Ditengah budaya patriarki yang ternyata masih menggeliat di Indonesia, gender equality menjadi isu yang hangat diperbincangkan di berbagai kalangan. Perempuan kerap kali menjadi topik menarik yang dibahas dalam pertemuan-pertemuan di berbagai tempat.

Berbicara mengenai perempuan, tentu tak asing lagi dengan kata satu ini. Perempuan adalah makhluk ciptaan tuhan dengan segala bentuk ciri fisik dan karakternya sehingga dapat menjadi pembeda dengan laki-laki.

Perempuan menjalankan perannya sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki melalui bentuk penciptaanya yang berbeda, hal inilah yang menjadikan perempuan dan laki-laki dapat berbagi peran dalam kehidupan. Sebelum berbicara lebih jauh mengenai gender equality, terlebih dahulu mari kita pahami apa itu gender dan seks.

Apakah keduanya sama atau berbeda?

Kedua istilah tersebut tentu berbeda konteks maskipun akarnya tetap sama yaitu mengenai perbedaan jenis kelamin. Seks merupakan perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan yang ditandai dengan ciri-ciri fisik yang membedakannya. Ciri-ciri fisik tersebut memiliki fungsi tersendiri sehingga keberadaanya merupakan kodrat dan tidak dapat ditukar atau dihilangkan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Lalu bagaimana dengan gender?

Gender merupakan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan akibat adanya konstruksi budaya masyarakat yang mengakar dari dahulu kala sampai dengan sekarang. oleh karena hasil budaya masyarakat, maka keberadaanya sudah dianggap sebagai suatu yang sakral dan setiap anggota masyarakat dipaksa untuk mengikutinya. yang perlu digarisbawahi adalah bahwa gender dibentuk oleh budaya masyarakat tertentu dan dengan begitu peranannya dapat dipertukarkan satu sama lain.

Contohnya perempuan itu “konco wingking” tempatnya di dapur, kasur dan sumur. Anggapan ini yang membuat perempuan kurang memiliki peran dalam kehidupan masyarakat.

Konstruksi budaya tersebut lambat laun mulai terkikis dengan adanya revolusi pemikiran yang mulai menyertakan perempuan dalam setiap aspek kehidupan. Perempuan zaman sekarang sudah lebih baik dan memiliki akses yang sama dalam pendidikan, masyarakat, dan politik.

Hal itu diatur dengan beberapa Undang-Undang yang sudah menyertakan partisipasi masyarakat terkhusus perempuan dalam keputusannya. Pada bidang politik misalnya, perempuan diberikan jatah kursi 30% dalam parlemen sehingga keterwakilan perempuan dalam aspirasi masyarakat dapat dioptimalkan.

Namun begitu, ternyata masih banyak terdapat kasus ketidakadilan gender yang terjadi pada perempuan. Seperti kekerasan, pelecehan, diskriminasi, bodyshaming, hatespeech dan lain-lain. Kasus-kasus tersebut masih sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan dianggap wajar oleh berbagai pihak.

Dalam berbagai kasus pelecehan terhadap perempuan, seringkali perempuan masih menjadi pihak yang disalahkan atau terdiskriminasi oleh berbagai kalangan. Anggapan perempuan sebagai sumber fitnah, pakaian yang dikenakan terutama jilbab seringkali diasumsikan sebagai penyebab utama tindakan pelecehan tersebut.

“Salah perempuannya sendiri gak pakai jilbab, malam-malam keluar” dan sebagainya masih sering kita dengar dalam perbincangan mengenai kasus ini. Padahal bukankah perempuan disini sebagai korban atas tindakan tersebut.

Emang bener kan yang dibilang diatas, coba kalau perempuan menutup aurat, trus dirumah aja gak akan kejadian hal-hal seperti itu bukan?

Iya, benar. Penulis setuju bahwa yang disebutkan diatas dapat menjadi faktor penyebab dari tindakan pelecehan terhadap perempuan, tetapi banyak faktor lain yang mendorong tindakan pelecehan tersebut. Menurut hemat penulis, faktor yang paling dominan yaitu konstruksi budaya dengan adanya ketimpangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki. Laki-laki menganggap dirinya sebagai makhluk dominan sehingga terkonstruksi secara sosial untuk berlaku dominan dan mendominasi serta memaksakan kehendak terhadap perempuan yang dianggap sebagai makhluk lemah.

Pola pikir manusia dapat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Seseorang dianggap ada karena pikirannya seperti kata ilmuan “Aku berpikir maka aku ada” dan begitupun eksistensi manusia ditentukan oleh akalnya. Akal mampu membuat manusia berpikir mana yang baik dan buruk, benar dan salah serta pantas dan tidaknya suatu perilaku yang akan dilakukan. Maka dari itu gunakan kelebihan itu untuk berfikir bijaksana sebelum bertindak.

Masalah perempuan memang menjadi masalah yang pelik untuk dihapuskan. Bahkan, terkadang sesama perempuan sendiri saling menjatuhkan, bersaing dan bahkan sebagai pelaku ketidakadilan terhadap perempuan itu sendiri. Padahal perempuan memiliki visi yang sama yaitu membuat kita setara dengan kaum laki-laki dan menghancurkan sekte-sekte patriarki yang ada di masyarakat yang merugikan kaum perempuan. Sudah saatnya sesama perempuan saling mendukung keadilan dan kesetaraan gender “Women support women for gender equality”.

perempuan mendukung perempuan ini jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi kekuatan dari perempuan itu sendiri.

Perempuan dapat menjadi subjek pembangunan dengan saling mendukung antar sesama perempuan. perempuan harus selalu bersama-sama karena bersama itu dapat saling menguatkan, bersama itu dapat saling mendukung dan bersama itu dapat saling bekerjasama untuk menciptakan posisi perempuan yang aman, nyaman dan bebas dari ketidakadilan gender serta mampu mengoptimalkan potensi dirinya untuk berkontribusi dalam pembangunan indonesia yang lebih baik.