Awal kelahiran filsafat dimulai dengan pertanyaan atas alam. Filosof pertama bernama Thales menduga jika alam semesta pasti tersusun atas sesuatu, yang dasar dan tak terbagi-bagi, yaitu air. Air adalah sumber segala sesuatu.

Pendasaran logisnya, tanpa air, mekanisme organis kehidupan alam tidak akan bekerja. Pemikiran Thales atas pencarian ontologis itu lalu diteruskan oleh pemikir-pemikir setelahnya.

Dengan berupaya menemukan hakekat alam itu, mereka berdebat satu sama lain. Ada yang berkata jika hakikat alam adalah tanah, udara, to apeiron (yang tak terbatas), dan seterusnya.

Meski berupa-rupa, yang jelas mereka berada pada suatu kesamaan penting, yakni pemahaman bahwa alam bekerja secara organis. Alam adalah sistem kesatuan yang kompleks, yang memiliki jiwa dan layak dihormati.

Lingkungan alam tidak hanya dihuni manusia. Terdapat entitas-entitas organis lain yang juga memiliki sistem kesadaran sendiri. Mereka tumbuh, berkembang, merealisasi diri, dan saling terhubung dengan entitas-entitas lainnya.

Manusia menjadi bagian dari keterikatan itu. Kita berdiri berdampingan dengan alam dan setiap entitas di dalamnya. Kita tidak berada di atas alam. Setiap bentuk kehidupan memiliki perannya masing-masing.

Manusia tidak pantas mengungguli diri dan menganggap durinya adalah satu-satunya wujud yang pantas untuk melanjutkan hidup. Kesadaran manusia modern, dengan ke-khasan gaya antroposentrismenya telah membawa kehancuran di mana-mana.

Rene Decartes sebagai salah satu pelopor pemikiran sains dan filsafat modern merujuk kita ke arah keterpisahan dengan alam. Melalui ‘metode kesangsian’ darinya, kita memahami bahwa jiwa (kesadaran) dan tubuh adalah wujud yang berbeda.

Jiwa adalah yang utama, yang melekat dalam diri si subyek manusia. Melaluinya, manusia mampu memahami objek dan dirinya. Tanpa kesadaran, manusia tidak akan meragu, bertanya, dan berupaya mengungkap kenyataan.

Karena itu, manusia dinilai spesial. Pikiran yang membedakan manusia dengan wujud yang lain, terutama hewan. Pikiran manusia sungguh istimewa, yang nyata. Entitas lain, tubuh dan dunia materi adalah objek tanpa kesadaran.

Atas dasar itu, ia mengungkapkan diktum terkenalnya, “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada), untuk membuktikan bahwa “Aku”, dengan kesadaranku adalah satu-satunya eksistensi yang tak terbantahkan.

Sains dan filsafat modern banyak dipengaruhi oleh pemikirannya itu. Dikotomi antara tubuh dan jiwa, subjek dan objek, manusia dan alam, telah menumbuhkan kesadaran modern yang semakin menjauh dari penghayatan terhadap lingkungan hidup.

Sonny Keraf dalam bukunya, “Filsafat Lingkungan Hidup” mengatakan jika kesadaran modern dengan pengaruh sains, filsafat, dan tekonologi telah mengkonstruksi pemahaman bahwa alam dibayangkan sebagai sebagai sebuah ‘mesin raksasa’.

Alam adalah dunia materil, yang tidak memiliki kesadaran dan terpisah dengan manusia. Manusia dengan kemampuan rasio, menganggap alam sebagai objek eksplorasi dan eksploitasi. Manusia berkuasa atas alam.

Pemujaan akan kemampuan akal budi manusia memengaruhi juga cara pandang manusia terhadap alam semesta. Alam tidak mempunyai kemampuan rasional sebagaimana halnya tubuh. dianggap tidak mempunyai nilai pada dirinya sendiri. (Keraf, 2014:56-57). 

Wetu Telu sebagai Kesadaran atas Lingkungan

Di tengah totalitas kesadaran modern dan segala rupa instrumen yang lahir darinya, membuat ia dianggap sebagai bentuk kepercayaan baru. Sistem tradisi, adat, budaya, kepercayaan, dan apa saja yang berbau kuno harus segera digerus ke dalam ruh modern itu.

Meski demikian, tidak berarti kita harus melupakan semua konsep yang dianggap kuno itu. Wetu telu misalnya, sebagai prinsip hidup (way of life) masyarakat adat Desa Bayan, Lombok Utara dapat menjadi pelajaran berharga di tengah krisis lingkungan seperti sekarang ini.

Sebenarnya, ajaran wetu telu kerap mendapat stigma negatif. Wetu telu sering disalahartikan sebagai sistem kepercayaan Islam yang berbeda, bahkan sesat.

Misalnya, mereka dianggap melaksanakan sholat hanya tiga kali sehari, berpuasa sehari saja di bulan puasa. Bahkan di Era Orde Baru, masyarakat adat Bayan menjadi sasaran represif militer karena dianggap menghambat proses pembangunan, dan dikait-kaitkan dengan isu komunisme.

Terlepas dari beragam stigma itu, terdapat banyak hal menarik yang bisa dijadikan bahan refleksi. Satu diantaranya adalah tentang konsep kosmologis dan kesadaran atas lingkungan hidup.

Manusia dan alam, oleh masyarakat Bayan, dipahami sebagai suatu kesatuan organis, yang dianggap bernilai dan harus dihormati.

Tiga Nilai Hidup

Istilah Wetu telu berasal dari dua suku kata. Wetu artinya waktu, dan telu artinya tiga. Konsep ini hendak menjelaskan bahwa, manusia selama hidup tidak pernah terlepas dari konsep tiga waktu ini.

Konsep ini sebetulnya tidak cukup direduksi dalam makna ‘waktu’ saja. Terdapat beberapa pembagian secara definitif. Pertama, diartikan sebagai sistem reproduksi. Wetu diasosiasikan dengan metu yang artinya muncul, atau datang dari.

Manusia, dan segenap wujud kehidupan lain pada hakikatnya ada yang melahirkan (menganak), bertelur (menteluk), dan berkembang biak dari benih (mentiuk). Sistem itu secara ontologis berasal dari kehendak Tuhan (Allah).

Kedua, bahwa makhluk hidup mengalami tiga fase dalam hidupnya, yakni lahir (nganak), hidup (irup), dan mati (mate).

Terdapat beberapa konsep lain lagi yang menarik, seperti konsep kepercayaan menurut Islam yang pembaca bisa mencari tahu sendiri di internet.

Terakhir, konsep tentang lingkungan hidup. Di mana manusia dan alam dimengerti dalam pola yang saling terhubung satu dengan yang lain.

Terdapat jagat besar dan jagat kecil. Jagat besar (mayapada), terdiri dari matahari, bintang, dan seterusnya. Sedangkan jagat kecil terdiri dari manusia dan wujud lainnya.

Secara prinsipal, jagat kecil itu bergantung pada jagat besar. Karena itu alam begitu penting untuk dijaga dengan kebesaran hati. Alam tidak hanya difungsikan sebagai manifestasi hasrat pengetahuan dan pembangunan manusia. 

Alam adalah sistem kehidupan, yang sadar karena memiliki kemampuan untuk merealisasikan dirinya. Adapun manusia adalah bagian dari kehidupan itu, sebagai organisme yang tidak lebih berkuasa dari entitas kehidupan lain.

Masyarakat Bayan berlokasi di tempat terpencil, di Lombok Utara dekat Gunung Rinjani. Mereka menerapkan konsep wetu telu tidak saja pada tataran kesadaran. Wetu telu telah menjadi filosofi hidup yang menyehari.

Suku Bayan menjaga alam dengan baik. Mereka percaya bahwa manusia sebagai mikro-kosmos, turut andil dalam merawat keseimbangan makro-kosmos, universe.  Manusia tidak berhak berkuasa dan eksploitatif atas alam, karena itu sama saja dengan merusak keseimbangan (equilibrum).

Kita tentu melihat bagaimana kemajuan sains, teknologi, dan pembangunan telah banyak menimbulkan kerusakan pada alam, dan akhirnya berdampak tidak hanya pada manusia namun juga keanekaan kehidupan lain.

Perubahan iklim, banjir, kebakaran hutan, pemanasan global, ancaman kepunahan hewan, merupakan sebagian dari dampak yang ditimbulkan oleh ulah manusia.

Kita bisa belajar dari konsep ‘wetu telu’, bahwa subjek yang memiliki kesadaran tidak hanya manusia. Manusia dengan kemampuan kognitifnya bukan berarti maha segala-galanya. Ia tetap merupakan satu dari sekian organisme lain yang mempunyai daya kreasi dan keinginan untuk bertahan hidup.