Di Aceh, warung kopi adalah tempat primadona. Orang merdeka kapan saja bisa mengunjungi warkop, sementara PNS curi-curi waktu ke warkop saat jam kerja. Begitu nikmat dan menggodakah menyeruput secangkir kopi di warung kopi?

Bagi masyarakat Aceh, masjid dan warung kopi (warkop) adalah dua tempat yang tak bisa dipisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat Aceh. Dua tempat ini menjadi simbol kekuatan dalam segala aspek kehidupan di Serambi Mekkah: baik aspek sosial, spiritual hingga politik.

Dari dua tempat tersebut, dalam tulisan ini difokuskan pada warkop. Kedekatan masyarakat Aceh dengan warkop telah terjalin bagaikan ikatan cinta, masyarakat dengan setia di warkop dari pagi hingga malam. Di Aceh warkop menghiasi jalan raya hingga pedesaan dan Aceh pun dikenal dengan nama 1001 Warung Kopi.

Warkop bagi masyarakat Aceh bukan hanya sekedar menyeruput secangkir kopi, tapi juga sebagai tempat obrolan paling menarik dan mengasikkan bagi siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin maupun strata sosial.

T. Zulfikar, Direktur ICAIOS dan Dosen UIN Ar-Raniry dalam tulisannya dalam buku De Atjehers: Dari Serambi Mekkah ke Serambi Kopi menyebutkan bahwa “Dikarenakan kebiasaan masyarakat Aceh menghabiskan waktu di warkop, maka institusi bisnis sekaligus sosial tersebut menjadi the third space bahkan the first space.”

Maksud dari the third space tersebut ialah ruang alternatif, selain rumah dan perkantoran. Warkop sebagai ruang alternatif ini bisa saja menjadi the first space, hal ini dikarenakan warkop dapat menggantikan kegiatan sarapan pagi di rumah, banyak juga yang bekerja di perkantoran maupun yang tidak memiliki pekerjaan tetap, memilih untuk minum kopi di warkop daripada minum kopi di rumah.

Dari tulisan T. Zulfikar di atas dapat dipahami bahwa warkop dengan secangkir kopi sudah menjadi identitas dan ikon bagi masyarakat Aceh itu sendiri. Apa pun pekerjaan yang sedang dikerjakan maupun obrolan yang sedang dibahas tempat paling hits untuk nongkrong adalah warkop.

Beralihnya aktivitas masyarakat ke warkop menjadi problem tersendiri bagi Pemerintahan Aceh karena banyak dari PNS (Pegawai Negeri Sipil) keluyuran di saat jam-jam kerja, mereka keluar kantor hanya sekedar minum kopi.

Sudah menjadi tradisi Satpol PP di Aceh merazia PNS yang asik nongkrong dan ngobrol di warkop saat jam kerja, bagi yang kedapatan nongkrong biasanya hanya diberi peringatan atau pembinaan. Walaupun begitu masih saja ada sebagian PNS keluyuran ke warkop laiknya orang merdeka yang bisa kapan saja ke warkop.

Di Jakarta Satpol PP hal yang biasa ketika mereka merazia pedagang kaki lima di jalan raya, sementara di Aceh menjadi warna tersendiri bagi Satpol PP yang harus merazia PNS di warkop pada saat jam kerja.

Jika dipikir-pikir, di kantor pun bisa menikmati aroma dan rasa secangkir kopi! Kenapa harus di warkop? Begitu nikmat dan menggodakah menyeruput secangkir kopi di warung kopi?

Hemat penulis, warkop adalah tempatnya orang-orang merdeka. Orang merdeka kapan saja bisa mengunjungi warkop tanpa mengikuti aturan sistem, sementara itu PNS yang telah disistemkan oleh aturan harus terlebih dahulu curi-curi waktu untuk pergi ke warkop saat jam-jam kerja.

Sisi Lain Warung Kopi

Seniman penyeruput kopi (pecinta, pecandu, dan penikmat kopi) menempatkan warkop sebagai tempat bermainnya alam pikiran untuk berpikir, ruang inspirasi, imajinasi, ruang diskusi publik yang ramah bagi semua kalangan, ruang politik dalam secangkir kopi, dan obrolan-obrolan lain yang bermuatan positif.

Seperti disampaikan di atas bahwa warkop bukan hanya sekedar menyeruput kopi tapi juga telah bertransformasi ke hal-hal yang lebih luas dengan segala urgennya, misalnya mahasiswa mengerjakan tugas kampus di warkop dengan jaringan wifi.

Transformasi warkop dewasa ini dengan hadirnya layanan jaringan internet ke setiap sudut-sudut warkop dari kota hingga pedesaan membuat salah seorang cendekiawan Aceh, Prof. Dr. Farid Wajdi Ibrahim, MA gusar melihat generasi Aceh yang suka menghabiskan waktu di warkop.

Kegusaran Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini mengungkapkan bahwa generasi yang suka menghabiskan waktu di warkop tanpa ada manfaat sebagai generasi yang hilang (the lost of generation) dan merupakan bencana yang lebih besar dari bom atom.

Nah, sisi lain dari warkop mempunyai sisi positif dan juga negatif. Dari itu, perlu kiranya menempatkan warkop sebagai tempat melahirkan ide dan inspirasi bagi semua kalangan. PNS bisa menempatkan pekerjaannya dengan profesional dan seruputan orang merdeka menempatkan warkop sebagai ruang yang bermanfaat.

Dengan begitu aroma dan rasa di secangkir kopi dari seruputan seorang PNS dan orang merdeka benar-benar bisa dinikmati dengan keindahan dan seni meresapi kenikmatan kopi dapat rasa dan aroma yang pas di setiap tegukannya.