A country that does not know how to read and write is easy to deceive. ~ Che Guevara.

Pada April 2019, saya bergabung dengan media siber berbasis pengguna yang bernama Qureta. Awalnya, ketertarikan ini jelas dipicu oleh lomba penulisan esai tentang kertas yang diselenggarakan pihak Qureta bekerja sama dengan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas.

Lomba yang bertema Kita dan Kertas tersebut diselenggarkaan mulai tanggal 1 April hingga 15 Juni tahun 2019 yang lalu dengan beberapa topik yang ditawarkan serta mempunyai bentang kekuatan esai sebanyak 1000 - 2000 kata.

Uniknya, pihak panita lomba memberi kebebasan untuk menulis sebanyak banyaknya dengan tetap berpegang teguh pada ketentuan di atas. Kebebasan ini sangat baik untuk peserta dalam mencurahkan ide-idenya yang bisa saja tidak tunggal dan hanya terbatas pada satu tema esai saja.

Dan, saya pun mendapatkan juara pada kategori 5 nominasi terbaik. Tulisan yang saya ikutkan lomba sebanyak empat judul dari empat tema. Ini cukup membuat bangga, mengingat Qureta mempunyai reputasi yang cukup tinggi dalam hal identitas konten dan mutu redaktifnya.

Lomba ini cukup banyak memberikan manfaat bagi saya. Terutama tentang pelajaran penting akan keindahan dan kenyamanan keterbacaan sebuah paragraf dalam sebuah tampilan layar gawai.

Peserta harus kreatif menyusun paragraf yang beraturan 4 - 5 baris tersebut agar enak dibaca pembaca yang rata-rata menggunakan gawai.

Sepertinya sepele. Namun, cukuplah menyulitkan. Terutama dalam hal keterkaitan kalimat agar tidak terkesan putus kemaknaannya. Peserta dituntut untuk piawai dalam membuat paragraf ramping yang efesien dan padat makna.

Setelah itu, saya tertarik untuk terus menulis di media tersebut. Maka dari itu, saya jadikan ini semua sebagai sebuah komitmen.

Dengan berbagai pertimbangan akan banyaknya keuntungan pengetahuan akan konten-kontennya yang bermutu serta ilmu-ilmu teknis kepenulisan yang dapat kita ambil manfaatnya saat tulisan lolos moderasi yang digawangi tangan dingin seorang editor andal yang bernama Maman Suratman itu.

Komitmen saya untuk terus menulis di Qureta juga bertujuan untuk meneliti apa yang disebut dengan writer’s block.

Beberapa pengertian tentang writer’s block saya dapatkan dengan mengerucut pada satu pengertian umum, yaitu jalan buntu ide-ide dalam menulis. Teringat lagu Dewa 19 yang berjudul Kuldesak, sebuah jalan yang buntu, atau gang buntu; lebih kerennya lagi, dead end.

Artinya, kesulitan ide dalam menulis bagi siapa saja itu adalah hal wajar. Writer’s block tidak ada kaitannya dengan kemampuan teknik kepenulisan, tetapi berhubungan erat dengan tuangan ide yang buntu, alias kehabisan ide-ide yang bisa berupa judul, tema, topik, konten, hingga finishing.

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa komitmen saya adalah membawa misi sampingan, yaitu penelitian tentang writer’s block secara pribadi saja. Artinya, saya sendiri sebagai objek penelitian.

Dengan sebuah perlakuan terhadap objek yang berupa kewajiban pribadi untuk membuat satu tulisan per hari yang tentunya juga harus lolos moderasi Qureta yang terkenal sadis itu.

Perlakuan ini sudah membuat total tulisan sebanyak 149 judul dengan perincian: 119 judul tulisan di Qureta, 11 judul di Berita Baru, dan 19 judul di Nalar Politik dalam rentang waktu kurang lebih 6 bulan yang dimulai pada 1 Mei 2019 hingga 30 November 2019.

Kalau dibuat rerata, 180 hari dibagi dengan 149 judul tulisan, maka hasilnya dalam kisaran nilai 1,2 poin. Artinya, saya mampu membuat satu judul tulisan per hari dalam kerapatan waktu 180 hari yang hampir berturut-turut.

Jika hasil ini dihubungkan dengan pengertian produktivitas menurut Smith dan Wekeley (1995), di mana produktivitas adalah produksi atau output yang dihasilkan dalam satu kesatuan waktu untuk input, maka bisa dikatakan bahwa saya cukuplah produktif.

Dengan hasil ini, secara pribadi, saya mampu menepis tentang momok penulis yang bernama writer’s block itu.

Bagi saya, tidak ada trik khusus dalam menghasilkan satu judul tulisan per hari. Sebagaimana ramai dan banyaknya trik-trik menghadapi writer’s block yang dituliskan para motivator yang banyak Anda dapatkan di berbagai media.  

Kuncinya hanya semangat membara saja serta cukupnya waktu untuk menulis. Atau, kalau dipaksakan untuk membuat sebuah motivasi, maka akan saya tuliskan dengan jelas dan ekstrem: One day one article, more religious than one day one verse (whatever your holy or horny book).

Writer’s Block, menurut versi saya, adalah ketika jemari Anda sedikit pun tak berusaha memencet keypads. Atau, ketika sudah beberapa kali melakukan ketukan di tombol-tombol itu, tetiba saja, Anda ditakutkan akan mutu tulisan yang dibuat.

Membayangkan bahwa tulisan Anda akan dimoderasi layaknya skripsi ataupun tesis. Ingat, Anda berada di wilayah kepenulisan populer yang serius tapi santai. Tulis saja dengan hati yang riang gembira sambil menikmati cemilan atau kopi yang terhidang di meja Anda.

Ketika berbicara kualitas dan mutu tulisan, maka dapat dikatakan bahwa Anda sudah terjebak pada nilai probabilitas. Tulisan bisa saja tak bermutu bagi satu pihak, namun bermutu bagi pihak lain.

Untuk urusan ini, sebaiknya Anda maju tak gentar saja. Biarkan editor akan memperlakukan tulisan Anda sesuai dengan hak prerogatifnya.

Untuk urusan kelancaran ide, banyaklah membaca dan berpetualang tentang apa saja. Mulailah dengan ide-ide nyata, logis, dekat, serta sederhana yang banyak berserakan di sekitar Anda. Kemudian kita perluas perimeter ide dari nonfiksi hingga tingkat parameter fiksi.

Menyelingi tulisan dengan pola esai-fiksi-esai cukuplah membuat penyegaran ide tulisan. Atau, istilah sederhananya, untuk "bernapas". 

Jangan pernah ketinggalan momentum. Ini sangat penting untuk menjaga tren produktif dan kemenangan ide. Jangan pula pernah menunda ide. Artinya, jika ide menyambar, langsung tangkap dan tulis sebagai judul atau tema pendek.   

Hal lain yang tak kalah penting adalah jangan pernah merasa terbeban tentang keterbacaan tulisan Anda. Paling tidak, tulisan Anda sudah dibaca oleh Anda sendiri dan editor, hehehehe.

Tidak menjadikan kaku dalam aturan memulai menulis. Anda bisa dari judul yang eksentrik yang akan memantik dan memancing ide, atau gambar pilihan yang menarik untuk diunggah dulu sambil dipandangi hingga merangsang ide tersebut keluar.

Sesekali, beranikan diri menulis di area yang kurang dikuasai untuk merangsang sebuah riset-riset dan pembelajaran baru. Komunikasi antarpenulis Qureta juga bisa memancing ide. 

Anda bisa membuat konternarasi pada tulisan-tulisan yang sudah terbit di Qureta. Atau sebaliknya, mendukung sebuah judul tulisan dengan memberikan penguatan dan apresiasi dengan tulisan Anda sendiri.  

Di Qureta, Anda bisa membuat konternarasi kepada tulisan editor sekalipun. Di sinilah istimewanya, dan editor akan tetap berbesar hati untuk terus memberikan moderasi yang tak sepihak, walaupun Anda sudah membuat konternarasi kepadanya.

Inilah salah satu profesionalitas Qureta yang bisa jadi susah didapat di media lain. Sikap editor ini memancing mental penulis petarung yang mengutamakan tujuan penting sebuah konten tulisan daripada rasa dan emosinya. Kata dia: kebenaran itu telanjang!

Jangan pula bolak-balik melirik berapa kata yang sudah ditulis untuk mencapai syarat untuk bisa diunggah. Ini akan mematikan ide serta membuat kebiasaan buruk pada penulisan berikutnya. Anda akan menjadi seorang Seven Hundred Word - Man.

Perlu juga untuk mencoba membuat tulisan yang Anda anggap tabu dan seronok. Ini akan merangsang otak kanan Anda agar supaya tetap bekerja baik dalam menghasilkan ide-ide laten.

Ingat, Qureta sangat memberikan kebebasan tema tulisan yang seluas-luasnya. Ini jarang didapat di media lain yang bisa jadi sok suci.

Akhir kata, saya mohon maaf atas kelancangan yang sok-sokan jadi motivator dan peneliti ini. Sungguh tak pantas bagi saya yang masih berjuang juga melawan Writer's block.

Ini semua hanyalah bagian dari menjaga momentum saja, khususnya untuk saya pribadi yang bisa jadi hari ini hampir kehabisan ide juga. Semoga tulisan ini menjadikan Anda dan saya untuk tetap bisa bertahan menulis dan menulis lagi.