Orang Minangkabau khususnya orang Pesisir Selatan bangga dengan etnisnya yang memiliki kekhasan tersendiri. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam peristiwa sejarah harus dipertahankan agar tidak mudah diubah oleh perputaran zaman.

Terpendamnya sejarah Lunang khususnya keberadaan rumah gadang dan makam tua yang terletak di kompleks rumah gadang Mandeh Rubiah adalah perlindungan bagi masyarakat Lunang terhadap rumah gadang dan makam tersebut takut dipindahkan ke daerah Darek tepatnya wilayah Pagaruyung sekarang.

Sejarah ini pun sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Lunang dan wilayah sekitar seperti Inderapura sampai Mukomuko hingga Bengkulu. Maka, setelah adanya Undang-Undang tentang perlindungan tempat bersejarah dibawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat barulah mereka berani membuka tabir sejarah yang telah lama dirahasiakan.

Dalam satu versi sejarah, masyarakat nagari Lunang mengatakan bahwa keluarga Bundo Kanduang, raja yang mengirab itu adalah sering disebut sebagai keluarga pertama Mandeh Rubiah, yang hingga saat ini mempunyai istana khusus pada daerah tersebut.

Kalau bukan karena dibuka jalan lintas Sumatera ke daerah Bengkulu dan transmigrasi di daerah Lunang, maka tabir sejarah Rumah Gadang Mandeh Rubiah tidak akan ditemukan.

Salah satu bukti sejarah yang ada hubungannya dengan kerajaan Pagaruyung itu baru diketahui oleh masyarakat luas yaitu sekitar tahun 1960-an. Sebelumnya, boleh dikatakan hanya masyarakat nagari Lunang saja yang mengetahui kalau yang menghuni rumah gadang itu adalah keturunan Bundo Kanduang.

Selama bertahun-tahun keberadaan Mandeh Rubiah dan Rumah Gadangnya menjadi rahasia bagi masyarakat di nagari Lunang. Hal ini dirahasiakan untuk menghindari pemindahan rumah gadang ke tempatnya yang asli yaitu di daerah Darek wilayah kerajaan Pagaruyung, yang merupakan tempat asal Bundo Kanduang bertahta.

Terbukanya fakta sejarah keberadaan Mandeh Rubiah pada kalangan masyarakat luas terjadi seiring dibukanya wilayah Lunang sebagai daerah transmigrasi nasional pada awal tahun 1970-an, selain dibukanya wilayah transmigrasi tersebut, keluarnya Undang-Undang tentang perlindungan tempat-tempat bersejarah supaya tetap dilestarikan di tempat asalnya.

Dengan adanya Undang-Undang tentang perlindungan benda-benda dan peristiwa sejarah yang digalakkan oleh pemerintah, maka barulah Rumah Gadang Mandeh Rubiah dibuka bagi khalayak ramai dan dijadikan sebagai obyek wisata, khususnya obyek wisata yang menawarkan pengetahuan sejarah dan religi bagi pengunjungnya.

Setelah Rumah Gadang Mandeh Rubiah tercatat sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi, kemudian rumah gadang ini dipugar dan direnovasi tanpa menghilangkan unsur keaslian dan nilai-nilai sejarah yang terkandung dari rumah gadang tersebut.

Destinasi wisata yang terdapat di nagari Lunang adalah Rumah Gadang Mandeh Rubiah sebagai sebagai poros wisata. Uniknya rumah gadang ini terletak antara tiga makam yang membentuk segitiga, yakni makam Bundo Kanduang, makam Cindua Mato, dan makam Rajo Mudo.

Ketiga makam yang dianggap keramat tersebut merupakan penunjang wisatawan untuk berkunjung ke rumah gadang Mandeh Rubiah, Seringkali pengunjung yang datang, mereka singgah ke makam tersebut baik yang hanya sekedar melihat-lihat ataupun ziarah sekalipun.

Masyarakat percaya bahwa tempat kuburan Mandeh Rubiah adalah kuburan Bundo Kanduang dan rombongannya. Masyarakat Lunang menyebut lokasi kuburan Bundo Kanduang adalah tempat kuburan Mandeh Rubiah, disebelahnya terdapat Makam Puti Bungsu dan disebelahnya lagi Makam Dang Tuangku, di kompleks makam ini juga terdapat makam Syekh Malak Ibrahim yang dikenal sebagai penyiar syariah Tarekat Syattariah pertama di Lunang.

Pengunjung atau wisatawan yang datang tidak hanya berasal dari daerah Lunang dan sekitarnya, tetapi ada juga yang datang dari seluruh daerah yang ada di Sumatera Barat, bahkan ada yang datang dari daerah Pesisir Barat Sumatera seperti, Bengkulu, Kerinci dan Jambi. Tujuan mereka adalah untuk memperkaya pengetahuan sejarah dan menikmati koleksi peninggalan masa lalu yang terdapat di rumah gadang.

Pada umumnya, mereka yang datang ke rumah gadang Mandeh Rubiah hanya untuk berziarah, membayar nazar, dan menghadiri perhelatan acara agama dan adat nagari Lunang. Masyarakat memilki keyakinan bahwa kuburan tua dan keluarga Mandeh Rubiah memiliki kekuatan magis. Hal ini tentu menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke rumah gadang tersebut.

Selain rumah gadang dan koleksi benda bersejarah yang ada dalamnya serta makam orang keramat terdahulu yang sering diziarahi pengunjung, ada sebuah tepian mandi yang berada tepat dibelakang rumah gadang yang digunakan sebagai pelengkap dan penunjang ritual, seperti ritual pernikahan.

Sebelum melakukan akad pernikahan kedua mempelai meminta doa restu kepada Mandeh Rubiah. Konon katanya setelah melakukan ritual di pemandian belakang rumah gadang Mandeh Rubiah, masyarakat percaya prosesi pernikahan akan berlangsung lancar dan pernikahan kedua mempelai akan bahagia selama hidup mereka.

Kabupaten Pesisir selatan khususnya nagari Lunang sebagai bagian dari kebudayaan Minangkabau menyimpan banyak potensi cagar budaya, terutama rumah gadang Mandeh Rubiah yang terdapat di nagari Lunang, seluruh benda cagar budaya yang berpotensi untuk dijadikan sebagai obyek wisata yang tersebar di seluruh wilayah Minangkabau sebagian telah didata oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.

Rumah gadang Mandeh Rubiah merupakan salah satu situs cagar budaya yang termasuk kedalam survey dan pendataan cagar budaya yang wajib dilestarikan dan dijaga supaya nilai-nilai historisnya tetap terjaga hingga generasi berikutnya.

Rasa cinta dan bangga terhadap kebudayaan sendiri, adat Minangkabau beserta cagar budaya merupakan kebudayaan Indonesia yang wajib kita gali.

Keberadan Bundo Kanduang dan istananya di Lunang masih terasa oleh masyarakatnya hingga saat ini, untuk memberikan penghormatan kepada Mandeh Rubiah maka masyarakat melangsungkan tradisi adat dan keagamaan dipusatkan di rumah gadang istana Mandeh Rubiah.

Juga dalam bentuk lain, misalnya mereka sering berkaul ke rumah gadang seperti membayar nazar, meminta obat, meminta doa dan bahkan meminta restu oleh mempelai sebelum melangsungkan akad nikah. Kegiatan seperti ini telah menjadi tradisi adat di Nagari Lunang untuk patut dilestarikan.

Tradisi adat yang masih kental hingga saat ini, telah menjadikan nagari Lunang sebagai sebuah nagari yang memiliki identitas dan ciri khas tersendiri dibandingkan dengan nagari lainnya yang ada di Minangkabau. Wisata religi yang memiliki kisah historis menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Lunang, serta menempatkan Mandeh Rubiah sebagai tokoh tradisional yang dikeramatkan. 

Kehadiran Rumah Gadang Mandeh Rubiah beserta koleksi  yang ada didalamnya membuktikan bahwa sekelumit kisah yang telah terjadi beratus tahun silam dapat dikatakan benar adanya. Namun, benar atau tidaknya kisah klasik ini belum bisa terpecahkan hingga saat ini, akan tetapi jadikan kisah sejarah ini sebagai cerita klasik yang memiliki nilai historis tinggi untuk patut dijaga kelestariannya, semoga.