Awal tahun 2020, dunia dikejutkan sederet permasalahan. Pembunuhan Jenderal Iran Qasem Soleimani oleh drone Amerika dan masuknya kapal Cina ke Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) menjadi kado awal tahun untuk seluruh penduduk bumi. 

Peristiwa ini menaikkan tensi panas di kalangan negara-negara yang bersangkutan. Isu perang dunia ketiga menjadi bahan perbincangan seluruh elemen masyarakat setelah peristiwa tersebut. Bahkan isu perang dunia ketiga menjadi trending di media sosial selama beberapa hari. 

Masuknya kapal asing pencuri ikan ke perairan Indonesia bukan kali pertama. Dengan kekayaan alam yang Indonesia miliki, tentu membuat negara-negara lain terpikat untuk ikut serta mengolah dan mengelolanya. Keadaan ini dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia yang Indonesia miliki.

Kurangnya kemampuan sumber daya manusia Indonesia membuat negara lain yang memiliki kemampuan sumber daya manusia lebih mempuni ingin ikut bagian dalam pengelolaan sumber daya alam tersebut. 

Keinginan tersebut sering kali berubah menjadi nafsu yang berlebihan yang justru ingin menguasai Indonesia. Fenomena tersebut bukan hanya terjadi kepada Indonesia, melainkan kepada negara-negara berkembang lainnya. 

Salah satu fenomena yang sedang terjadi di dunia saat ini adalah politik pangan yang sedang dimainkan oleh negara maju terhadap negara-negar berkembang. Semakin menipisnya bahan pangan dan juga energi membuat dunia sedang dilanda krisis besar. 

Baca Juga: Autarki Pangan

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mencatat, pada 2018, ada lebih dari 821 juta orang menderita kelaparan, kerawanan pangan, dan gizi buruk di seluruh dunia. Jumlah ini meningkat selam tida tahun terakhir.

Selain itu, PBB juga mencatat ada sebanyak 2 milliar penduduk di seluruh dunia yang mengalami kerawanan pangan dan 149 juta anak yang menderita keterlambatan pertumbuhan (stunting). Data tersebut menjadi bukti nyata akan krisis hebat yang sedang dialami oleh seluruh penduduk bumi. 

Di sisi lain, negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan negara lainnya terus memperkuat ketahanan pangannya untuk menghindarkan rakyatnya dari benca kelaparan. Kondisi ini membuat seluruh negara tidak punya pilihan selain berkompetisi dan bersaing untuk pangan dan sumber daya. Indonesia menjadi sasaran tepat untuk kriteria tersebut.

Kaya akan sumber daya alam dan masih sebagai negara berkembang membuat negara-negara maju mengincar Indonesia. Karena itu, kita jangan heran melihat kondisi Indonesia saat ini yang secara terus-menerus dirundung permasalahan. 

Perbedaan menjadi celah menguntungkan untuk menghancurkan Indonesia dari dalam. Konflik agama, suku, dan ras terus menghiasi kehidupan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini.

Kesenjangan sosial salah satu permasalahan yang sulit untuk diselesaikan di Indonesia saat ini. Tingginya angka pengangguran dan kemiskinan membuat kita sulit bergerak. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2019 sebesar 25,14 juta penduduk.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa masih ada 14.461 desa tertinggal di Indonesia. Angka tersebut setara 19,17% dari total desa di Indonesia yang berjumlah 75.436. 

Sementara itu, desa kategori berkembang ada sekitar 55.369 atau 73,4% di mana desa ini juga masih sangat rentan dan berpotensi kembali menjadi desa tertinggal. Kemudian desa mandiri ada sekitar 5.606 desa atau 7,43%. 

Data di atas menjadi bukti bahwa perlunya solusi untuk mengatasi permasalahan ini di tengah meningkatnya anggaran yang diberikan oleh negara ke setiap desa-desa demi percepatan pembangunan dan kemajuan ekonomi yang akan menguatkan perekonomian Indonesia.

Melimpahnya sumber daya alam Indonesia ternyata tidak cukup untuk membuatnya menjadi sebuah negara maju. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pemerintah Indonesia telah melakukan impor beras sebanyak 2,25 juta ton dengan nilai US$ 1,03 miliar di sepanjang tahun 2018. 

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka angka impor beras pada tahun 2018 menjadi yang paling tinggi. Pada 2015, total impor beras sebanyak 861, 60 ribu ton. Pada 2016, impor beras sebanyak 1,28 juta ton, sedangkan pada 2017 sebanyak 305,27 ibu ton.

Tingginya angka impor ternyata tak selalu dapat menyelesaikan permasalahan pangan Indonesia. Pada tahun 2019, Bulog memusnahkan beras rusak sebanyak 20 ribu ton dengan nilai beras mencapai 160 milliar.

Kondisi ini harusnya membuat kita sedikit sadar bahwa politik pangan sedang terjadi. Memaksa negara berkembang untuk tetap ketergantungan terhadap negara maju adalah salah satu bukti dari politik pangan.

Sebagai rakyat Indonesia, tentu tidak terima jika Indonesia terus-menerus berada di bawah negara-negara superpower tersebut, padahal Indonesia memiliki potensi untuk sejajar dengan mereka.

Kunci utama adalah tetap bersatu tanpa memedulikan perbedaan. Tantangan yang akan Indonesia hadapi ke depan makin sulit dan terjal sehingga rakyat Indonesia harus meningkatkan kompetensi dan kemampuan supaya bisa tetap bersaing.

Majunya sebuah negara sangat tergantung kepada kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya, termasuk Indonesia. Bonus demografi, sumber daya alam melimpah, dan sumber daya manusia yang mempuni akan membuat Indonesia sebagai negara superpower baru di masa yang akan datang. 

Seluruh rakyat Indonesia memipikan hal tersebut dan seluruh rakyat Indonesia harus saling bahu-membahu mewujudkan impian tersebut.