Krisis pandemi Covid-19 yang melanda masyarakat dunia sejak awal tahun ini telah memaksa kita untuk beradaptasi dengan kebiasaan hidup baru. Segala aktivitas yang semula dilakukan dengan interaksi langsung tatap muka, kini harus dilakukan dari rumah. Tak terkecuali mereka yang bergelut dan memiliki minat di bidang keilmuan.

Ditutupnya sekolah-sekolah dan kampus-kampus perguruan tinggi menghajatkan hadirnya sarana komunikasi baru agar kegiatan-kegiatan akademik tetap berjalan. Secara seketika, sarana komunikasi sosial berbasis live-streaming internet kini menjadi ruang-ruang belajar dan auditorium-auditorium diskusi dan seminar.

Tersedianya banyak waktu karena harus beraktivitas dari rumah, sementara ada gairah keilmuan yang mencuat karena “kesunyian” suasana, memberi peluang bagi kehadiran sarana tersebut untuk memainkan perannya. Walhasil, muncullah apa yang kemudian disebut dengan istilah “webinar”, alias seminar melalui jaringan (web) internet, atau juga dikenal “seminar online”.

Webinar kini makin populer. Kapan pun anda mengaktifkan media sosial, undangan-undangan webinar tersedia dalam notifikasi akun anda. Mungkin di sekitar anda akan ditemui rekan sejawat yang rajin mengikuti webinar. Ia menggejala seperti wabah dan banyak orang terkena demam karenanya. Tentunya hal itu bukan dalam arti sepenuhnya negatif.

Kemudahan dan efisiensi yang diberikan sarana daring menjadikan webinar sebagai gejala sosial yang khas di tengah pandemi saat ini. Pihak pelaksana tidak perlu bersusah payah menyiapkan kursi-kursi peserta dan spanduk acara.

Peserta juga tidak perlu banyak keluar tenaga dan uang untuk mengikuti kegiatan. Cukup duduk selonjor di kasur dengan perangkat-perangkat yang tersambung dengan sinyal internet, orang sudah dapat menikmati sajian ilmiah.

Di satu sisi, gaya berseminar ini mendekatkan khalayak umum dengan para ahli dan ilmuwan nan karismatik. Jika pada masa pra-webinar bertemu dan berinteraksi langsung dengan para pengampu pengetahuan itu jarang terjadi, kecuali pada momen-momen formal, kini orang bisa berinteraksi dengan mereka secara langsung, sekalipun hanya di dunia maya. Hal ini pulalah yang menjadikan webinar memiliki daya tarik sangat kuat.

Selain itu, ada kenikmatan tersendiri dalam menggunakan fasilitas teknologi komunikasi yang sangat canggih. Kenikmatan yang menegaskan identitas sebagai masyarakat modern. Kenikmatan dalam pengertian Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan (2015) ini menjadi kata kunci lainnya dalam memandang popularitas webinar.

Namun di sisi lain, ada satu hal yang kiranya perlu diperhatikan ketika mengikuti webinar. Seminar online pada dasarnya dilakukan dengan bahasa lisan. Transmisi pengetahuan melalui lisan acapkali diperlawankan dengan tulisan. Jalur transmisi pengetahuan berupa subjek-tulisan-objek dalam bahasa tulisan, diperpendek menjadi hanya subjek-objek dalam bahasa lisan.

Jalur yang pendek lagi efisien ini tentu akan lebih diminati tinimbang jalur nalar yang berliku-liku dalam tulisan. Lebih-lebih bagi masyarakat dengan budaya pengetahuan berbasis lisan, sebagaimana fenomena yang terjadi saat ini, webinar dapat diterima dan populer dengan cepat.

Bahasa lisan itu sendiri telah dipermasalahkan oleh Jacques Derrida, seorang filsuf pos-strukturalis Perancis, melalui sepetik pemikirannya tentang bahasa lisan versus tulisan, bunyi versus aksara.

Muhammad al-Fayyadl dalam Derrida (2005) mendedah bahwa Derrida menganggap bahasa lisan, yang sebelumnya dianggap Ferdinand de Saussure, filsuf strukturalis, sebagai bahasa “hakiki”, mengandung unsur penundukan makna oleh penutur (subjek) terhadap pendengar (objek/ the other/ liyan).

Fonosentrisme, atau keterpusatan kepada bunyi (phone) dalam bahasa lisan, memang merupakan salah satu sasaran kritik Derrida sebagai bagian dari proyek dekonstruksinya. Dalam fonosentrisme terkandung penundukan makna karena hadirnya sang subjek atau penutur.

Penundukan makna berarti makna dibuat tunggal dan sang subjek menahbiskan dirinya sebagai pemegang otoritas kebenaran. Inilah agenda logosentrisme yang berlaku dalam metafisika dan pengetahuan modern pada umumnya.

Menghadapi itu, Derrida menggagas tulisan sebagai simbol sekaligus cara melawan dan membongkar kedigdayaan logosentrisme itu. Baginya, tulisan memiliki keistimewaan-keistimewaan:

Pertama, tulisan dapat membunuh otoritas kebenaran pengetahuan karena penutur atau pengarang tidak hadir alias absen. “The Death of the Author” (Kematian Sang Pengarang), demikian judul esai Roland Barthez yang kemudian diamplifikasi Derrida dengan esainya “The Death of Roland Barthez”. Menariknya, “author” adalah kata yang berderivasi menjadi “authority” (otoritas).

Kedua, tulisan memiliki apa yang disebut dengan “spasi” (space) atau ruang kosong. Ruang kosong inilah yang memungkinkan pembaca memasukkan teks lain ke dalamnya. Dengan kata lain, tulisan memungkinkan pembacaan atau tafsir lain terhadap suatu teks. Sejak awal, makna memang tak pernah tunggal dan, dengan tulisan, takkan pernah tunggal.

Di sini kita melihat Derrida mengunggulkan tulisan tinimbang lisan. Tulisan membuka jeruji penjara makna karena sang pengarang yang jadi sipirnya telah absen.  Konsep ini dapat dimaknai bahwa membaca dan menulis lebih utama daripada mendengarkan ceramah. Membaca membuka kemungkinan lahirnya teks-teks baru atau pemahaman-pemahaman yang baru.

Demam webinar dengan karakter bahasa lisannya, jika dilihat sepintas, berpotensi memberi dampak bagi isu literasi yang selama ini dikampanyekan banyak pihak. Ada kecenderungan orang lebih gandrung berwebinar ketimbang membaca teks-teks sumber pengetahuan, sekalipun itu baru terlihat pada tataran individual saja.

Kita berharap jika seandainya nanti dikategorikan sebagai budaya, mungkin karena kita tak mungkin kembali ke masa pra-pandemi, webinar tidak mengganggu budaya membaca yang sedang dibangun.

Terlepas dari semua itu, di tengah badai informasi yang melanda kehidupan kita, webinar sebenarnya punya peran yang positif. Kehadiran para narasumber dari kalangan terdidik yang kompeten di bidangnya dan konsisten dengan karakter ilmiahnya dapat menjadi sumber rujukan utama dalam memahami dunia dan kehidupan kita. Ilmu mereka akan memberikan pencerahan dan kebijaksanaan.

Di lain pihak, peserta yang punya sikap kritis yang bertanggung jawab dan memandang materi-materi yang disampaikan sebagai teks yang terbuka untuk makna-makna baru, akan menjadikan webinar hidup dan bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Agar punya sikap kritis yang bertanggung jawab itu, peserta tentunya harus terlebih dahulu banyak membaca.