sekarang juga.

Artikel Terkait