Gara-gara thread KKN Desa Penari viral, akhirnya saya dan teman saya, Rani, berniat untuk mencari keberadaan Kang Cilok tersebut. Menggali informasi yang sekiranya dapat melengkapi teka-teki yang ada.

Setelah melakukan perjalanan dari kota A sampai Z lalu kembali lagi ke Kota B, dilanjut menuju ke kecamatan K tapi kembali lagi ke kota B karena powerbank ketinggalan di Warung Nasi Padang, kami sebenarnya sudah hampir pasrah ketika sampai di SPBU yang sesuai dengan cerita karena petugasnya menyangkal kalau ada penjual cilok dekat tempat itu. Kami pun beranjak.

Akhirnya, di tengah perjalanan, kami menjumpai seorang laki-laki umur 30-an dengan rombong bertuliskan 'cilok'. Bukan di dekat SPBU, kali ini ia berhenti di dekat hutan. Mungkin beliaunya berhenti sejenak cari tempat pipis.

Dengan berkedok beli cilok, kami coba basa-basi dan memastikan bahwa seseorang yang kami cari adalah lelaki di hadapan kami ini. Dan benar bahwa beliau adalah satu-satunya penjual cilok di daerah itu sejak sepuluh tahun lalu. Saya pun sedikit menyinggung masalah cerita itu.

Beliau lantas seperti mencari sesuatu dalam rombong tersebut. Sebuah plastik selebar satu meter persegi diambilnya kemudian menggelarnya. Kami pun dipersilakan duduk di atas selembar plastik tadi. 

“SPBU iku panas, ning kene ae adem,” kata beliau. “Engkok wae lek surup, pindah ning panggon biasa e.” Saya merasa ada sedikit penekanan dalam kata terakhir

Kami pun coba menggali informasi dari beliau.

Ngapuntene kang. Apa Anda tahu kalau cerita KKN Desa Penari ini viral dan banyak yang menyebut kalau Anda adalah salah satu saksi kunci?

Kalo cerita yang beredar di media sosial sih kurang ngerti saya. Kalo pas ketemu mereka (Widya dan Wahyu red.)... Sebentar, emm (sambil garuk-garuk kepala)... Mereka cuma beli cilok. Itu aja. Nggak lebih.

Mendengar jawaban tersebut yang juga disertai mimik datar, saya dan teman saya lantas menggernyitkan dahi kemudian saling memandang satu sama lain – dan sedikit kecewa.

Tapi kan Njenengan juga berpesan kepa..

Tiba-tiba tangannya mengisyaratkan agar kami berdua diam. Masih memegangi kepala, beliau tampak berusaha mengingat sesuatu. Raut mukanya kali ini berubah serius.

Sebenarnya saya tidak boleh menjelaskan lebih banyak lagi tentang cerita ini. Tidak dibolehkan oleh ‘seseorang’. Tapi ... (laki-laki itu terdiam sedangkan kami antusias menunggu kata-kata selanjutnya) kalo beli lebih banyak lagi akan saya ceritakan. Hehehe

Bajigur, umpat dalam hati. Lantas uang dua puluh ribu saya keluarkan yang kemudian disambut senyum yang nggateli dari wajah tersebut. 

Seperti tak merasa bersalah sama sekali, beliau lantas menyerahkan dua bungkus besar cilok kepada saya lalu mengisyaratkan untuk menyimpannya dalam tas. Sebuah nampan kecil berisi cilok ditawarkannya kepada kami. “lek iki ra usah dibayar.

Bagaimana kelanjutannya, kang?

Sebenarnya saya sudah tahu gadis itu waktu dia baru datang ke daerah ini. Waktu jualan di seberang SPBU, saya melihatnya di dalam mobil elf yang berjalan pelan. Ada sesuatu yang membuat saya tertarik mengamati gadis tersebut juga ‘sesuatu’ yang dibawa temannya.

Bentar, jadi Anda sebelumnya sudah menyadarinya? 

Saya cuma mengamati dari jauh saja.

Dan Anda bisa melihat ‘itu’?

Iya, dikit sih.

Oh begitu ya. Terus?

Saya menyangka akan terjadi sesuatu pada gadis itu. Setelah itu, saya tidak mengamati lagi gadis itu dan seperti biasanya saya kembali jadi tukang cilok.

Saya sempat berpikir keras mencerna kalimat terakhir itu, sebelum akhirnya lima laki-laki paruh baya mengendarai motor tiba-tiba berhenti membuyarkan pikiran saya. 

Kang cilok menghampirinya. Tanpa kata tanpa isyarat, mereka berlima kemudian meninggalkan kami. Namun sebelum pergi, salah seorang dari mereka menatapku sejenak dan itu yang membuat saya sedikit deg-deg ser. Hanya saya yang menyadarinya, Rani tidak.

Oh iya, kang. Saat gadis itu dan temannya beli cilok di sini, apa Njenengan merasa hal buruk akan terjadi pada mereka?

Pada saat itu, gadis itu tiba-tiba menjumpai saya, namun ia hanya menatap saya. Kemudian teman laki-lakinya datang. Dia lantas menuturkan kalau akan melewati alas (tiit) tersebut. Saya sempat mencegahnya, namun temannya memilih kembali (ke Desa red.). 

Saya hanya berpesan agar menghiraukan apa pun dan tetap berdoa. Anehnya, gadis itu, meski tidak berkata apa-apa tidak henti-hentinya menatap saya dengan tajam.

Hari sudah mulai surup. Dia pun beranjak dari duduknya juga mengisyaratkan kami berdua agar melakukan hal yang sama. “mariki pindah ning panggonan ‘biasa e’,” tutur beliau sembari merapikan alas. Kali ini terdengar jelas penekanan pada penyebutan kata ‘biasa e’.

Kami pun membereskan barang-barang kami. Namun dengan tiba-tiba, Rani menarik tanganku. “Dompetku sepertinya jatuh pas ndek pom bensin kae. Wah piye iki? Ayo balik yo,” tuturnya sedikit panik dan kebingungan.

“Tadi powerbank, sekarang dompet. Piye toh, Ran?” Kami berdua pun minta maaf kepada laki-laki tersebut dan akan menunggunya di seberang SPBU, tempat beliau mangkal. Kami berdua pun bergegas dan berharap dompet tersebut tidak hilang.

“Mas, njenengan ngerti dompet coklat kotak jatuh di sekitar sini kah?” tanya Rani kepada salah satu petugas pom bensin.

“Oh sampean yang tadi toh. Yang ini, Mbak?” Petugas itu menunjukkan sebuah dompet persis sesuai dengan yang dikatakan Rani. Ia lantas mengangguk, terlihat raut lega di mukanya. 

“Ati-ati mbak kalo naruh dompet.” Petugas itu menyerahkan dompet itu kepadanya. “Kalo boleh tahu, sampean ini dari mana barusan?”

“Kami habis wawancara dengan yang jualan cilok di daerah sana, Mas. Setelah ini mau dilanjut lagi. Beliau lagi otw ke tempat biasanya, seberang SPBU sini katanya.” Sambil menunjuk jalan yang mengarah ke hutan tadi.

“Sampeyan kan udah tak bilangin. Di sini ini nggak ada yang jualan cilok. Dari saya awal kerja di sini sampai sekarang nggak ada yang jualan cilok di seberang sana” sambil menunjuk ke seberang jalan. 

Saya dan petugas itu lantas terkejut melihat Rani mengeluarkan sesuatu yang sama sekali tak tampak seperti cilok dalam plastik itu. “Lah kok.. Lah kok.. *^%$$**%$#@”