Setiap orang memiliki hak untuk memperoleh informasi. Yang dimaksud dengan ‘setiap orang’ di sini adalah semua orang tanpa memedulikan jenis kelamin, usia, pekerjaan, suku, agama, ras, kedisabilitasan, dan lain-lain alasan bentuk pengecualian. Atau dengan kata lain inklusif, di mana tak ada seorang pun yang dikecualikan.

Berbicara mengenai informasi, saat ini sumber informasi tidak lagi terpaku pada sumber cetak ataupun offline. Namun sudah bergeser dengan adanya platform digital. Tak heran banyak kanal-kanal berita, instansi-instansi, maupun perusahaan-perusahaan yang menyajikan informasi secara digital melalui website.

Adanya informasi digital melalui website sebenarnya memberikan banyak kemudahan pada masyarakat. Misalnya, orang tak perlu lagi datang ke Dinas Tenaga Kerja atau membeli koran untuk melihat iklan lowongan pekerjaan, namun cukup membuka situs-situs lowongan kerja yang banyak bertebaran di media sosial.

Namun demikian, tidak semua orang bisa mengakses website-website tersebut. Ada sekelompok orang yang mengalami kesulitan, bahkan tidak dapat mengakses informasi yang ada. Mereka yang mengalami kesulitan itu adalah teman-teman difabel (penyandang disabilitas), termasuk difabel netra yang memang mengalami hambatan penglihatan.

Hal ini pernah dikeluhkan oleh seorang teman. Sebagai mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas, dia memerlukan beberapa rujukan, salah satunya informasi-informasi dari beberapa website. 

Kondisinya yang low vision, di mana dia masih memiliki sisa penglihatan namun tidak mampu untuk membaca tulisan biasa yang berukuran 12 point meski dibantu dengan keca mata sekalipun, membuat dia kesulitan untuk membaca informasi dari website tersebut. “Duh, kenapa tulisannya tidak bisa diperbesar ya,” keluhnya.

Kesulitan mengakses website, selain dialami difabel netra, juga dialami oleh orang-orang dengan disleksia yang mengalami kesulitan membaca dan mengeja. Demikian juga dengan orang-orang yang mengalami gangguan konsentrasi seperti Autis dan ADD (Attention Deficit Disorder). 

Sebenarnya difabel akan bisa mengakses website jika website tersebut memang aksesibel. Namun sayangnya masih sangat sedikit jumlah website yang aksesibel. Bahkan website milik instansi pemerintah sendiri masih banyak yang belum aksesibel. Juga kanal-kanal berita pun masih banyak yang tidak aksesibel.

Ini artinya bahwa informasi yang ada masih belum inklusif. Masih ada pihak yang tidak bisa mendapatkan informasi-informasi tersebut. 

Padahal, sekali lagi, semua orang berhak untuk mendapatkan informasi, tak terkecuali penyandang disabilitas (difabel). Bahkan hak difabel tersebut telah diakui dan dilindungi oleh konvensi internasional yaitu UN-CRPD (UN Convention on the Rights of Persons with Disabilities) yang sudah diratifikasi Indonesia, dan juga UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Sebenarnya, website yang aksesibel tidak hanya bermanfaat untuk penyandang disabilitas, namun juga sangat membantu orang-orang yang berada dalam situasi dan kondisi tertentu.

Mereka yang ada dalam situasi dan kondisi tertentu itu, antara lain adalah orang yang mengalami buta warna, yang tidak bisa membedakan warna-warna tertentu. Padahal tiap website memiliki theme-nya masing-masing yang biasanya dengan warna-warna yang menarik. 

Lalu, bagaimana dengan mereka yang memiliki keterbatasan untuk melihat warna ini? Seharusnya, hal ini menjadi PR besar untuk semua platform atau webiste yang benar ingin memberikan yang terbaik kepada masyarakat, tanpa terkecuali.

Hal lain yang membuat orang kesulitan untuk mengakses website adalah saat berada di bawah sinar matahari yang sangat terang. Dalam situasi tersebut, jika kita melihat ke layar, maka akan terlihat gelap, bahkan kita akan sulit membedakan apakah laptop atau gadget dalam keadaan hidup atau mati. 

Lalu bagaimana jika keadaannya urgent dan kita membutuhkan informasi tersebut sementara kita tidak bisa mengakses informasinya? Situasi inilah yang perlu diatasi.

Hal yang dialami Pakde saya ini adalah contoh lain tentang kondisi tertentu yang membutuhkan aksesibilitas pada website. Ketika itu saya memberi tahu beliau tentang info Gaji ke-13. Kemudian saya bukakan sebuah website agar beliau percaya. 

Saat mencermati tulisan yang ada, beliau mengatakan, “Ra ketok.” Tidak kelihatan, kata beliau yang sudah 70 tahun. Ini berarti bahwa orang dengan usia yang sudah lanjut mengalami kesulitan atau bahkan tidak bisa membaca tulisan pada website karena berkurangnya tingkat penglihatan mereka yang disebabkan oleh faktor usia.

Situasi dan kondisi tertentu lainnya adalah saat seseorang yang berada di dalam kereta yang sedang berjalan dan mengalami guncangan, tentu akan kesulitan menggunakan mouse. Atau saat seseorang yang mengalami patah tangan sehingga tidak bisa menggunakan mouse, sementara pada saat yang sama trackpad pada laptop mengalami kerusakan. 

Dalam kondisi ini, bagaimana dia bisa mengakses website? Nah di sinilah aksesibilitas diperlukan.

Sebenarnya, adanya aksesibilitas tidak hanya berguna bagi pengguna (pencari informasi), namun juga bermanfaat bagi pemilik website itu sendiri. Misal website sebuah perusahaan yang menawarkan sebuah barang/jasa. Tentu pemilik perusahaan membuat website dengan harapan banyak yang membeli. 

Masalahnya tidak akan terjadi pembelian tanpa adanya traffic (pengunjung), sedangkan pengunjung tidak akan datang (atau jika datang akan segera pergi) jika mereka tidak dapat mengakses website tersebut. Artinya website yang aksesibel akan semakin meningkatkan traffic, yang artinya akan meningkatkan penjualan untuk perusahaan.

Aksesibilitas sendiri adalah merupakan fitur tambahan yang ada pada sebuah website yang berfungsi untuk memberikan kemudahan kepada pengunjung agar bisa mengakses website tersebut dan menemukan informasi yang mereka cari dengan mudah.

Fitur aksesibilitas ini biasanya berupa tombol dengan logo WCAG (Web Content Accessibility Guidelines), atau berupa menu Aksesibilitas, atau berupa lambang orang, atau berupa lambang kursi roda. Karena memang fitur aksesibilitas ini diperuntukkan antara lain untuk penyandang disabilitas, sedangkan lambang disabilitas itu sendiri adalah berupa kursi roda.  

Website dengan fitur aksesibilitas inilah yang dikatakan website yang inklusif, karena  bisa diakses oleh semua orang tanpa terkecuali. Contohnya adalah website Pengadilan Negeri Purworejo dan website Pengadilan Negeri Sragen.

Website PN Sragen

Bahkan Google pun telah aktif untuk mempromosikan website yang aksesibel. Google tampaknya sangat memahami keragaman dari pengguna dan pentingnya informasi yang inklusif.

Masalahnya adalah kepada siapa informasi itu ditujukan? (Ini yang sering tidak diperhatikan oleh si pemilik atau pengelola website).

Jika jawabannya adalah untuk semua orang namun masih beranggapan bahwa semua orang bisa melihat dengan baik, namun masih beranggapan bahwa semua orang tidak memiliki kelemahan, maka ya percuma. Akan ada orang-orang yang akan mengalami kesulitan, bahkan tidak bisa, untuk mengakses informasi tersebut.

Jadi, hak atas informasi untuk ‘semua orang’ hanya dapat terwujud jika sumber informasinya bisa diakses oleh semua orang (aksesibel). Sumber informasinya inklusif, di mana tak seorang pun tertinggal. No one left behind.