“Kalau sudah tua begini mau, apalagi yang dikejar selain akhirat.”

“Ya, daripada saya luntang-lantung di rumah, mendingan saya berkegiatan religi seperti ini.”

“Kalau ikut pengajian atau ziarah, saya sih ngerasa lebih sehat, rame juga banyak teman.”

Sliweran, saya sebagai anak muda sering sekali mendengar alasan-alasan seperti itu dari beberapa orang tua ketika berbincang ringan. Memang, pemaknaan segala manis pahit kehidupan sering kali kita dengar sebagai suatu hal yang lekat dengan eksistensi orang-orang lanjut usia.

Akan tetapi, pemenuhan peran sebagai manusia yang berada di fase terakhir kehidupan menjadi cukup dilematis bagi sebagian orang. Keterbatasan dalam melakukan aktivitas akibat perubahan fisik dan psikis yang semakin melemah menjadi salah satu alasan sebagian orang merasa gugup untuk menua.

Di sisi lain, menjadi tua sesungguhnya adalah suatu anugerah. Namun, hal ini juga tergantung pada perspektif masing-masing orang. Setiap individu tentunya memiliki tanggapannya sendiri berkaitan dengan peningkatan usia.

Ada yang justru lebih banyak melakukan hal-hal mengecewakan pada usia lanjut, ada pula yang berubah menjadi lebih sosialis dan religius. Bisa dibilang, hal tersebut dipengaruhi oleh pilihan individu itu sendiri atau lingkungan terdekatnya.

Kita semua paham bahwa tidak semua orang dapat merasakan pengalaman sebagai lansia. Tidak sedikit dari kita yang harus menghentikan langkahnya untuk lebih jauh mengeksplor kehidupan karena dihadapkan dengan takdir. Sebagai manusia, ini lah kodrat yang harus kita tempuh, bukan?

Berbicara tentang kodrat, menua ini sarat akan makna. Berada di tahap terakhir perkembangan kehidupan, seorang lanjut usia akan lebih memilih untuk menemukan makna hidupnya demi mencapai kebahagiaan. Salah satunya yakni dengan meningkatkan pemahaman tentang agama atau religi.

Sebagai nilai dasar kehidupan manusia, agama atau religiositas telah menjadi faktor pendorong kebahagiaan bagi sebagian besar orang. Dalam surveinya, Pew Research Center mengemukakan bahwa orang-orang yang aktif dalam beragama cenderung lebih bahagia dan lebih terlibat secara sosial dibandingkan dengan kelompok non-religius.

Lalu bagaimana dengan lansia? Hal ini tentunya tidak jauh berbeda. Bagi para lansia, agama merupakan media untuk mencapai aktualisasi diri. Agama seringkali mereka anggap sebagai kunci dalam memenuhi kebutuhan psikologis.

Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak hal sulit secara psikis yang akan dirasakan oleh para lansia. Diantaranya seperti adanya tekanan dalam menerima rasa kehilangan yang mungkin seringkali terjadi, ketidaksiapan untuk menghadapi kematian, munculnya perasaan tidak berdaya, hingga merasa bahwa dirinya ditinggalkan.

Seiring dengan berkurangnya aktivitas dan tingginya kemampuan daya beli para lansia, wisata religi menjadi salah satu opsi untuk mengisi waktu luang mereka. Jika kita amati, situs wisata religi memang cenderung banyak dipadati oleh orang-orang yang sudah berusia lanjut. Bentuk wisata religi yang mereka minati pun beragam mulai dari ziarah hingga safari dakwah.

Jadi, apa sebenarnya yang dirasakan oleh para lansia ketika melakukan perjalanan religi?

Secara fisik, tentunya kegiatan wisata akan menjaga fungsi kognitif mereka sehingga risiko mengalami demensia dapat diminamilisasi. Selain itu, aktivitas ringan yang dilakukan ketika melakukan perjalanan seperti berjalan dapat meningkatkan kebugaran secara jasmani.

Wisata religi juga dapat membantu para lansia untuk memenuhi kebutuhan sosialisasi. Dengan berkunjung ke suatu situs religi, mereka dapat bertemu dan saling bertukar cerita, pengalaman, bahkan pengetahuan dengan orang baru.

Secara psikis, perjalanan religi ini utamanya dimaknai oleh para lansia sebagai sarana untuk meningkatkan spiritualitas. Kegiatan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui wisata religi sesungguhnya telah melepaskan lansia dari tuntutan struktur kehidupan duniawi yang selama ini terbentuk.

Jika dianalogikan, wisata religi bagi para lansia dapat menjadi obat penawar yang mujarab. Dengan memperdalam agama melalui aktivitas wisata yang produktif, mereka dapat mencapai ketenteraman secara rohani. Selain itu, penerimaan atas diri mereka pun juga semakin meningkat.

Mengenai hal ini, Tornstam selaku ilmuwan menyebutnya sebagai geotransendence atau penuaan yang positif. Apa sih geotransendence itu? Singkatnya, geotransendence dapat kita pahami sebagai transformasi seseorang menuju kebijaksanaan yang dicapai dengan cara-cara baru untuk memahami kehidupan.

Nah, wisata religi ini merupakan salah satu caranya. Dalam proses geotransendence, para lansia akan memaknai kegiatan wisata religi sebagai sarana untuk mencapai kesunyian dan kedamaian dalam mencapai ketenangan batin.

Melihat dari tampilan situs religi kebanyakan, jenis wisata ini tidak hanya sarat dengan nilai spiritualnya, tetapi juga memiliki daya tarik lainnya seperti sejarah, lanskap alam yang indah, dan arsitektur yang menawan sehingga lansia bisa merasakan pengalaman yang otentik.

Hingga saat ini, lansia masih menjadi pasar utama bagi wisata religi. Tidak hanya beribadah dan berziarah, para lansia juga datang ke suatu situs religi untuk berdonasi, megharapkan kesembuhan, mengingat kematian, dan bahkan menjadi sarana berkumpul dengan teman atau keluarga.

Dari sini kita dapat melihat bahwa banyak dari kalangan lanjut usia yang memaknai wisata religi sebagai bagian dari kehidupan mereka. Jadi, jika ada anggota keluargamu yang sudah menginjak lanjut usia entah kakek, nenek, eyang, uti, ataupun upung, wisata religi merupakan pilihan yang tepat ketika akan merencanakan perjalanan wisata! Selamat mencoba!