1 minggu lalu · 8417 view · 3 menit baca · Politik 91661_87935.jpg
Foto: Merdeka

Wasiat Prabowo yang Menakutkan

Ajal Prabowo Subianto sepertinya sudah di batang leher. Pertandanya datang dari surat wasiat yang katanya akan dan mungkin sedang ia tuliskan hari ini, dibantu oleh sejumlah ahli hukum pengagumnya.

“Saudara-saudara sekalian, setelah sore ini, saya ke Kertanegara, akan saya kumpulkan ahli hukum. Saya akan buat surat wasiat saya.”

Ngeri. Itu disampaikan di hadapan para pendukung dan simpatisannya, lewat simposium Mengungkap Fakta Kecurangan Pemilu 2019 yang berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (14/5).

Apa isinya? Belum diketahui pasti. Tetapi sejumlah kaki-tangannya sudah mengungkap, surat wasiat itu berisi panduan hidup ala Prabowo. Seperti kata Jubir Gerindra, Andre Rosiade, isi suratnya adalah langkah ke depan dan pesan untuk rakyat Indonesia.

Sandiaga Uno pun membocorkan hal senada. Meski sebagai pegangan Prabowo dan (mungkin) harus diikuti oleh semua pemilihnya, tetapi Sandi menegaskan bahwa surat wasiat tersebut sama sekali tidak berisi tindakan-tindakan brutal.

Bahwa surat itu, kata Sandi, adalah bagian dari upaya memperbaiki demokrasi. Tidak berisi tindakan di luar koridor hukum (makar) sebagaimana persepsi lawan-lawannya selama ini.

“Yang dapat kita yakinkan kepada semua rakyat Indonesia, apa yang kita lakukan semua dalam koridor konstitusi, semua dalam koridor hukum. Dan insyaallah ini berjalan damai. Ini jalannya memperbaiki pilar demokrasi kita dan kita berikhtiar demi kebaikan bangsa.”

Narasi Ketakutan

Bukan Prabowo namanya kalau tidak menggunakan narasi ketakutan sebagai senjata politik. Sudah berkali-kali ia menampakkan ujaran model begitu. Arah dan tujuannya bisa kita tebak: mengeruk empati.

Tentu kita masih ingat bagaimana narasi “Indonesia bubar”-nya. Lewat video yang Facebook Gerindra unggah pada Senin, 19 Maret 2019, gamblang ia tebar:

“Gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini. Tetapi, di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung, mereka ramalkan kita ini bubar.”

Baca Juga: Menolak Prabowo

Firman Imanuddin dalam Prabowo dan Politik Rasa Takut sudah membedahnya. Ia menulis pernyataan Prabowo terkait Indonesia akan bubar pada 2030 itu hanyalah narasi ketakutan belaka. Media, terutama politisi, sangat gemar menggunakannya sebagai alat penjual citra.

Tidak peduli apakah itu berbasis data/fakta atau tidak. Dalam narasi ketakutan, kelebaianlah yang utama; membungkusnya dengan statistik yang berlebihan serta kata-kata yang ambigu lagi emosional.

Bagaimana narasi ketakutan itu akan bekerja?

Meminjam penjelasan Altheide (2006), Firman paparkan sejumlah komponennya. Pertama, mereduksi dan membingkai suatu kejadian secara berlebihan atau tidak relevan menjadi narasi “korban”. Kedua, melibatkan pengkambinghitaman suatu orang atau kelompok sebagai sumber bahaya atau ancaman. Ketiga, menjual “solusi”.

Kini, upaya semacam itu hendak Prabowo hentak kembali. Ia yakinkan pendukung dan simpatisannya bahwa rakyat Indonesia hari ini hidup di tengah masifnya perampasan dan pemerkosaan demokrasi. Ia mengarahkan kelompoknya sebagai korban kekejaman rezim.

Untuk itulah Prabowo mewacanakan akan membuat surat wasiat. Ia mengajukan diri sebagai martir. Ia tegaskan kepada publik bahwa dirinya siap melawan hingga titik darah penghabisan.

“Kalau proses perampasan dan pemerkosasan ini berjalan terus, hanya rakyatlah yang menentukan. Selama rakyat percaya dengan saya, selama itulah saya bersama rakyat Indonesia. Jangan khawatir, saya bersama rakyat, selalu bersama rakyat, sampai titik darah saya yang terakhir.”

Berbalut Hoaks

Saya kira bukan nafas ketakutan semata yang patut kita khawatirkan. Yang membuatnya jadi sangat berbahaya adalah karena narasi ketakutan tersebut berbalut kebohongan (hoaks). Dan hoaks, di mana-mana, kerap jadi biang malapetaka.


Lihatlah klaim Prabowo. Belum apa-apa, rilis resmi dari KPU belum keluar, sudah menyatakan diri telah memenangkan mandat rakyat. Tak terhitung lagi berapa kali laku itu terus digaungkan. Seolah ingin merealisasikan kata-kata Joseph Goebbels: A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes the truth.

Guna meneguhkannya, Prabowo lalu mengimbau kepada semua orang (yang gampang ia manipulasi) untuk terus mempertahankan. 

Jika ada di antara mereka yang menyerah, kata Prabowo, itu berarti telah berkhianat kepada negara dan rakyat; berkhianat kepada pendiri-pendiri bangsa; berkhianat kepada puluhan ribu orang yang gugur untuk mendirikan Negara Republik Indonesia.

Ambisius? Iya. Tetapi Prabowo meyakinkan publik bahwa ambisi yang dipertahankannya itu bukan ambisi pribadi. Demi allah, katanya, semata untuk penegakan keadilan bagi seluruh rakyat.

Artikel Terkait