“Dalam keadaan apa pun, Rendra senantiasa menyihir kita lewat kata-kata.” ~ Sapardi Djoko Damono

Selain mengenang Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, saya mencoba mengenang penyair maestro W.S Rendra yang juga mangkat pada Kamis, 7 Agustus 2009. Ia begitu berjasa bagi kemerdekaan manusia dari keterkungkungan penindasan lewat puisi-puisinya yang lantang. Sesungguhnya ia masih ada hingga saat ini lewat karya-karya yang diwarisinya.

Realitas sosial saat ini kerap terlepas dari pengembaraan “kata-kata”. Saya coba mengutip apa yang dilihat dari Sapardi sendiri tentang seorang Rendra. Sapardi mencoba meyakinkan kita sekalian bahwa kekuatan syair-syair Rendra selalu tegar, menggema, dan menggugah siapa saja yang bersentuhan dengannya. Hal ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

“Kata-kata” (puisi) dari penyair maestro ini masih hangat dan relevan hingga saat ini dan entah sampai kapan. Kekuatan sajak-sajaknya seakan memiliki sebuah bentangan yang tak dapat terbendung.

Rendra mencoba menembus batas-batas kemanusiaan kita menuju sebuah kehidupan reflektif yang dapat dikata berada pada mahligai tertinggi kehidupan kita. Ia memiliki kekuatan tersendiri untuk menyulap kita melampaui kedaulatan dan kemerdekaan sebagai manusia. Hal ini bisa dilihat di dalam kumpulan puisinya berjudul “Doa untuk Anak Cucu” dan beberapa antologi lainnya.

Puisi-puisi tersebut seakan memunculkan suatu kesadaran dan gerakan untuk mempreteli kekuasaan otoritas pemerintah yang terjadi saat pemerintahan Orde Baru. Ia tidak banyak bermetafor di dalam puisi-pusinya. 

Blak-blakan dari syair-syairnya memicu rezim Orde Baru saat itu untuk memenjarakannya selama beberapa bulan. Adapun kumpulan puisi judul Pamflet Penyair sekitar tahun 1970-an dan awal 1980-an dilarang oleh rezim Orde Baru untuk terbit.

Namun, mekarnya saja-sajak itu dalam kalangan masyarakat tidak terbendung. Sajak-sajaknya tetap mengalir dan dihidupi oleh masyarakat luas, bahkan Pamflet Penyair berhasil diterjemahkan dalam bahasa Belanda oleh A. Teeuw dan diterbitkan dengan judul Pamfletten van een Dichter.  

Selain sebagai penulis syair, Rendra juga sering bermain teater. Kebangkitan teater sebagai wadah untuk Rendra berekspresi ditandai dengan acara selamat yang diadakan Rendra akhir Januari 1986. Di dalam ekspresinya berteater, penyair yang dijuluki Burung Merak ini masih mengekspresikan masalah-masalah serius tentang kemanusiaan, waktu itu.

Melihat realitas yang terjadi saat itu, Rendra tak sungkan-sungkan membongkar kekelaman yang dibendung penindasan di negeri ini. Tentunya, tidak ada kepentingan lain selain menyuarakan arah perjuangan kemanusiaan di negeri ini. Selain itu, Rendra cukup kuat mendeskripsikan berbagai problem yang terjadi dalam bentuk sastra (puisi) yang sangat indah dan bermakna.

Ungkapan-uangkapan simbolis yang menyeruak seakan menjadi kekuatan tersendiri bagi pejuang-pejuang “kemerdekaan” dalam segala aspek kehidupan masyarakat saat itu.

Sumbangan yang sangat berarti dalam sejarah perkembangan kepenyairan di tanah air diberikan oleh Rendra dengan konteplasinya yang sangat dalam. Rendra dalam usia remaja pun sudah belajar tenggelam dalam eksperimen simbolistis, imagistis, dan surealis. Namun, pada akhirnya ia tidak berkutat di situ saja. Ia keluar dengan pandangan-pandangan baru tentang kehidupan sosial.

Kita dapat kembali membuka buku-buku puisinya dan masuk ke dalam sajak-sajaknya bertema sosial-politik yang didesain dengan skematis dan metofora-metofora berwujud yang benar-benar terjadi dan sangat indah kata-katanya, meminjam istilah Joko Pinurbo, “Puisi adalah bunyi.”

Rendra tidak saja mengultuskan puisi sebagai keindahan yang mewarnai hidupnya. Namun, ia mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan: mencintai alam dan sesama yang begitu dihayatinya. Tuntutan akan nilai kehidupan inilah yang memacunya terus menyuarakan apa yang menjadi keluhan masyarakat jelata dan masyarakat akar rumput.

Selain itu, ia mengemas hidupnya dalam lingkaran kebudayaan yang kuat. Sebab, di dalam budaya, ia dapat menginternalisasi proses kehidupan yang lebih hidup, dan itu yang menjadi terlupakan oleh petinggi-petinggi negeri ini. Politis tidak lagi etis. Memperjuangkan kepentingan sendiri.

Dalam sebuah puisi Rendra berjudul “Pertanyaan Penting” yang tercantum dalam kumpulan puisi “Doa untuk Anak Cucu”, menyodorkan sebuah warna keluhan amat mendalam terkait kebijakan-kebijakan petinggi negara ini yang belum mampu menjaga dan mengayomi masyarakatnya. Indikatornya jelas, pada masa itu, tahun 1998, terjadi kekerasan-kekerasan yang berimbas pada hilangnya nyawa insan.

Sungguh, manusia sangat “diinjak-injak” pada masa itu. Misalnya; kerusuhan bernuansa etnis yang terjadi di Jakarta dan merebak ke beberapa daerah di Indonesa. Kerusuhan ini dipicu dari insiden Trisakti sehari sebelumnya, di mana empat orang mahasiswa Universitas Trisakti ditembak oleh aparat yang waktu itu berjaga di atas jembatan layang (flyover) pada 13 Mei 1998.

Di masa inilah Rendra dengan tegar dan berani mengungkapkan isi hatinya lewat puisi-puisi yang lantang. Ia melihat ketidakadilan sebagai senjata yang memenggal demokrasi di negeri ini.

Pada masa yang cukup kuat rezimnya untuk mengalihkan karya-karya sastra sesuai dengan kebijakan dan tujuan negara, Rendra malah berkecimpung di dalam realita sosial masyarakat kecil. Ia menguakkan “amarahnya” lewat berbagai syair yang ia ciptakan dengan sangat apik dan tajam. Meskipun demikian, segera sesudah menelisik fenomena itu, tilikannya cukup tajam, dan nada kemarahan di dalamnya terasa murni.

Realitas Masa Kini

Selain menghayati karya-karya Rendra, harapan besar yang harus kita punya adalah terus mengupayakan perkembangan sastra dan mampu menciptakan komunikasi lewat sastra. Penulis melihat ini sebagai sebuah ‘benang merah’ untuk menggeluti kehidupan di era yang tak kalah porak-poranda ini.

Rendra tidak saja mengkritisi pemerintah tetapi pada umumnya ia mengkritisi realitas sosial yang kerap terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Korupsi di mana-mana, penistaan agama, pemerkosaan, pencurian dan lain-lain adalah tipologi sosial yang menghantui masyarakat. Lalu, apa yang kita hidupi dari Rendra yang sudah satu dekade mangkat?

Secara hermeneutik, kita diharapkan lebih telisik melihat karya-karya Rendra dan relevansinya untuk masa kini. Ada beberapa problem sosial yang secara langsung masih berkutat di dalam kehidupan masyarakat sekarang ini. 

Selain itu, upaya untuk menggaungkan sastra ke seluruh saentero juga terlihat begitu tersendat-sendat. Generasi milenial cukup gagal dalam mewarisi kepribadian Rendra dalam kelantangannya menyuarakan aspirasi kaum tertindas.

Oleh karena itu, peran bahasa sangat penting. Kehidupan manusia sehari-hari tidak pernah lepas dari bahasa, khususnya dalam percakapan. Maka, kita perlu senantiasa terus-menerus menafsirkan bahasa. Di dalam sajak-sajak Rendra, tergambar sedikit kerumitan yang membutuhkan kontak batiniah untuk menyelaminya. Artinya, ada sajak-sajak yang diciptakannya terkonteks.

Dalam sebuah diskusi pembedahan buku “Sendu di Desa” karya saya sendiri, di Klaten, seorang pembedah dengan ragu-ragu menilai karya-karya saya sangat bertentangan dengan regulasi rezim saat ini, atau tepatnya banyak mengkritik pemerintah. Namun sejujurnya, apa yang telah saya tuangkan dalam karya-karya itu adalah imajinasi yang secara spontan muncul dalam setiap pengamatan saya.

Pada halaman pertama, saya menulis tentang Rendra—judulnya “Mengenang Rendra”. Dalam puisi tersebut, saya melihat bagaimana Rendra berusaha melawan penindasan dan kemandekan pembangunan untuk seluruh wilaya Indonesia.

Saya pun mengaitkannya dengan apa yang saya lihat sendiri di desa-desa, khususnya di Indonesia Timur  yang masih diketerbelakangkan. Pembangunan jalan, listrik, dan air bersih sungguh jauh dari mata masyarakat.

Selain itu, di dalam sajaknya berjudul “Maskumambang”, ada semacam tangisan dari dalam dada Rendra yang mengaimini generasinya sebagai generasi pongah. Di dalam sajak itu, terlihat kelayuannya untuk bertindak sebagai manusia di dalam rezim yang mencekam. Tersiar beberapa fenomena yang terjadi saat ini, ada berbagai persoalan yang sungguh mewakili apa yang menjadi air mata Rendra itu.

Saya lebih melihat bentuk-bentuk kekerasan di dalam negeri ini sebagai representasi dari realitas saat ini. Beberapa hari lalu, di kepulauan Riau terjadi pemerkosaan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan. Hal yang sama terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Sedangkan, di Aceh terjadi kepemerkosaan terhadap nenek lansia.

Dalam satu dekade ini, sejumlah perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme terjadi di negeri ini sembari di daerah-daerah lain sangat mengharapkan perhatian akan pembangunan. Sungguh, keadilan sosial bagi masyarakat dikungkung demi kepentingan pihak-pihak tertentu. 

Pada titik ini, saya menemukan Rendra “berdoa” dengan sungguh-sungguh. Ia melihat kemegahan negeri ini hanya milik segelintir orang.

Pandanglah kehidupan bangsa
Telah terjadi tata nilai rancu.
Dusta, pencurian, penjarahan, 
Dan kekerasan halal. 

Di dalam bait yang saya kutip dari puisi berjudul “Kesaksian Akhir Abad”, sungguh mendeskripsikan sebuah fenomena yang sangat ironi di negeri ini. Banyak kekisruhan yang ditonjolkan oleh manusia. 

Negara hanya mapu menyelesaikan persoalan-persoalan yang kasat mata. Sedangkan akar permasalahan terus tumbuh dan berkembang. Sarana-sarana kemerdekaan kehilangan makna.

Dari puisi-puisi Rendra yang tersebar, kita seakan dibawa untuk mengarungi upaya prapaham untuk melihat persoalan-persoalan yang digambarkan oleh Rendra. Persoalan-persoalan itu sungguh menjadi milik kita bersama. Persoalannya bukan bagaimana melenyapkan problem yang ada (kelihatan), namun melihat lebih dari  sudut pandang kemanusiaan yang tajam untuk mengusut apa penyebabnya.

Untuk mengembalikan martabat manusia di dalam negara ini, kita harus sepakat bersama, mencintai dan memelihara budaya kita. Politikus harus etis dan memberikan kemerdekaan penuh kepada masyarakat kecil. Melihat sisi-sisi kemanusiaan dari aspek empati. Pancasila yang menjadi dasar negara harus senantiasa dirasakan oleh semua kalangan masyarakat.

Ketika sampai pada titik ini, Rendra juga berupaya untuk mengembalikan apa yang menjadi persoalan besar negara ini dengan doanya. Ia menulis sebuah puisi pertobatan pada pertengahan 2009.

Tuhan, Aku Cinta Pada-Mu
Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tak sambat rasa sakit
Ata gatal.

Aku ingin makan tajin
Aku tidak pernah sesak napas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
Untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tunuhku
Dari racun kimiawi.

Aku ingin kembali ke jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah.
Tuhan, aku cinta pada-Mu.

Selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Semoga kemerdekaan sungguh dirasakan semua insan.