“Kalau tak kuat, lambaikan tangan ke kamera,” ucap pria berkepala botak.

Sebagai masyarakat Indonesia pasti tidak asing lagi dengan acara televisi yang menguji nyali pesertanya. Dibawakan oleh Harry Pantja yang sangat ikonik sekali dengan pakaian gombrong serba hitam dan berkepala plontos. Formatnya, peserta ditantang untuk mendiami suatu tempat yang dikenal angker selama beberapa jam dengan hanya dibekali sebuah lilin.

Seorang diri peserta menahan rasa takut demi menyelesaikan tantangan yang bakal diganjar hadiah apabila selesai melewatinya. Namun, jika peserta merasa tidak kuat melanjutkan di tengah acara, ia bisa melambaikan tangan dan pembawa acara beserta kru akan segera menghampiri.

Acara tersebut bahkan pernah kedapatan menangkap gambaran bentuk setan meski hanya sepersekian detik. Selain itu, beberapa kali format acara berubah dengan menambahkan sang ahli lukis yang kabarnya dapat melihat makhluk tak kasat mata. Pelukis tersebut lalu menorehkan lukisan di kanvas mencoba mengilustrasikan keberadaan makhluk yang menunggu tempat angker.

Kemudian, pada medium perfilman sosok Suzzanna, tentu masih terpatri di kepala masyarakat Indonesia. Meski beliau sudah tiada, dalam arti sesungguhnya, tetapi karyanya tetap diputar berulang kali di televisi. Sebut saja Sundel Bolong, Malam Satu Suro, atau Malam Jumat Kliwon yang sukses membawa mimpi buruk bagi penonton era 1980-an.

Personifikasi sosok setan menyeramkan ala sundel bolong sangat melekat apabila mengingat namanya. Pandangan mata yang tajam dan dihiasi dengan celak hitam cukup membuat bulu kuduk merinding. Apalagi dialognya yang sangat terkenal sekali kala perannya memesan satai 200 tusuk dan langsung dimakan saat itu juga.

Satu lagi horor yang cukup tren awal abad 21 ialah Misteri Bondowoso. Video yang berisi rekaman penampakan-penampakan jin tersebut dikemas dalam bentuk kepingan VCD. 

Misteri Bondowoso membawa teror bagi anak-anak 2000-an karena secara gamblang menyorot wujud makhluk gaib. Tapi, justru aku tidak berani menontonnya seorang diri karena terhasut oleh cerita-cerita yang beredar dari seorang yang pernah menontonnya lebih dulu.

Ya, tayangan-tayangan tersebut cukup sukses membuat seseorang takut jika berada seorang diri di tempat sepi. Gambaran yang coba dimunculkan berbagai media akan sosok setan yang secara turun temurun dituturkan penduduk setempat. Maka dari itu, setiap daerah pasti memiliki aneka rupa yang khas sesuai imajinasi atau penggambaran sesepuh desa.

Seperti, mitos turun-temurun berupa jangan keluar kala menjelang magrib, nanti diculik ‘kalong wewe’, jenis setan dengan payudara yang sangat panjang. Kenapa harus payudaranya yang disorot sih? 

Ada juga ritual pemanggil setan jelangkung dengan kalimat saktinya “datang tidak dijemput, pulang tidak diantar”. Siapa juga yang mau menjemput dan mengantarnya? Itu dulu, kalau sekarang mungkin jelangkung bisa panggil ojek online. Jadi tak ada alasan lagi ya.

Selain acara menakutkan di atas, masyarakat Indonesia pun gemar akan hal-hal berbau mistis. Misalkan, terawangan dari seorang yang diduga indigo laris manis di berbagai stasiun televisi. 

Lalu, banyak acara yang mencoba melakukan wawancara dengan cara membuat salah satu talent kesurupan agar bisa berkomunikasi. Slang ‘aing macan’ populer akibat acara seperti ini.

Wibawa Setan Kini Dipertanyakan

Para pegiat media sosial tentu tidak asing dengan kelakuan pembuat konten yang gemar melecehkan martabat setan. Pelbagai macam video uji nyali, prank, smackdown, sampai melempari mercon telah membuat wibawa setan jatuh. Tidak jarang video tersebut mendapat antusias tinggi dari warganet yang dilihat dari jumlah penontonnya lebih dari satu juta.

Tentunya bukan karena mencari sensasi ‘ketakutan’ seperti dulu menonton film horor, tetapi lebih kepada mencari hiburan. Setan menjadi objek yang pas karena esensi astral dan seram yang coba dipatahkan menjadi jenaka.

Baca Juga: Taksonomi Setan

Perwujudan mengerikan setan coba dipatahkan melalui media sosial dengan aksi kejahilan, biasanya oleh kalangan milenial. Mereka coba mendobrak segala mitos akan ketakutan para seniornya dulu dengan jalan ninjanya sendiri. Dapat duit pula. Setan? Tak dibagi tuh.

Mungkin sekarang orang tidak akan mengurungkan niat jika diajak melewati kuburan di tengah malam. Justru bersemangat karena bakal ada bahan untuk membuat konten. Manusia kini memang diperbudak oleh adsense sih. 

Kondisi itu kian memprihatinkan manakala manusia sudah berlaku keji melebihi setan. Sudahlah cukup rupa setan tidak semenakutkan dulu, jangan kau ambil pula pekerjaan utamanya. Jika mereka sudah tak bisa lagi menggoda manusia, takutnya ada gelombang PHK massal di dunia astral sana yang membuat para setan frustrasi.

Kabar baiknya, di saat kondisi pandemi sekarang ini, setan justru kebanjiran kerjaan. Mereka dituntut menakuti para warga yang membandel dalam pembatasan sosial. Rumah-rumah berhantu dipilih sebagai ancaman agar masyarakat mengurungkan niat untuk pergi ke kampung halaman. Tapi, setan bisa kena virus corona tidak ya?