69141_12392.jpg
Foto: Madame Tussauds Hong Kong
Hiburan · 4 menit baca

Wow! Jokowi Akan Perankan Darsam di Film ‘Bumi Manusia’

Sebuah kabar satire beredar. Presiden Jokowi akan ikut main film Bumi Manusia garapan sutradara Hanung Bramantyo. Ia akan perankan tokoh Darsam, sosok pendekar sangar, abdi setia Nyai Ontosoroh, di novel epik Pramoedya Ananta Toer.

“Hepi banget saya. Pak Jokowi mengajukan diri untuk berperan sebagai Darsam di film Bumi Manusia yang akan saya garap,” kata sang sutradara di kabar itu.

Hanung juga disebut tidak perlu repot-repot bikin casting dan segala macamnya lagi untuk Jokowi. Sebab, bagi Hanung, Jokowi punya mental pemimpin sejati, yang tentu senantiasa akan meringankan beban rakyatnya—dalam hal ini, beban Hanung mencari para pemain bertalenta.

Ada dua alasan mengapa Jokowi dikabarkan ingin terlibat dalam penggarapan film Bumi Manusia yang rencananya akan tayang 2019 itu. Pertama, karena ketidakpuasan Jokowi jadi Youtuber sekelas Young Lex. Jokowi, katanya, ingin melebarkan sayap sebagai bintang film kenamaan masa depan.

“Sudah lama beliau punya keinginan untuk menjadi bintang film. Setahun lalu, beberapa staf ditunjuk khusus untuk melakukan riset tentang perfilman Indonesia, juga Hollywood dan Bollywood, serta menjajaki kemungkinan di film mana saja Jokowi bisa ambil bagian,” tulisnya.

Alhasil, dari sekian banyak film yang diajukan tim risetnya, Jokowi lebih memilih Bumi Manusia untuk jadi film perdananya. Bahkan, ia dikabarkan pula sudah mengantongi satu judul film Bollywood. "Tinggal Hollywood yang masih belum," katanya.


Alasan kedua mengapa Jokowi greget sekali ikut main film, karena tidak mau kalah dengan Pak SBY. Kita tahu, mantan Presiden RI dua periode ini sudah menelurkan sejumlah album musik ciptaannya: Rinduku Padamu (2007), Evolusi (2009), Kuyakin Sampai di Sana (2010), serta Harmoni Alam Cinta dan Kedamaian (2011)—semuanya diproduksi di masa jabatannya sebagai presiden.

“Begitu-begitu, jiwa seni Pak Jokowi juga tinggi. Kalau Pak SBY bisa menelurkan empat album musik, Pak Jokowi ingin setidaknya membintangi empat film.”

Sindiran Telak!

Ah, namanya juga kabar satire, ya pasti sekadar sindiran belaka. Dan sindiran itu telak!

Pertama, tentu saja, sindiran itu menyasar Hanung Bramantyo yang punya perangai tidak jelas sebagai sutradara film. Bayangkan, novel bernas Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, diterjemahkan serampangan. Bahwa Bumi Manusia, menurutnya, adalah novel yang berkisah tentang anak muda yang lagi galau karena cinta.

“Jadi, kalau dilihat, seandainya yang nulis bukan Pak Pram dan judulnya bukan Bumi Manusia, (inti cerita) Minke dengan Annalies itu hubungan cinta,” tutur Hanung dilansir CNN Indonesia.

“Ada anak muda yang lagi galau dengan dunianya, dunia dengan perubahan yang sangat cepat ini. Tiba-tiba ditantang teman sekolahnya untuk hayuk, berani gak ke rumah itu, ke daerah itu, ada cewek cantik, kita taruhan yuk bakalan suka sama siapa,” paparnya lebih lanjut.

Begitulah tangkapan Hanung atas Bumi Manusia, yang kemudian dinilai sebagai kisah cinta-cintaan belaka. Bahkan, jika dibanding dengan Ayat-Ayat Cinta, novel Bumi Manusia biasa-biasa saja. Membaca Ayat-Ayat Cinta, bagi Hanung, jauh lebih berat ketimbang membaca Bumi Manusia.

“Karena Ayat-Ayat Cinta bicara tentang suami-istri, yang mau berpoligami, ada fitnah, pembunuhan segala macam. Lebih berat Ayat-Ayat Cinta dibanding Bumi Manusia.

Sasaran sindiran kedua adalah pengagum SBY, jika bukan untuk SBY sendiri. Kabar itu menyindir bagaimana orang-orang bangga sekali dengan sejumlah album yang ditelurkan SBY. Padahal, rekam jejaknya sebagai Kepala Negara, yang memang seharusnya untuk itulah ia bekerja, terkesan didiamkan.

Ada banyak kasus korupsi yang melibatkan, baik langsung ataupun tidak, SBY semasa jabatannya. Berbekal kampanye “Antikorupsi”, alih-alih menurun, praktik korupsi malah semakin menjadi-jadi.

“Korupsi politik tidak menurun di rezim SBY 2009-2014. Justru praktik korupsi politik dominan tergambar di sini semakin meningkat,” ungkap Indonesia Corruption Watch (ICW) saat peluncuran buku Jejak Korupsi, Politisi, dan Klan Cikeas tahun 2014.

Apa sebab? Disebutkan ICW lantaran peta korupsi berada di lingkar kekuasaan Presiden SBY. Praktik korupsi terjadi akibat ketidakkonsistenan kepemimpinan politiknya. Ada standar ganda dalam pemberantasan korupsi di zamannya. Banyak inpres atau aturan yang dikeluarkan terkait korupsi, tetapi tidak memberikan implikasi yang nyata.

“Terkait pemberantasan korupsi, kepala pemerintahan (SBY) justru tidak memberikan dukungan penuh terhadap pemberantasan korupsi. Salah satu contoh ketika bicara RUU KUHAP yang diusulkan pemerintah (saat itu).”

Ketidakkonsistenan pemerintahan SBY di masa itu membuat upaya pemberantasan korupsi tampak abu-abu. Selain justru meningkatkan praktik korupsi di tubuh pemerintahan, pelemahan pemberantasan korupsi pun sangat masif. Itu, misalnya, bisa dilihat dalam kasus Cicak vs Buaya, simulator SIM, dan Hambalang.

Hal ini pulalah yang juga dicacat oleh penulis buku Jejak Korupsi, Politisi, dan Klan Cikeas, Jusuf Suroso. Ia memperlihatkan bagaimana kasus korupsi yang terjadi di Indonesia (kala itu) hampir semuanya punya hubungan erat dengan keluarga Cikeas.

“Setiap kasus korupsi, banyak masyarakat yang tidak sadar, ternyata ada hubungannya dengan keluarga, sahabat, kerabat, teman dekat Cikeas.”

Benar. Nama-nama seperti Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, Mohammad Nazaruddin, Boediono, Edhie Baskoro Yudhoyono, dan Sutan Bhatoegana, adalah mereka yang memang punya kedekatan khusus dengan SBY. Ada anaknya, dan sebagian besar adalah kader-kadernya di Partai Demokrat.

Soalnya kemudian, mengapa peneluran sejumlah album musik jadi kebanggaan terbesar untuk SBY? Seolah kontribusinya di bidang seni bisa menambal kebobrokan kepemimpinan.

Sasaran sindiran ketiga adalah para pembenci Jokowi. Kabar satire itu hendak menunjukkan pula bahwa hanya di masa Jokowi-lah warga bisa bercengkrama bebas dengan sosok Kepala Negara. Dan kabar itu, meski terkesan sedikit mengolok, tetapi sebenarnya jadi penegasan bahwa Jokowi bisalah diajak bercanda bareng, tidak kaku.

Selain Gus Dur, apa pernah warga Indonesia leluasa merasakan kedekatan intim dengan Kepala Negara? Nuansa langka seperti inilah yang patut kita pertimbangkan bersama, apalagi jelang Pilpres 2019. Jangan seperti mayoritas warga Jakarta yang “salah memilih” dan akhirnya banyak berujung pada penyesalan. Itu ngerinya bukan main.

Ngomong-ngomong, jika benar Jokowi ingin perankan sosok Darsam, saya rasa tidak masalah juga. Itu malah akan menguntungkan sekali, terutama bagi Hanung yang memang bertujuan mem-film-kan Bumi Manusia demi uang.