Anda tidak percaya komunisme bangkit lagi? Buka mata Anda! Kini ideologi itu telah bereinkarnasi menjadi Corona. Kini pengaruhnya bukan hanya pada sepertiga negara, tapi hingga ke seluruh dunia.

Apa kaitannya Corona dengan Komunisme? Begini ceritanya, Corona lahir di Wuhan, Cina, negara yang menganut ideologi komunisme, ideologi yang dicurigai mendompleng di balik RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Nah…

“Tunggu! Apakah Anda mau bilang, Corona adalah rekayasa Cina untuk menguasai dunia? Bukan! Kalau cuma itu seh, basi. Sudah 1001 artikel yang bahas teori konspirasi itu. Saya hanya mau bilang, mungkin di tempat kelahirannya itulah Corona terpapar ideologi komunisme.

Analisis ini, kan, sering dipakai intelijen, misalnya jika seseorang terpapar radikalisme, pasti diusut di mana kampung halamannya, sekolah di mana, bergaul dengan siapa, dan lain-lain. Tapi jangan salah kaprah, saya bukan intel!

Makanya jangan heran, ketika saat ini Corona sudah melanglang buana ke seantero dunia, ia banyak meminjam strategi komunisme. Namun perlu dicatat, strategi komunisme ini tidak merujuk pada panduan Komunisme Internasional, sebagaimana disusun Bang Lenin, Mas Stalin, atau Kang Mao. Bukan pula dikutip dari kitab suci Das Capital Mbah Marx.

Referensi tulisan ini merujuk pada strategi yang ‘dituduhkan’ sering dipakai oleh kaum komunis. Kenapa merujuk ke sana? Karena pembaca tulisan ini diprediksi merupakan musuh komunis dan antek-anteknya. Mereka sangat yakin, bahwa strategi ini benar adanya. Tidak ada keraguan padanya!

Serius? Iya ciyus. Terus?

Pertama, kaum komunis punya strategi ‘gerakan bawah tanah’. Mereka lihai melakukan penyamaran, dan diam-diam melakukan kaderisasi untuk memengaruhi massa rakyat yang berpikiran maju. Strategi kaderisasinya tidak dipublikasikan dengan pamflet – seperti pengaderan mahasiswa yang banyak menghiasi (mengotori?) dinding kampus.

Corona juga memilih perjuangan ’bawah tanah’. Lihat saja, Pemerintah sudah pasang alat deteksi di bandara, tetap saja virus impor ini bisa lolos. Ia sulit terdeteksi, bahkan oleh termometer suhu yang canggih sekalipun. Hal itu terjadi karena Corona pandai menyamarkan diri, seperti dalam diri manusia OTG (Orang Tanpa Gejala).

Kedua, dari segi cara pandang terhadap agama, Corona juga seide dengan komunisme. Agama, kata kaum komunis, merupakan gejala terjadinya alienasi pada diri manusia. Orang-orang beragama adalah orang yang tidak berdaya melawan penindasan kaum borjuis, sehingga mereka berpaling pada agama, agar tahan banting menikmati eksploitasi.

Oleh karenanya agama harus disingkirkan. Corona juga berpikir begitu. Ia menebar ketakutan di tempat ibadah. “Siapa ke rumah Tuhan, maka kami percepat perjumpaannya dengan Tuhannya!” begitu ancaman Corona.

Sebagian besar agamawan rasional menutup ‘rumah Tuhan’ yang mereka kelola, dan menyerukan ‘ibadah di rumah’. Sedangkan agamawan lainnya, yang mendaku ‘lebih takut pada Tuhan daripada Corona’, memilih beribadah seperti biasa. Para Imam muslim, misalnya, tetap menganjurkan buka masjid, Ramadan tetap tarawih, salat Idul Fitri juga seperti bisa, salat Jumat pun tak pernah absen di masjid.

Seperti komunisme, Corona pun tampaknya belum berhasil menaklukkan agama.

Ketiga, sebagaimana Komunisme, Corona juga memberi perhatian lebih terhadap aktivitas kerja. Di era kapitalisme, sabda Marx, kerja membuat manusia teralienasi dari lingkungan sosialnya, dari hasil kerjanya (produknya), maupun dari dirinya sendiri.

Dalam alam kapitalisme, kerja membuat manusia terasing dari sesama, karena mereka dikejar target. Menghabiskan waktu bercengkerama dengan keluarga, tetangga, atau kerabat adalah tindakan sia-sia karena tidak produktif. Sebab, time is money.

Setelah Corona datang, dunia mengalah dengan seruan ‘work from home’. Itu bagi pekerja yang beruntung, sebab jutaan pekerja lainnya harus menerima nasib di-PHK atau dirumahkan, karena perusahaannya bangkrut.

Jika kaum borjuis bangkrut, tak ada lagi eksploitasi bagi kaum proletar. Intinya, karena Corona, banyak impian Karl Heinrich Marx terwujud. Corona berhasil memperjuangkan cita-cita komunisme tanpa revolusi bersenjata.

Keempat, Corona itu suka mengadu domba dan memecah belah. Di level global, Corona berhasil mengadu domba antara Negara super power, Amerika Serikat, dengan organisasi kesehatan dunia (WHO). Adu domba ini sukses, Amerika mundur dari WHO, dan tidak lagi membayar kontribusi sekitar USD 450 juta per tahun. Kalau dirupiahkan, sekitar 6 ribuan triliun. Wah, WHO bakal rugi besar neh.

Di level nasional, Corona berhasil merusak hubungan baik antara beberapa Menteri Jokowi, dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kala itu, Anies harus berhadapan dengan Luhut B. Panjaitan soal ide lockdown hingga Gojek, dengan Menteri Kesehatan tentang PSBB, dan dengan Menteri Sosial Juliari P. Batubara terkait pembagian bansos.

Di level lokal, Corona juga berhasil mengadu domba para gubernur dengan wali kotanya. Lihatlah di Jawa Timur, Corona membuat dua perempuan perkasa bersitegang. Gubernur Khofifah versus Wali Kota Surabaya, Rismaharini. Di Sulawesi Selatan, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dan Pj. Wali Kota Makassar Yusran Yusuf juga terlibat perang dingin. Padahal keduanya merupakan sahabat dan profesor dari almamater yang sama. Corona memang kejam!

Kelicikan Corona tidak sampai di situ. Corona juga menyulut pertikaian antara pasien dan dokter. Beredar rumor, ‘apa pun penyakitnya, corona diagnosisnya’. Jika meninggal di rumah sakit, meski belum ada hasil laboratorium, jenazah pasien diperlakukan sesuai protokol Corona.

Ada kecurigaan, besarnya dana penanganan pasien Covid-19 membuat masyarakat jadi lahan bisnis. Maklum, Kementerian Kesehatan mengalokasikan anggaran ratusan juta untuk tiap pasien Corona.

Kecurigaan yang memuncak melahirkan tragedi penjemputan jenazah PDP (Pasien dalam Pengawasan) Corona secara paksa. Fenomena itu paling mencolok terjadi di Makassar. Dalam satu pekan terakhir, terjadi berulang kali.

Tragedi tak berhenti di situ, kini sudah tak terhitung spanduk penolakan rapid test di banyak kompleks pemukiman di Makassar. Bahkan di salah satu kelurahan, terpampang spanduk bertuliskan, “Paksa rapid test, pulang tinggal nama.” Corona sukses melakukan propaganda. Ia berhasil mencetak kawan-kawan revolusioner.

Aksi menuai reaksi. Sikap warga yang terkesan menyudutkan tenaga kesehatan mendapatkan perlawanan dari Organisasi profesi kesehatan, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), dan organisasi profesi kesehatan lainnya.

Mereka mendesak polisi mengusut berbagai kejadian yang menyudutkan bahkan dianggap memfitnah profesi mereka. Katanya, mereka tak nyaman bekerja di garda terdepan, apalagi mempertaruhkan nyawa, sementara di masyarakat muncul fitnah terhadap integritas mereka. Sungguh terlalu!

Gayung bersambut, polisi berjanji bertindak mengusut pelaku penjemputan paksa jenazah. Polisi kemudian menyusuri siapa saja yang terlibat dalam kasus ini. Bahkan beberapa orang telah berstatus tersangka.

Sekali lagi, Corona berhasil meminjam tangan aparat. Dulu komunisme juga memanfaatkan aparat untuk membungkam lawan politik di negara-negara totaliter yang berhasil dikuasainya.

Nah, dengan empat argumen itu, saya percaya bahwa Corona adalah reinkarnasi Komunisme. Mari ganyang Corona!