42495_59038.jpg
Hoarfrost (1845) Painting by Theodore Rousseau
Agama · 4 menit baca

Waspada Khotbah Radikal

Selama niat untuk menjadi lebih baik masih terjaga dengan tulus dan hidup yang lurus-lurus saja demi keberagaman bersama, maka sebagai orang yang berilmu janganlah memaksakan ego seseorang untuk menjadi lebih radikal dalam beragama. 

Orang yang semakin tinggi ilmunya akan semakin menunduk dalam arti banyak belajar, bukan petantang-petenteng membawa-bawa dalil dan menghasut pendengar ceramah demi bertindak rasis kepada yang berbeda agama. Itu adalah merupakan tindakan awal mula berupa cikal-bakal lahirnya teroris perusak ideologi NKRI.

Saya suka menyimak mendengar ceramah mengenai pemikiran agama dan saya suka bila ceramah itu dapat menenangkan batin meluruskan pemikiran. Dan saya akan merasa stres berat bila mendengar ceramah yang banyak berisi penghasutan, marah-marah yang seakan memaksa untuk bertindak keras terhadap yang tidak seakidah dengan iman. 

Dalam pengertian yang saya pelajari bahwa beragama adalah cinta akan kedamaian, beragama bukan mengajak orang untuk membenci. Di sinilah jika terlalu banyak belajar agama dan kurang belajar filsafat, sperti terlalu banyak keyakinan namun sedikit menghasilkan kritik.

Bagaimanapun segala sesuatu memiliki nilai yang mesti dipertanyakan dan belajar agama bukan berarti harus memperbanyak keyakinan sebab pemikiran juga dibutuhkan agar tidak melenceng dengan tindakan-tindakan anarkis akibat salah memaknainya dalil.

Kita melihat dan memperhatikan kejadian yang senantiasa terjadi belakangan ini. Terlalu beriman bisa merusak persatuan NKRI. Seseorang boleh beriman secara radikal, tapi bisakah membayangkan hidup ke Suriah? Tentu tidak sebab Indonesia negara ini adalah rahmat bagi alam semesta yang berdiri untuk keberagaman, bukan berdiri untuk satu agama.

Seseorang yang beribadah ke masjid untuk mencari ketenangan di hari Jumat menjadi hilang kekhusyukan dalam beribadah lantaran sang khatib terlalu ekstrem dalam berceramah mengajak para pendengar agar jihad untuk mendukung HTI kembali.

Saya gak habis pikir dan memikirkan berulang-ulang kenapa hal-hal norak seperti mengembalikan Islam 100% masih juga terjadi. Saya berpikir kenapa para pemuka agama radikal diberi kesempatan untuk berceramah khutbah Jumat sementara banyak di antara teman-teman sanak saudara yang kebetulan pulang dari kantor banting tulang kecapean kerja berniat pergi ke mesjid untuk mencari ketenangan batin malah menjadi tambah stres lantaran isi ceramah kebanyakan marah-marah caci maki fitnah segala macam.

Tentu kita bosan dengan semua cemooh dari khutbah yang tak meneduhkan itu dan diharapkan agar kiranya segala isi khutbah dan ceramah diperhatikan oleh pemerintah agar tidak terjadi lagi hal-hal yang berbau radikal menghasut generasi bangsa.

Pada akhirnya teman saya mengajukan pertanyaan kepada saya, "Di mana ya salat Jumat yang tidak radikal khutbahnya? Sebab pening kali kepala dengar ceramah marah-marah, udah di kantor banyak tekanan tambah di sini isi khutbah tak meneduhkan tak ada jadinya kekhusukan dalam beribadah shalat Jumat ini gara-gara khutbah uwak itu terlalu radikal."

Keganjilan paradoks beragama seperti yang sering kita hadapi adalah ketika ada orang yang mengajak untuk melakukan kebaikan, malah dia tak melakukan kebaikan. Bicara pande namun menerapkan kepada diri sendiri susahnya minyak ampun. Seperti ada ustaz yang mengajak boikot produk Amerika tapi kita tengok hape yang ia punya adalah IPHONE.

Ada ustaz yang mengajak untuk mengutuk Israel tapi update status di Facebook yang seperti kita tahu Facebook adalah milik orang Yahudi. Tentu otak kita akan pecah melihat kemunafikan dari merasa sok suci, yaitu orang-orang yang menunjukkan kesuciannya di depan umum agar dapat pujian dan like yang banyak.

Dalam buku kumpulan esai Goenawan Mohammad berjudul Duka, Debu, dsb, ada satu persoalan yang mula-mula dikemukakan oleh Abu al-Hasan al-Ash'ari, yang hidup di awal abad ke-10 di Basra, Irak. Persoalan ini satu abad kemudian konon diulangi Al-Ghazali, seorang alim yang termasyhur dari Kota Tus di Khorasan.

Mari kita bayangkan seorang bocah dan seorang dewasa ada di surga. Mereka berdua meninggal di jalan yang benar, tapi si orang dewasa berada di tempat yang lebih luhur. Dan si bocah bertanya kepada Tuhan, "Kenapa kau beri orang itu tempat yang lebih tinggi?" Dan Tuhan menjawab, "Karena ia telah menjalankan banyak amal yang baik."

Maka anak itu pun bertanya lagi, "Kenapa kau buat aku mati begitu cepat sehingga aku dicegah menjalankan perbuatan baik?" Tuhan pun akan menyahut, "Aku tahu bahwa kau kelak akan jadi seorang pendosa. Sebab itulah lebih baik kalau kamu mati semasa masih anak-anak."

Tak urung, sebuah teriakan terdengar dari kalangan mereka yang disiksa di kerak neraka. "Kenapa, ya Tuhan, tak Kau biarkan kami mati sebelum kami jadi orang yang berdosa?"

Tak diceritakan bagaimana dalam kisah imajiner ini Tuhan menyahut. Tapi justru dengan itu Al-Ghazali dan kaum Ash'ariah hendak menunjukkan bahwa kita tak bisa menilai tindakan dan keputusan Tuhan. Iradah-Nya tak dapat ditaruh pada skala rasionalitas dan itulah inti kritik para perumus teologi yang membantah pemikiran Muktazillah di abad ke-9.

Pemikiran Muktazillah, yang selama seribu dua ratus tahun lamanya memicu perdebatan dalam teologi dan filsafat Islam, menekankan keadilan dan ketinggalan Tuhan. Karena Ia adil dan karena Ia esa, Tuhan tak dapat dikaitkan dengan Mala kekejian.

Yang menunjukkan kesadaran kita dari cerita tersebut adalah bahwa Iman seseorang tidak bisa dijudge seenaknya, bahkan sekelas Nabi pun tak bisa mampu memastikan apakah seseorang yang bejat layak atau tidak masuk surga. Dan seorang pemuka agama tak selayaknya mampu merasa paling benar dalam menyuarakan ceramah ekstrem. 

Seorang yang ingin salat Jumat adalah orang yang mencari ketenangan dan keteduhan, jangan rusak kekhusukan seseorang dalam beribadah dengan khutbah radikal. Mengajak kejalan yang lurus itu baik namun memaksa orang untuk membenci adalah dosa terbesar. 

Untuk apa ada agama kalau hanya bisanya membenci? Untuk apa ada pemuka agama kalau hanya bisa menghasut? Kumpul doa ramai-ramai namun isinya mencaci-maki pemerintahan. Kebangsaan kita seakan mati dan bila ini semakin menjadi-jadi maka tak selayaknya khutbah radikal terus berlangsung.