Nama Banten rasanya tidak asing lagi. Provinsi tersohor yang disebut sebagai daerahnya para Ulama dan Jawara, terlebih ada Kesenian Debus. Siapa yang tidak tahu dengan kesenian khas Banten itu? Sebuah seni pencak silat dengan ilmu kekebelan tubuh yang memeperlihatkan tubuh manusia digores dan ditusuk dengan golok ataupun benda tajam lainya tetapi tidak terasa apa-apa. Mulut memakan beling dan lain sebagainya.

Nah, ketika mendengar seperti itu, Anda tidak usah merasa takut untuk datang ke Banten. Karena Banten itu punya potensi yang amat luar biasa, padahal baru 16 tahun berdirinya setelah melepas dari Provinsi Jawa Barat. Kalau bicara soal destinasi wisata, Banten juga punya sejumlah objek wisata.

Banyak tempat-tempat seru yang tidak boleh dilewati oleh para wisatawan. Seperti tempat wisata alam: Taman Nasional, Gunung Pulo Sari, Curug Ciputri, dll; wisata bahari: Pantai Anyer, Pantai Tanjung Lesung, Pulau Lima, dll. Ada juga wisata kuliner: Sate Bebek, Sate Bandeng, Nasi Sumsum, Rabeg, dll; wisata sejarah ada Museum Situs Kepurbakalaan, Keraton Kaibon, Banteng Speelwijk, dan yang tak kalah menarik yaitu wisata religi.

Wisata Religi

Sederet wisata religi pun ada di Banten. Misalnya, berziarah ke Makam Sultan Maulana Yusuf di Kecamatan Kasemen, Makam Syeh Muhammad Sholeh Gunung Santri di Kecamatan Bojonegara dan masih banyak lainnya.

Di antara kalian pasti jarang ke tempat Wisata Religi, kan? Ya, mungkin sebagian orang berpikir seperti ini, “ah, masa mau ngerefresh otak malah ke tempat wisata religi?!” atau ada juga yang berpikiran, “sekarang sudah bukan zamanya, nggak gaul loh!” Apalagi kaum muda, pasti gengsinya selangit.

Bukan tanpa alasan kenapa wisata religi layak menjadi pilihan utama. Ini penting untuk diketahui.  Karena biasanya tujuan wisata kebanyakan orang ingin menikmati hiburan agar mendapatkan kesenangan semata. Padahal, ada suatu hal yang dilupakan, yaitu waktu Anda terbuang begitu saja tanpa mengisinya dengan yang lebih bermanfaat. Pada wisata religi dan wisata sejarah, selain jalan-jalan, Anda bisa mendapatkan kesejukan hati melihat sosok orang-orang besar di masa lalu, untuk dijadikan pembelajaran dan suri teladan dalam kehidupan. Tentu bisa dijadikan pengalaman dan pengetahuan baru untuk Anda.

Wisata Banten Lama

Kemudian, untuk memasuki wisata Banten Lama, wisatawan tak perlu merogoh kantong untuk tarif masuk, cukup dengan membayar biaya parkir kendaraan saja. Ketika memasuki kawasan wisata, kali pertama Anda akan melihat keutuhan bangunan Masjid Agung Banten yang berdiri kokoh. Keistimewaan Masjid ini tergambar pada perpaduan arsitektur antara Jawa, Tiongkok dan Belanda.

Dulunya ini didirikan oleh tiga orang arsitektur, pertama adalah Raden Sepat, arsitek Majapahit yang juga membangun beberapa Masjid di Nusantara, kedua arsitektur dari Tiongkok yang bernama Cek Ban Su yang ikut ambil bagian dan memberikan pengaruh kuat pada bentuk atap Masjid yang bentuknya bersusun lima, mirip dengan pagoda Tiongkok pada umumnya. Arsitek ketiga adalah Hendrik Lucaz Cardeel yang merupakan arsitek dari Belanda.

Masjid Agung Banten didirikan pertama kali pada masa Pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin pada tahun 1566, atau tanggal 5 Zulhijah 966 H. Masjid Agung ini terletak di sebelah barat Menara Banten, di atas lahan seluas 0,13 hektar dan sampai saat ini Masjid Agung masih aktif digunakan sebagai tempat ibadah pada umumnya.

Di Komplek Masjid juga terdapat menara yang merupakan landmark Provinsi Banten. Bentuknya mengingatkan pada Mercusuar Belanda yang terletak di Pantai Anyer. Pengunjung dapat naik ke puncak menara dengan menaiki 83 anak tangga dan lorong sempit. Di sana Anda juga bisa berfoto ria di depan menara bersejarah itu, atau juga bisa menggunakan jasa foto yang ada di sekitar tempat wisata.

Dari samping kanan dan kiri Masjid Agung. terdapat makam para keluarga Kesultanan Banten. Yaitu, Sultan Maulana Hasanudin, Istri Sultan, Sultan Abdul Mufachir Muhammad Aliyudin, Sultan An-Nasr Abdul Kahar, dan kerabat Sultan lainnya. Selain Anda melihat-lihat peninggalan sejarah, anda juga bisa sekaligus berziarah ke makam para Sultan Banten untuk mendoakan dan  mentadaburi semua perjuangan dakwah para pendahulu yang telah meyebarkan Agama Islam di Banten.

Setiap harinya Makam Kesultanan selalu ramai dikunjungi para peziarah yang datang hampir dari seluruh penjuru. Sebagai alumni pesantren, saya juga merasakan fenomena tersebut. Waktu saya dan teman-teman berziarah, sering berjumpa dengan wisatawan mulai dari daerah Sukabumi, Cianjur, Cirebon hingga mancanegara. Terutama saat bertepatan dengan hari-hari besar Islam. Makam Sultan pertama Banten ini memang mempunyai daya tarik sangat kuat. Wajar bila terus-menerus disesaki oleh lautan manusia hingga tiap minggunya mencapai puluhan ribu orang yang datang.

Tidak saja Masjid dan Makam, lho! Di sekitar sana ada Museum Kepurbakalaan Banten. Di dalamnya terdapat benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Banten. Anda akan dibantu oleh pemandu museum yang akan menjelaskan benda-benda dan sejarah Banten dari masa ke masa.

Museum ini didirikan pada tahun 1984, yang peresmianya dilakukan pada 15 juli 1985 oleh Prof. Dr. Haryanti Soebadjio (Dirjen Kebudayaan pada waktu itu). Dan sebuah keuntungan juga bagi wisatawan, Anda dapat secara langsung melihat Situs Kerajaan Surososwan Banten yang letaknya tepat di depan Museum Kepurbakalaan Banten.

Berbicara wisata religi, di Banten bukan hanya tentang tempat peninggalan islam, namun juga memiliki peninggalan sejarah seperti bangunan Vihara Avalokitesvara yang keberadaannya merupakan bukti bahwa pada zaman dahulu para penganut agama yang berbeda dapat hidup rukun dan berdampingan. Vihara ini merupakan salah satu Vihara tertua yang masih ada di Nusantara sampai saat ini. Jaraknya relatif tidak jauh, dapat ditempuh sekitar 10 menit dari Masjid Agung Banten.

Bila Anda merasa ingin beristirahat dan perut keroncongan, warung-warung kecil di Kawasan Wisata Banten Lama siap menghidangkan makanan yang disajikan bermacam-macam. Dari khas Jawa, Sunda sampai khas Banten. Harganya tidak menguras kantong, cukup dengan Rp15.000,- Anda sudah bisa makan enak.

Bagi Anda yang penasaran dan ingin cepat ke sana, untuk yang dari arah Jakarta atau sekitarnya, Anda bisa melalui tol Jakarta-Merak, lalu ke luar di tol Serang Timur. Atau bagi Anda yang menggunakan kendaraan umum Anda berhenti di Terminal Pakupatan Serang. Selanjutnya langsung menuju Banten Lama. Jaraknya Tidak begitu jauh, cuma 30 menit dari Terminal Pakupatan Serang.