Sex Tourism? Mungkin istilah ini tidak familiar di telinga masyarakat umum, tetapi sangat familiar di telinga para penggiat ilmu pariwisata. Sex sendiri merupakan bagian dari 4S, yaitu 4 hal yang dicari dan menjadi tujuan para wisatawan dalam melakukan kegiatan wisata. 4S terdiri dari Sea, Sun, Sand, dan Sex.

Sex tourism atau wisata seks didefinisikan sebagai perjalanan yang diselenggarakan dengan tujuan utama untuk memengaruhi hubungan seksual turis dengan penduduk di tempat tujuan. Tentunya hal ini menjadi kontroversi beberapa pihak dan negara.

Budaya seks sendiri sudah sangat umum di luar negeri, terutama di negara-negara Barat. Seks menjadi hal yang wajar dilakukan bahkan umum dipertontonkan di industri perfilman. Selain Barat, negara tetangga seperti Thailand dan Filipina pun juga masuk dalam daftar negara populer untuk wisata seks.

Tapi, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama muslim dan berpegang teguh dengan ajaran muslim, adakah budaya seks terjadi?

Jawabannya adalah, pasti. Meskipun seks bebas jelas dilarang dan dikecam bukan menjadi budaya bangsa, tetapi hal itu tidak dapat dihindari. Terutama dengan gencarnya globalisasi yang membawa turis asing datang ke Indonesia. Turis asing tentunya memiliki budaya berbeda dengan budaya masyarakat Indonesia yang mereka bawa hingga tujuan mereka.

Sea, Sun, Sand, dan Sex menjadi tujuan para pelancong mengunjungi negara bermusim tropis, termasuk Indonesia. Tetapi, tidak semua daerah terbuka untuk bagian seks. Yang ada di benak orang-orang tentang adanya sex tourism pastinya adalah pantai dan Bali.

Bali yang sudah menjadi tujuan wisata dunia dengan pantainya yang ‘eksotis’ banyak dikunjungi wisatawan mancanegara setiap tahunnya. Bahkan, menurut data resmi Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, wisman yang datang ke Bali pada Oktober 2019 tercatat sebanyak 568.067 kunjungan. Jumlah tersebut meningkat dari jumlah kunjungan di tahun lalu.  

Adanya wisata seks di Bali makin dibuktikan nyata oleh sebuah artikel berkaitan dengan sex tourism yang berkembang mengikuti zaman di era globalisasi ini, yaitu teknologi. 

Dengan judul ‘Tinder tourists’: Indonesian sex workers turn to online dating apps for safety and to set their own rules membuat saya tertarik untuk menelusuri artikel itu. Artikel tersebut ditulis oleh Risyiana Muthia dan dipublikasikan di media online “South China Morning Post” pada 2 Oktober 2019.

Risyiana Muthia melakukan wawancara langsung dengan salah satu pekerja prostitusi online menggunakan aplikasi Tinder. Narasumbernya berasal dari Bali, namanya adalah Dewi, berusia 22 tahun, pekerja seks yang sebelum mengenal prostitusi online, melakukan pekerjaannya dengan berbagai upaya dan hati yang waswas.

Upaya dengan menyuap berbagai pihak demi mendapatkan klien hingga upaya dengan memiliki mucikari. Waswas karena polisi bisa kapan dan di mana saja menemukannya lalu memenjarakannya.

Prostitusi online menggunakan aplikasi kencan Tinder ini terjadi karena adanya fitur ‘Tinder Passport’ yang disediakan untuk para pelancong solo mencari teman liburan. Dari situ, para pekerja seks memasang biodata menggunakan kode-kode, khusus seperti emoji keringat tetesan yang menggambarkan cairan tubuh.

Ada juga yang menuliskan akun Instagram sebagai media penyimpan foto provokatif mereka. Profil ini akan banyak muncul di lokasi yang terkenal akan kehidupan malamnya, seperti Kuta dan Seminyak sehingga para klien lebih mudah menemukan ‘penjualnya’.

Dengan cara seperti ini, dalam wawancara, Dewi mengungkapkan bahwa ia merasa lebih nyaman dan aman. Karena ia tidak merasa selalu diawasi polisi dan juga dapat memilih klien sesuai kemauannya dengan tarif yang ia tentukan sendiri. Selain itu, ia juga dapat melakukannya di mana saja.

Lalu, bagaimana prostitusi online bisa menjadi sebuah wisata seks? Kegiatan wisata berkaitan dengan perpindahan tempat seseorang menuju sebuah destinasi wisata. Sex tourism dapat terjadi di suatu tempat yang memiliki kegiatan aktif di malam hari seperti klub-klub di Bali.

Dapat juga terjadi di pantai-pantai yang mayoritas pengunjungnya adalah wisatawan asing. Hal ini karena kebudayaan mereka yang berbeda dengan budaya Bali, dan juga adanya dorongan 4S sehingga memilih pantai di Bali.

Di klub malam sendiri, prostitusi online dapat terjadi karena banyaknya profil para pekerja seks di sekitar tempat itu. Para wisatawan yang datang tinggal mengaktifkan aplikasi Tinder-nya, dan mencari sasaran. Bisa juga mereka melakukan perjanjian untuk bertemu di suatu tempat.

Risyiana pun dalam artikelnya mengungkapkan bagaimana di Indonesia segala bentuk prostitusi, baik offline maupun online, dilarang dan ilegal. Menurut undang-undang Indonesia tentang informasi dan transaksi elektronik, mendistribusikan dan mengiklankan materi pornografi dalam bentuk online dapat dihukum dengan hukuman maksimal 6 tahun dan denda hingga 1 miliar rupiah.

Ia juga melakukan wawancara dengan salah satu wisatawan asing bernama Ben yang juga pengguna ‘tinder tourists’. Ben mengaku bahwa ia tidak tahu di Bali hal itu dianggap ilegal. Ia pun telah datang ke Bali dari negara asalnya, yaitu Jerman setiap musim panas selama tiga tahun terakhir.

Ben menjelaskan bagaimana ia melakukan prostitusi online ini, yaitu melakukan video call dengan wanita cantik yang memasang tarif tertentu dan menunjukkan sikap penggoda.

Jadi, sex tourism atau wisata seks kini bisa juga dilakukan secara online berkat bantuan teknologi yang bernama Tinder. Di mana turis asing datang dari negara asalnya ke Indonesia dengan tujuan Bali selain untuk mendapatkan suasana Sea, Sun, Sand, juga untuk memenuhi nafsunya dalam Sex. 

Hal itu dilakukan dengan datang ke tempat yang terkenal akan kehidupan malamnya lalu mengaktifkan aplikasi Tindernya. Melalui Tinder, mereka mencari pasangan yang memiliki kode-kode tertentu untuk melakukan video call atau bisa juga berjanjian bertemu di suatu tempat.