Jalan-jalan mengunjungi tempat wisata adalah hal yang diinginkan oleh banyak orang.  Apalagi dengan adanya fasilitas yang lengkap, membuat orang semakin gencar melakukan kegiatan wisata. Sayangnya, hal itu hanya berlaku bagi orang normal saja, lalu bagaimana dengan penyandang disabilitas? Apakah kalian pernah berpikir bagaimana cara orang difabel menikmati perjalanan wisatanya?

 Pada UUD RI No. 8 Tahun 2016 juga dijelaskan bahwa penyandang disabilitas mempunyai hak mendapat kemudahan untuk mengakses, perlakuan, dan akomodasi yang layak sesuai dengan kebutuhannya sebagai wisatawan. Namun, nyatanya hanya ada beberapa titik yang menyediakan fasilitas bagi para disabilitas. Dan itu pun hanya layanan yang sangat umum saja, seperti toilet. Padahal banyak hal yang dibutuhkan bagi penyandang disabilitas. e

Skretaris Roemah Difabel, M. Hilal Huda berkata "bahwa rata-rata para penyandang disabilitas jarang keluar rumah. Sekali diajak keluar pasti senang karena keluar lingkungan rumah itu sangat indah." Terlihat bahwa mereka pun sebenarnya juga ingin menikmati perjalanan wisata. Namun apa daya, keterbatasan fasilitas membuat mereka tidak bisa mendapatkan apa yang seharusnya. Untuk itu, dibutuhkan wisata ramah difabel.

Berbagai jenis disabilitas seperti disabilitas fisik, mental, intelektual maupun sensorik dalam jangka waktu yang lama memiliki perbedaan keterbatasannya masing-masing serta membutuhkan layanan fisik maupun non fisik yang berbeda-beda. Dengan mengetahui jenis-jenis disabilitas berarti menggambarkan para penyandang difabel tidak dapat melakukan aktivitas layaknya orang normal karena keterbatasan yang dimiliknya dan perlu mendapatkan berbagai fasilitas untuk mempermudah melakukan aktivitas harian mereka.

Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta berkata, “kita menginginkan agar perancangan itu yang bisa membentuk perilaku dan dapat membuat kota ini terasa setara bagi semua.” DKI Jakarta yang merupakan ibu kota Indonesia setidaknya telah mulai membangun fasilitas ramah difabel walaupun masih belum sempurna. Sebagai contoh, KRL Commuter Line merupakan salah satu sarana transportasi yang memiliki fasilitas cukup memadai bagi para penggunanya tidak terkecuali untuk para difabel karena memiliki ramp, jalur pemandu khusu difabel (guiding block), serta kursi tunggu prioritas di setiap stasiunnya. Hampir di setiap gerbong KRL telah disediakan tempat untuk para pengguna kursi roda yang secara otomatis dapat memudahkan para difabel untuk melakukan sebuah perjalanan.

Untuk membangun wisata ramah difabel, banyak hal yang harus diperhatikan bagi pengelola destinasi, pemerintah, maupun masyarakat setempat. Pengelolaan destinasi dan pemerintah harus bekerja sama dalam pemilihan lahan yang akan dibangun tempat wisata itu sendiri, mereka perlu memilah dan memilih tempat mana yang cocok dan sekiranya tidak menyulitkan para penyandang difabel dalam melakukan perjalanan wisata. Selain pemilihan lahan, akses jalan juga sangat penting dalam pembangunan destinasi wisata ramah difabel ini, sebisa mungkin akses jalan menuju destinasi wisata tersebut tidak menyulitkan, tidak rusak dan pastinya aman. Dengan adanya akses jalan yang baik maka akan berdampak pada meningkatnya intensitas pengunjung.

Untuk masyarakat setempat juga harus menghargai dan menghormati semua orang yang berwisata, termasuk para penyandang difabel. Karena dengan lingkungan yang baik, maka penyandang difabel juga pasti merasa nyaman saat berlibur.  

Selain mengetahui hal – hal apa saja yang perlu dipersiapkan untuk pembangunan destinasi wisata ramah difabel, kita juga harus tahu apa saja layanan di dalam destinasi wisata itu sendiri menjadi hal yang penting selanjutnya, kita harus mengerti kebutuhan – kebutuhan para penyandang difabel. Ada 2 macam, yakni layanan general dan layanan khusus.  Untuk layanan general yang sangat diperhatikan adalah kamar mandi khusus, tempat parkir yang memadai, tempat ibadah, dan loket khusus. Sedangkan layanan khusus untuk penyandang difabel itu sendiri seperti adanya layanan informasi yang dilengkapi dengan huruf braile, memberi tenaga – tenaga ahli di setiap titik untuk melakukan pengawasan jika memang diperlukan.

Nah, dari penjabaran diatas kita menjadi mengerti pentingnya penyamarataan hak dalam berwisata tanpa pandang bulu. Dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak sekali hal – hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan destinasi wisata ramah difabel. Salah satu komponen yang paling penting adalah pemilihan lahan yang akan dibangun tempat wisata itu sendiri, kita perlu memilah dan memilih tempat mana yang cocok dan sekiranya tidak menyulitkan para penyandang difabel dalam melakukan perjalanan wisata. Akses jalan juga sangat penting dalam pembangunan destinasi wisata ramah difabel ini, sebiasa mungkin akses jalan menuju destinasi wisata tersebut tidak menyulitkan.

Layanan general dan layanan khusus di dalam destinasi wisata juga menjadi hal penting. Sekarang kita menjadi mengerti kan, apa saja yang dibutuhkan dalam pembangunan destinasi wisata ramah difabel. Karena penyandang difabel juga butuh piknik, loh!

Satu lagi, sebelum membangun wisata ramah difabel, pengelola juga harus memiliki perencanaan dana yang tepat agar tidak berhenti setengah jalan atau bahkan korupsi saat membangun wisata tersebut.