Pertanyaan, " mau paha atau dada"? biasa kita jumpai di resto cepat saji asli ameriki (Orang Arab kalo nyebut Amerika seperti itu), namun pemandangan paha dan dada yang asli (kata asli ini juga termasuk kata yang kita colong dari bahasa Arab) dapat kita temui dengan gampang jika berkesempatan maen di Dubai, tepatnya jika pelesiran ke JBR.

Dari tempat kosan saya, lokasi penampakan paha dan dada emang agak jauh, karena saya masih termasuk TKI kere, maksudnya belom punya mobil sendiri. Akhirnya, saya dan temen-temen memutuskan untuk meluncur ke JBR dengan menggunakan moda transportasi murah meriah metro Dubai.

Kami naik dari Bur Juman metro stasiun. Suasana metro tidak terlau ramai, terbukti salah seorang di antara kami dapet tempat duduk. O, iya, metro Dubai termasuk jaringan kereta api terbaik di dunia lho, beritanya pernah saya baca di Yahoo. Memang, untuk soal ketepatan waktu, metro Dubai bisa diadu, deh.

Setelah melewati banyak stasiun, kami pun sampai di JLT metro stasiun. Saat ini cuaca Dubai masih agak panasan, karena itu sengaja kami berangkat ketika hari sudah mulai sore.

Kami sampai di Real Madrid Cafe ketika jarum jam menunjuk ke angka 4 sore. Dari Real Madrid Cafe kita bisa melihat pemandangan paha dan dada, enggak terlalu jelas sih, tapi sudah lebih dari cukup.

Kami menunggu dulu sambil duduk-duduk di sebuah bangku panjang. Setelah cuaca tidak lagi terlalu panas, kami mulai menginjakkan kaki di pasir pantai yang putih. Dan mulailah kami di suguhkan sebuah pemandangan yang ''ajaib'' untuk ukuran tanah Arab.

Selama ini, bisa jadi kita menyangka tanah Arab adalah sebuah kawasan yang steril dari paha dan dada, tapi sekali lagi, itu tidak berlaku di Dubai. Dubai adalah sorga bagi wisatawan yang demen belanja dan doyan cuci mata.

Di Dubai, para pendatang diberikan keleluasaan untuk telanjang sepanjang pada tempatnya, misalnya berbikini sambil berjemur di pantai yang berpasir putih. Di sini miras pun dijual bebas sepanjang pada tempatnya. Sekali lagi, Dubai adalah sebuah tempat di mana orang bebas melakukan apa saja sepanjang pada tempatnya.

Setelah capek berenang, kami pun memutuskan untuk pulang ke kosan, tidak lupa potret sana-sini, sebagian hasil jepretan itu tersaji di tulisan ini.

Pertanyaaanya, apakah setelah membaca artikel ini Anda jadi tertarik untuk berkunjung ke Dubai? Kalau Anda tertarik, saya sarankan Anda berkunjung pada bulan Januari sampai Maret, di waktu itu cuaca Dubai cukup bersahabat.

Itulah laporan singkat dari Dubai, sebuah kota di Arab yang kebijakan pemerintahnya sangat mendukung industri wisata. Sebuah industri yang tidak akan pernah habis. Di masa sekarang dan masa depan, industri ini akan menjadi andalan negara-negara di dunia untuk mengeruk devisa.