7 bulan lalu · 226 view · 3 menit baca · Filsafat 91692_27566.jpg
Jalan Percetakan Negara, Jakarta: sekitar kantor BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan Ditjen P2P (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit).

Warung-Warung di Sekitar BPOM

Di tepi jalan yang teduh itu, kadang-kadang ramai orang menjajakan beragam makanan. Sesekali tampak para pegawai berpakaian rapi-rapi sedang jajan. Pagi hari, mereka cari nasi uduk atau soto atau bubur ayam atau bubur kacang ijo. Nanti agak siang sedikit, seraya menenteng dompet dan smartphone, beberapa cari makan siang. 

Di warung-warung itu mereka makan begitu lahap. Maklum, mengawasi peredaran obat dan makanan dari Sabang sampai Papua bukan pekerjaan main-main, Bung. 

Tapi bagaimana dengan makanan di warung-warung itu? Adakah mereka tercakup, atau luput dari pengamatan lembaga yang tugasnya... Hush, jangan banyak tanya. Mereka sedang lapar. Biarlah mereka makan dulu. Nanti kalau mau tanya-tanya, di kantor saja, ya. Di sana ada data-data statistik yang akan memuaskan pertanyaanmu.

Tak jauh dari situ, sebuah gerobak soto berdiri dengan percaya diri di atas trotoar. Di dekatnya berjejer meja dan kursi untuk pembeli. Hush, mereka bukan cuma pembeli. Oh ya ya, maaf: customer. Di latar belakang warung soto itu, berdiri sebuah kantor polisi yang kusam. Beberapa polisi sekali waktu jadi customer soto juga.

Lho, tapi, apa boleh trotoar dipakai untuk ... Ssst, jangan cerewet. Sebab, belum dapat dipastikan apakah menurut hukum polisi berhak mengusir pedagang dari trotoar. Pun kalau polisi punya hak, masih harus dikaji: adakah kata “pedagang” yang dimaksud dalam hukum itu pedagang soto atau siomay atau ketoprak? 

Dan, kalau pedagang soto ternyata termasuk yang harus diusir dari trotoar, masih harus diteliti lagi: adakah warungnya cuma gerobak atau bangunan semi-permanen atau permanen atau bagaimana? Sebab, hukum harus pasti. Tak boleh mendua arti. Begitu seterusnya, sampai kita diminta maklum. 

Hidup di abad ke-21 ini memang wajib serba terukur dan terhitung. Segalanya harus terasa efektif, efisien. Tapi efektif dan efisien tak bisa hanya dirasakan. Dari situ muncul statistik, hukum: perangkat-perangkat yang diharapkan bisa menjamin kepastian. Di luar itu: nonsense.

Tapi, kepastian bisa juga menjerumuskan. Warung-warung itu cuma simbol: makanan-minuman yang tak jelas izin edarnya, warung soto di trotoar yang tentu setiap hari dilihat polisi. 

Dari situ tergambar, angka dan huruf-huruf yang membeku dalam statistik dan hukum itu bisa mengaburkan apa yang dari common sense justru terang-benderang: aturan dilanggar, dan pelanggaran toh biasa, sejauh statistik oke-oke saja dan hukum bisa menjelma jadi akrobat argumentasi yang memusingkan. Selebihnya, ‘TST’ saja.

Jauh sebelum warung-warung beranak-pinak di sekitar BPOM, di sebuah kamar di kota Freiburg sekitar tahun 1936, Edmund Husserl, seorang ahli filsafat berlatar pendidikan matematika, tekun menulis baris demi baris sampai membentuk sebuah buku. Judulnya terdengar agak ruwet: Die Krisis der europäischen Wissenschaften und die transzendentale Phänomenologie (Krisis Ilmu-ilmu Eropa dan Fenomenologi Transendental).

Di salah satu bagian buku itu Husserl menjelaskan, mengapa sains bisa sampai melupakan common sense. Istilahnya yang khas: “dunia-kehidupan” (Lebenswelt)—dunia sebelum dibebani oleh sains, statistik, hukum; dunia yang tadi lekas-lekas kita bungkam dengan ‘hush, jangan banyak tanya’ dan ‘ssst, jangan cerewet.’

Husserl menunjuk Galileo sebagai permulaan perkara. Pada Galileo-lah, untuk pertama kalinya dalam sejarah sains, terjadi apa yang disebut Husserl “matematisasi atas alam.” Dengan itu dunia matematika mulai berjalan sendiri, seakan-akan mandiri dari bumi, juga dari manusia yang memikirkannya. Lebih jauh lagi, dunia matematika ditahbiskan jadi kenyataan, bahkan satu-satunya yang nyata.

Adakah yang salah dengan itu? Kata Husserl merumuskan kesesatan Galileo:

“Matematika dan sains matematis, sebagai busana ide-ide, atau busana simbol-simbol teori matematika simbolik, melingkupi segala sesuatu yang, bagi para ilmuwan dan orang terdidik secara umum, merepresentasikan dunia-kehidupan, menyelubunginya sebagai alam yang ‘secara objektif aktual dan nyata’. Lewat busana ide-ide inilah kita menganggap nyata apa yang sesungguhnya adalah metode.”

Perkara warung-warung di sekitar BPOM itu barangkali tak seberapa. Tapi statistik tak hanya dipakai di BPOM, dan hukum tak hanya berlaku di Jalan Percetakan Negara. Statistik juga mengukur tingkat kemiskinan, indeks pembangunan manusia, dan seterusnya. Dan belum lama kita dengar, hukum bisa mengirim seorang yang cuma mengeluhkan suara azan ke penjara.

Sampai kapan kita terus ber-‘TST’, bila ternyata perkaranya telah jadi begitu besar?