Kini kita sudah berada di Era Society 5.0. Banyak perbincangan yang mengarah pada kemajuan global salah satunya yaitu mengenai kebijakan perguruan tinggi. 

Menuju perguruan tinggi kelas dunia menjadi perbincangan yang hangat di kalangan perguruan tinggi. Beberapa tahun terakhir, perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta di Indonesia berlomba-lomba untuk menjadi World Class University atau perguruan tinggi kelas dunia. 

Hal tersebut disebabkan adanya tantangan globalisasi, yaitu perguruan tinggi harus dapat bersaing dengan perguruan tinggi dari berbagai negara. Segala hal yang menjadi indikator dan syarat World Class University menjadi fokus perguruan tinggi di Indonesia. 

Adanya pemeringkatan perguruan tinggi secara internasional merupakan bentuk pengakuan dunia. Mahasiswa dapat menjadikan hal ini sebagai peluang untuk mempersiapkan masa depan yang akan datang agar lebih dikenal di dunia global. 

Standar World Class University ini akan menentukan kualitas dan kuantitas suatu perguruan tinggi. Tidak ada perguruan tinggi yang mau tergerus oleh perkembangan zaman yang semakin maju.

Pemerintah berkonsentrasi pada agenda Pendidikan Tinggi Kelas Dunia atau World Class University (WCU) untuk mengejar ketertinggalan pendidikan tinggi, riset dan SDM (Sumber Daya Manusia) Indonesia dimata internasional. Menristekdikti menegaskan, "Jumlah penelitian dan publikasi ilmiah ditingkat nasional maupun internasional harus diperbanyak. 

Prestasi mahasiswa ditingkat internasional harus ditingkatkan agar masuk dalam rangking 500 universitas terbaik dunia.” . Namun ada pakar yang melakukan keabsahan metode survei dan kutipan yang dilakukan sebagai indikator yang digunakan dalam pemeringkatan dunia yang bobotnya begitu besar sehingga, rentan untuk dimanipulasi. 

Selain itu juga, metode kutipan lebih banyak menjangkau ilmu-ilmu eksakta, jelas tidak dapat menjangkau artikel-artikel sosial humaniora. Indikator-indikator yang yang mereka gunakan sama sekali tidak menunjukkan adanya peran kampus dalam transformasi sosial kultural dan politik dalam sebuah negara. 

Tidak ada indikator yang menyatakan bagaimana kontribusi kampus untuk penguatan budaya modernisasi keagamaan dan memperkuat nilai-nilai nasionalisme, kerakyatan dan lain-lain. 

Oleh karena itu, jika kampus atau perguruan negeri di Indonesia mengikuti kriteria tersebut dapat menyebabkan kurangnya kesadaran nasionalisme dan berbangsa. Oleh karena itu, jika kesadaran nasionalisme dan berbangsa  mahasiswa kurang maka tidak sesuai dengan pilar-pilar Pancasila.

Jika ada perbedaan antara metodologi kriteria dan indikator, dapat menyadarkan masing-masing pihak bahwa setiap pihak memiliki cara pandang yang berbeda satu sama lain dan juga memiliki landasan filosofi dan ideologi masing-masing dalam mendefinisikan kampus yang berkualitas. 

Oleh karena itu, jika ada perbedaan antara metodologi kriteria dan indikator maka perguruan tinggi negeri maupun swasta dapat lebih berkualitas dengan caranya sendiri sesuai dengan filosofi dan  ideologi masing-masing perguruan tinggi.

Selain biaya pendidikan yang semakin mahal juga berakibat pada fungsi pendidikan sendiri. Saat ini pendidikan dimanipulasi sebagai mesin penggerak industri, realisasi, kapitalisme global dan cetak buruh terdidik dan pemasok riset untuk industrialisasi teknologi.  

Biaya pendidikan semakin mahal, maka dominasi asing terhadap pemanfaatan riset dan teknologi di samping ancaman gelombang pengangguran terdidik.

Riset digunakan menggunakan arah dan peta riset sesuai kepentingan barat melalui penetapan kriteria yang dapat dibuat pada jurnal internasional terindeks barat maupun dilihat dari dapat tidaknya riset dikomersialisasi dan wujud perusahaan pemula.

Banyak juga yang menganggap bahwa pendidikan tinggi terbaik mengantarkan pada kemajuan yang semu sementara, akademik hidup dalam kemuliaan palsu. 

Selain itu juga jika suatu perguruan tinggi sudah berperingkat World Class University, ada beberapa pertanyaan yang sering muncul. Apakah masih ada kesempatan bagi yang miskin untuk dapat berkuliah di universitas yang sudah menjadi kelas dunia? 

Dilihat dari fasilitas yang ditawarkan oleh perguruan tinggi yang sudah berpredikat World Class University tentu saja sangat modern, lengkap dan juga mahal. Dengan begitu dan yang pasti kualitas yang sangat bagus. 

Dengan begitu apakah seseorang yang berada di kalangan menengah kebawah masih bisa berkuliah disana? mengingat bahwa banyak warga Indonesia yang memiliki ekonomi di bawah. 

Tidak sedikit pula orang yang cerdas datang dari ekonomi yang lemah. Mereka sadar akan mendirikan dan mereka kekuatan rangka memperjuangkan itu semua. Mental dan semangat tak terpatahkan yang selalu dihadirkan dalam hidup mereka. Bagi mereka uang bukan segalanya. 

Orang-orang seperti ini memperjuangkan hidup sesuai fitrahnya. Harapannya World Class University hadir untuk semua kalangan dan bagaimana sistem pengelolaannya yang dapat menciptakan lulusan yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi di berbagai negara. 

Oleh karena itu, perguruan tinggi negeri atau swasta bisa lebih dikenal oleh dunia internasional. Dan diharapkan dengan adanya World Class University merupakan sebuah mimpi untuk menciptakan kualitas pendidikan di perguruan tinggi negeri atau swasta dapat lebih maksimal dan optimal. 

Dengan tetap memperhatikan mahasiswa dari sudut pandang dan kalangan manapun, sehingga dapat menciptakan lulusan yang mampu bersaing global sesuai dengan visi dan misi World Class University.