Tidak sekali-dua kali, kita mendapati gadget screen kita dijejali dengan berita tragis seorang ibu yang tega menghabisi nyawa anak kandungnya. Kabar termutakhir menyoal ini datang dari seorang ibu dengan tiga orang anak di Brebes, Kunti Utami.

Wanita berusia 35 tahun tersebut telah menggorok ketiga anaknya sendiri. Satu anak tewas, sedangkan dua lainnya luka parah dan tengah dirawat di RSUD Margono. (detik.com)

Jika kita melakukan pencarian di laman google terkait kasus seorang ibu yang membunuh anak kandungnya sendiri, kita tentu mendapati bahwa kejadian-kejadian demikian sangat berjibun dari tahun ke tahun. Hampir seluruhnya dipicu oleh mental yang ambruk dan beban psikis yang tidak lagi mampu dipikul sendiri.

Mengemban peran ibu bukanlah amanah yang mudah, terlebih jika kita hidup dalam kungkungan sistem yang secara tidak langsung menggerus mental health para ibu.

Jika kita menoleh ke belakang, mencermati perkara demi perkara pembunuhan anak oleh ibu kandungnya sendiri, maka dapat dilihat bahwa faktor-faktor internal pencetusnya terus berotasi pada 4 faktor.

Faktor pertama, kepengurusan rumah tangga tanpa jeda. Tugas rumah tangga seringkali dipandang sebelah mata. Penghargaan yang kurang terhadap dedikasi ibu dalam mengayomi keluarga sangat rentan membuat para ibu kehilangan kekuatan. Terlebih lagi jika pada realitasnya, seorang ibu mengasuh anak dan mengurusi segala beban domestik rumah tangga seorang diri.

Kedua, menyusutnya kualitas interaksi dengan suami. Rumah tangga yang tidak diisi dengan kemauan saling bekerja sama akan menempatkan biduk rumah tangga ke dalam kubangan problematika yang tidak terbendung.

Pasalnya, banyak para suami yang tidak memahami kewajibannya sebagai qowwam, apatis pada urusan keluarga, masih menggeluti berlebihan hobi semasa bujangnya serta tidak memafhumi psikis istrinya. Tabiat suami yang seperti ini luar biasa besar pengaruhnya mengacak adut kewarasan istri, pun melemahkan ketahanan keluarga.

Ketiga, dera himpitan ekonomi. Perekonomian keluarga yang seret di tengah tuntutan kuantitas pengeluaran yang makin melonjak menjadi salah satu pencetus besar remuk redamnya mental istri.

Kebutuhan anak-anak yang tidak terpenuhi akan sangat memilukan hati orang yang mengandung dan melahirkannya. Maka tak jarang para ibu turun ke rana publik untuk ikut menafkahi keluarga. Peran ibu bercabang. Jika ibu tidak gigih mengatur pengaktualan perannya, maka kepengurusan keluarga akan berantakan.

Keempat, kemampuan personal ibu dalam mengelola emosi negatif dalam dirinya. Pakar parenting nasional, Elly risman pernah menyampaikan, “selesailah dengan dirimu terlebih dahulu, lalu mengasuh.”

Artinya kita perlu menuntaskan penyakit batin masa lalu, luka pengasuhan, innerchild, trauma dan sejenisnya sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Sebab anak-anak adalah amanah yang wajib diasuh dengan cinta dan pengorbanan.

Pengkajian solusi mengenai kisruh persoalan ini tidak boleh hanya selesai sampai kepada keempat faktor tersebut. Sejatinya dalam merespon sebuah fakta, terkhusus untuk kaum muslimin, kita perlu menguliti dan menganalisa perkara dengan pemikiran yang mustanir hingga ke akar persoalan. Hal ini perlu dilakukan agar solusi yang diupayakan sinkron dengan fakta yang tengah terjadi.

Masih ada faktor eksternal atau trigger skala besar yang menjadi pencetus awal munculnya keempat faktor yang telah dijelaskan sebelumnya. Jika pencetus ini tidak diselesaikan, maka selamanya kasus-kasus biadab seperti ini tidak akan menemui babak kelangkaan.

Tidak dapat ditampik, sistem hari ini menyuplai beban kehidupan yang berlipat-lipat, tuntutan kehidupan makin beranak pinang, urusan halal-haram tidak lagi jadi bahan menakar, kriminalitas meningkat, ditambah lagi dengan minimnya penanganan oleh pihak yang diberi mandat menangani urusan-urusan umat.

Belenggu asas sekulerisme yang merupakan output dari penerapan sistem kapitalisme sangat tidak sejalan dengan upaya merawat mental health masyarakat yang berada dalam naungannya. Terutama kaum ibu.

Harga bahan pokok yang tidak lagi sebanding dengan lajunya pendapatan membuat keikutsertaan bekerja di luar rumah bukan lagi opsi bagi para ibu, tapi sebuah keharusan. Ditambah lagi dengan tagihan asuransi kesehatan yang difardukan, juga sektor pendidikan yang ikut pula dikapitalisasi. Bagaimana tidak sulit menjaga kewarasan?

Kerasnya kehidupan dibawah naungan sistem karya makhluk perlahan menggerus fitrah kaum ibu. Posisi ibu sebagai ummu wa robbatul bayt makin mengerucut. Kaum ibu kehilangan kendali, kerdil tujuan pengasuhan, dan surut kelembutan.

 Maraknya sebuah peristiwa merupakan indikasi adanya persoalan sistemik. Maka sebuah kesalahan fatal jika perkara pembunuhan anak yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri hanya di-clear-kan pada sebatas perbaikan kejiwaan individu semata.

Segala faktor sistemik yang memasok masalah kejiwaan kaum ibu harus seluruhnya dituntaskan. Dan itu hanya dapat diaktualkan dengan menerapkan sistem kepengaturan Pencipta, bukan sistem yang berasal dari akal-akalan manusia.

Para suami, bersamailah istri dengan perlakuan yang baik. Lafal ijab kabul di hari menikahinya adalah sungguh kalimat berat di sisi Allah SWT.

……, Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya. (TQS.An- Nisa: 19)

Para Ibu, ketika kita menginginkan kehadiran anak artinya kita telah siap mengeliminasi batas-batas kesabaran, juga siap untuk menghadapi tantangan pengasuhan yang makin tajam dengan banyak belajar.

Maka para ibu, dekatkanlah diri pada Allah, kenali tuntunan-tuntunanNya dengan aktif  melibatkan diri pada majelis ilmu dan memperbaiki circle pertemanan.

Yakini bahwa setiap tenaga dan waktu kita yang tercurahkan selama mengandung 9 bulan, menyusui 2 tahun, merawat, mengasuh, mendidik anak-anak kita serta seluruh aktivitas harian berulang yang terkadang menjemukan tidak akan mungkin bernilai sia-sia. Perhitungan Allah tidak akan pernah keliru.

Sisi-sisi spiritual kitalah yang akan membantu kita untuk mengendalikan diri dari hal-hal keji ketika mengasuh anak.