Islam adalah agama cinta damai dan penuh kasih (rahmatan lil ‘âlamîn). Begitulah pesan profetik Nabi Muhammad Saw sejak misi suci itu pertamakali dirisalahkan. Tapi kini, pesonanya mulai memudar dilumuri faham-faham intoleran dan sikap juru dakwah yang gemar memaki dan memprovokasi. Ini tidak bisa dibiarkan. Sebab berpotensi mengancam kerukunan hidup umat beragama dan kelangsungan masa depan kebangsaan kita.

Pada hari-hari yang belakangan, saat suasana kebatinan kita masih dirundung awan kelam pandemi yang tak menentu, masih saja terdapat perundungan kepada umat agama lain. 

Di mana sekelompok warga Tulang Bawang, Lampung dan Jambi secara berjama’ah mempersoalkan keberadaan gereja yang tegak berdiri di tempat yang berbeda. Aksi intoleran ini dilakukan saat saudara-saudara kita itu tengah merayakan ibadah Natal 2021 lalu.

Apa yang dilakukan sekelompok warga di atas sebetulnya mencerminkan watak retak dari para juru dakwah atau pemuka agamanya yang juga gemar memaki dan memprovokasi. 

Kebencian terhadap umat lain malah sering diproduksi di mimbar-mimbar jum’at, majelis taklim, dan sejumlah acara keagamaan lain—hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Klaim universalisme Islam sebagai agama ramah dan penuh damai sama sekali tidak ditampilkan oleh para juru dakwah kita.

Indonesia dengan keragaman suku, budaya, bahasa, dan agamanya merupakan aneka kekayaan yang patut disyukuri bersama. Namun, keragaman itu juga menyimpan potensi segregasi yang bisa membelah kesatuan menjadi permusuhan. Tentu saja kita tidak menghendaki itu terjadi. 

Dan karena itu, para juru dakwah sebagai "penyambung lidah" para nabi memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk memaklumatkan perbedaan dengan selalu mendakwahkan Islam yang ramah, toleran, inklusif, dan moderat (moderasi Islam/washatiyah Islam).

Washatiyah Islam

Islam Indonesia adalah Islam wasathiyah atau moderat. Watak wasathiyah Islam Indonesia termanifestasi dengan jelas dalam sikap tawasut (moderasi), tasamuh (toleran), ta’adul (proposional), dan tawazun (seimbang) dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam sikap beragama bahkan bernegara.

Dalam beragama, Islam Indonesia mengambil sikap moderasi (berada di tengah) di antara dua posisi ekstrem kiri dan kanan. Ekstrem kanan biasanya representasi dari pemahaman Islam ekslusif, konservatif, dan tekstualis. Mereka lebih menghendaki penerapan syariah secara ketat dan kaku, seperti menginginkan hukuman rajam, cambuk, dan potong tangan.

Sementara ekstrim kiri lebih menitikberatkan pemahaman Islam yang liberal, bebas tanpa aturan agama. Prinsip bebas tanpa aturan ini tidak jarang melabrak norma-norma agama yang sudah jamak disepakati. Mereka tidak lagi mempersoalkan seks bebas, mabuk-mabukan, bahkan membolehkan praktik nikah sesama jenis atau biasa disebut LGBT.

Adapun sikap moderasi Islam Indonesia dalam hubungannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara cukup bijaksana dan mementingkan kemaslahan masyarakat. Dalam catatan sejarah, Islam Indonesia menerima Pancasila sebagai dasar negara. Padahal, secara kuantitas Indonesia dihuni mayoritas Umat Islam. 

Tetapi demi menjaga keutuhan dan persatuan bangsa, Islam Indonesia dengan rela hati dan lapang dada menerima Pancasila. Islam Indonesia tidak keberatan mencoret ‘tujuh kata’ dalam Pembukaan UUD 1945. Kata “Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya” dicoret dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Bila kita telusuri ke belakang, sikap dan watak moderasi Islam Indonesia sebetulnya sudah terjadi sejak penyebaran Islam di bumi Nusantara ini. Dalam catatan saya, semua juru dakwah, ulama (dalam hal ini adalah Walisongo) datang ke bumi Nusantara membawa Islam penuh dengan kedamaian. Tanpa ada konflik berdarah. 

Kehadiran mereka tanpa membawa pasukan perang, melainkan misi profetik, yaitu menyeru kepada keesaan Tuhan dan jalan keselamatan.

Secara teoritis, konsep wasathiyah atau moderasi beragama yang dipraktekan Islam Indonesia sejak awal kemunculannya hingga kini, merupakan representasi dari pengalaman pesan moral yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran. Surat Al-Baqoroh: 143 yang berbunyi:

و كذالك جعلناكم أمة وسطا لتكون شهداء على الناس و يكون الرسول عليكم شهيدا

“Demikian pula Kami telah menjadikan kamu [umat Islam] ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul [Muhammad] menjadi saksi atas [perbuatan] kamu”.

Prof. Dr. Azyumardi Azra pernah mengatakan, bahwa jati diri Islam Indonesia itu adalah wasathiyah atau moderasi beragama yang memiliki ortodoksinya sendiri, yang terdiri dari tiga aspek sekaligus: pertama, dari segi kalam (teologi). Islam Indonesia mendasarkan aqidahnya pada aliran kalam Asy’ariyah-Jabariyah. Dalam studi kalam, Asy’ariyah-Jabariyah merupakan jalan tengah antara Mu’tazilah dan Khawarij. Kedua, dari segi fiqh. 

Islam Indonesia menganut mazhab Syafi’i, yang memoderasi pandangan mazhab Abu Hanifah yang rasional dan mazhab Ahmad bin Hambal yang tekstualis. Dan ketiga adalah dari segi aliran tasawuf. Islam Indonesia mengikuti tasawuf al-Ghazali, yang biasanya disebut tasawuf akhlaqi (amali). Ketiga aspek ortodoksi ini terbentuk sejak abad 17-18 dan seterusnya.

Secara garis besar, Islam Indonesia berbeda dengan Islam Arab dan dunia Islam lain. Perbedaan itu bisa dilihat dalam penerimaan budaya. Islam Indonesia sangat akomodatif terhadap budaya atau tradisi. 

Sejak dulu hingga kini, Islam Indonesia menerima budaya, bahkan menjadikan budaya sebagai sarana perjuangan dalam berdakwah. Sunan Kalijaga misalnya, menjadikan wayang sebagai sarana untuk berdakwah. 

Kita pun tidak keberatan menggunakan bedug, menara, dan kuba—yang merupakan budaya lain— sebagai ornamen keagamaan.

Namun demikian, keberadaan Islam Indonesia yang berciri wasathiyah atau moderat itu bukan tanpa tantangan yang berarti. Paling tidak ada dua tantangan yang mesti menjadi perhatian Islam Indonesia. 

Pertama adalah kemunculan Islam trans-nasional seperti Wahabi dan HTI yang menghendaki penerapan syariah secara ketat dan kaku, dan menghendaki berdirinya sistem khilafah di negari ini. Itu semua terjadi sebagai akibat dari demokratisasi dan liberalisasi politik pasca tumbangnya Orde Baru (Orba) Soeharto. Dan yang kedua adalah sikap ekslusif dan fanatik buta umat beragama yang melahirkan klaim kebenaran. 

Akibat dari pemahaman ini, bangsa ini beberapa kali menghadapi kasus konflik berlatar agama. Sebut saja di antaranya adalah, kasus Poso (tahun 1998-2000), Ambon (1999), Jawa Timur (1996), Ahmadiyah Cikeusik Banten (2011), dan Syi’ah Sampang (2011). 

Belum lagi kasus pemboman terhadap sejumlah Gereja pada tahun 2000 silam yang terjadi pada malam Natal, dan beberapa kasus serupa di beberapa tempat di Indonesia.

Untuk menghadapi itu semua, ormas-ormas Islam di Indonesia harus mengarahkan orientasi dakwah dan perjuangannya ke dalam pemahaman Islam wasathiyah atau moderasi beragama. 

Hanya dengan itu, kemunculan Islam trans-nasional yang menghendaki penerapan syariat dan penegakan khilafah, dan juga sikap ekslusif beragama, bisa diatasi. 

Peran Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai wakil Islam wasathiyah harus menjadi lokomotif perubahan dan aktor utama dalam menerapkan Islam wasathiyah di negeri ini.

Sebagai penutup, Indonesia adalah bangsa yang majemuk, plural, dan multikultural, baik dari segi bahasa, suku, budaya, bahkan agama. Fakta ini menjadi berkah bagi Indonesia, tapi boleh jadi bisa juga menjadi petaka bila tidak dikelola dengan baik dan benar. 

Mendakwahkan Islam yang ramah, toleran, penuh cinta kasih kepada sesama manusia harus menjadi prioritas utama. Nilai-nilai itu semua merupakan watak dan sikap dari Islam wasathiyah. Wallahua’lam!