Selalu ada cerita seru di sela Kelas Menulis Qureta tiap momennya. Salah satu keseruan itu datang dari fieldtrip yang sekaligus jadi ajang wisata Qureta nan edukatif.

Selain jadi pewarna kegiatan, pihak pelaksana, dalam hal ini Qureta dan PT Bumi Suksesindo (BSI), mengharapkan fieldtrip sebagai penambal dan penambah pengalaman peserta. Setidaknya, agenda ini bisa memperluas ide menulis; jadi lahan basah untuk Quretans ke depan bersumbangsih gagasan.

Seperti pula yang berlangsung di Banyuwangi, tepat di hari kedua, 14 Desember 2019, fieldtrip mengarah ke lokasi PT Bumi Suksesindo. Dan, seperti biasa, fieldtrip pun sekaligus menyasar sejumlah program turunan perusahaan terkait, utamanya Corporate Social Responsibility (CSR) binaannya.

Lokasi kunjungan berada persis di Dusun Pancer, Sumberagung, Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur. Quretans harus menempuh waktu kurang-lebih 2 jam perjalanan darat untuk mencapainya.

Tiba di lokasi, Quretans langsung disambut dengan pengenalan profil perusahaan. Tak lupa program-program CSR unggulannya yang turut jadi bahan perhatian bersama.

“Selamat datang di PT Bumi Suksesindo. Inimerupakan satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan emas dan perak, merupakan bagian dari grup Merdeka Copper Gold,” terang Superintendent Departemen Lingkungan PT BSI, Doni Roberto.

Doni Roberto saat memberi sambutan di hadapan Quretans Banyuwangi

Doni menjelaskan bagaimana pihaknya mengelola tambang dengan acuan utama kepada requirement pemerintah. Bukan hanya di perkara produksi, melainkan pula bagaimana mengelola lingkungan dengan baik, termasuk program pengembangan masyarakat sebagai komitmen.

“Nanti rekan-rekan akan melihat tambang, bagaimana kami mengelola tambang dan lingkungan sekitar. Nanti akan dijelaskan di bagian persemaian bagaimana kami di sini mengembalikan lahan yang sudah dibuka menjadi hijau kembali. Jadi kami tidak menunggu tambang tutup lalu kami hijaukan atau reklamasi, tetapi kami berjalan beriringan. Itulah salah satu komitmen perusahaan.”

Untuk program CSR, Community Development Supervisor PT BSI Syahrul Wahidah menjelaskan empat pilar dalam misinya. Semuanya sudah berjalan sesuai harapan perusahaan, yakni pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan infrastruktur.

Di bidang pendidikan, misalnya, perusahaan menempatkan empat armada bus khusus untuk mengantarkan anak-anak sekolah masyarakat setempat. Namun, untuk sementara waktu, baru dua bus yang bisa beroperasi, tetapi sudah sangat cukup membantu para orang tua/wali siswa yang mengharapkan buah-buah hatinya berangkat sekolah dengan aman dan nyaman.

“Peluncuran bus-bus ini adalah bagian dari CSR perusahaan untuk bidang pendidikan. Program ini sekaligus menjadi wujud nyata PT BSI bersinergi dengan jajaran pemerintah, kepolisian, serta masyarakat setempat,” jelas Syahrul.

Bus sekolah yang PT BSI sediakan tersebut berada di bawah kendali CV Duta Sarana Perkasa. Selain dimaksudkan untuk memudahkan siswa-siswi yang rumahnya jauh dari sekolah, diharapkan pula dapat mengatasi kecelakaan di jalan raya.

Untuk UMKM Binaan, terdapat program berupa pengolahan makanan. UMKM ini khusus memberdayakan kaum perempuan. Ada program pelatihan yang difasilitasi Tim CSR PT BSI, yang kemudian melahirkan UMKM Centre Pusat Oleh-Oleh Banyuwangi.

“Kami memiliki binaan, yaitu UMKM Centre. Binaan ini khusus untuk pelaku UMKM perempuan, ibu-ibu. Jadi, mereka yang memulai bisnisnya, suka dengan bisnis, baik itu makanan maupun minuman, kita coba fasilitasi dari bagaimana prosesnya sampai kami fasilitasi untuk memperoleh IRT atau Izin Industri Rumah Tangga.”

Syahrul Wahidah memberi penjelasan empat pilar program CSR PT BSI

IRT, menurut Syahrul, sangat penting. Karena kalau produknya sudah masuk di pasaran, maka otomatis sudah terjamin legal atau bisa dikonsumsi secara layak.

“Tidak hanya perizinan, kami juga memfasilitasi pengelola untuk wilayah pemasaran. Sekarang ini mereka mampu mengembangkan diri dengan inisiatif sendiri. Kami hanya memfasilitasi, sudah masuk ke beberapa outlet oleh-oleh Banyuwangi.”

Olahan yang Quretans temui berupa produk makanan. Misalnya, abon dan nugget lele, keripik bonggol, pisang, dan ladrang. Ada juga olahan khusus berbahan baku buah naga berjenis dodol. Semua semangat itu adalah inspirasi dari desa.

“Kami mengedepankan potensi lokal yang bisa diidentifikasi menjadi beberapa produk. Buah naga, misalnya, dijual fresh. Ada yang namanya kerupuk gurita, asalnya limbah yang masih bisa dikonsumsi. Juga produk sintesis, yang pasarannya kini sudah merambah hingga ke Bali, dan mendukung upaya mengurangi sampah plastik.”

Quretans saat mendengar penjelasan dari pengelola UMKM Centre

UMKM lainnya adalah pendampingan para peternak lokal, seperti program budi daya kambing.

“Kita sudah men-support 120 petani dengan 240 kambing. Kami memilih kambing karena potensinya besar di wilayah ini, selain karena pemeliharaannya jauh lebih mudah.”

Di bidang kesehatan, PT BSI memfasilitasi warga dengan mobil layanan kesehatan. Mobil tersebut sudah beroperasi di 10 desa di 2 kecamatan.

“Mobil layanan sangat diminati. Tidak perlu lagi susah ke puskesmas atau BPJS. Kehadiran ini sangat dinanti buat mereka yang lansia, jauh dari akses puskesmas, atau bagi mereka yang tidak punya kartu BPJS. Kami berinisiatif menjemput bola. Dalam satu bulan, sekitar 8-10 pasien sudah bisa kami fasilitasi.”

Sayangnya, tidak semua program CSR binaan PT BSI Quretans sempat kunjungi. Hanya beberapa yang bisa terjangkau, salah satunya Black Soldier Fly (BSF) untuk pakan ternak dan ikan.

Yang unik dari pendampingan UMKM ternak ini adalah misinya. Keberadaannya sekaligus berupa pemanfaatan limbah rumah tangga untuk budi daya manggot (larva) alias lalat tentara hitam. Inilah yang mereka maksud sebagai mengolah sampah menjadi berkah.

Quretans sedang melihat dan memotret larva untuk pakan ternak dan ikan

Di tempat lain, Quretans juga sempat mengunjungi ruang persemaian bibit untuk reklamasi bekas tambang. Stok bibit yang dimiliki sangat beragam. Tempatnya mampu menampung hingga 15 ribu bibit, di antaranya: Johar, Sengon Laut, Sengon Buto, Trembesi, Bayur, Bungur, Kepuh, Beringin, Kemiri, dan lain sebagainya.

 “Intinya, bibit yang kami sediakan adalah bibit khusus untuk tanaman-tanaman yang berada di lahan tambang. Kami ingin mengembalikan lahan ke rupanya yang semula,” kata pengelola.

Fieldtrip kemudian berakhir di pantai Pulau Merah. Deburan ombak dan hangat pasir putihnya benar-benar menambah keseruan wisata Qureta nan edukatif kali ini.

Foto bersama Quretans di pantai Pulau Merah