Pada suatu jam perkuliahan dosen saya marah kepada mahasiswa. Beliau mengkritik mahasiswa yang menghabiskan waktunya merokok, bercanda, dan mengobrol di kedai kopi. Tidak ada manfaat dan membuang-buang waktu, begitu yang beliau lihat.

Sebagai salah satu mahasiswa yang mendukung penuh UMKM kecil -alias pelanggan setia kedai kopi, saya tersinggung dan jelas tidak setuju.

Definisi kedai kopi secara harfiah berarti sebuah tempat yang menjual minuman kopi. Seiring dengan majunya peradaban, kedai kopi tidak hanya menjadi tempat dimana orang-orang datang hanya untuk membeli kopi namun juga sebagai tempat untuk berkumpul dan berinteraksi.

Kedai kopi adalah representatif pluralisme, tempat yang ramah bagi semua strata sosial, berbagai suku dan agama. Pengusaha, karyawan, mahasiswa, sampai tukang ojek membaur menjadi satu.

Kedai kopi juga menjadi sebuah ruang kuliah yang menerima kesenjangan intelektual. Dari orang awam sampai cendikiawan, semua pikiran mereka bebas untuk dituangkan. Semuanya berhak berbicara dan setiap orang berhak mendapat ilmu baru.

Seperti sebuah catatan yang dikutip Mark Pendergrast, di kedai kopi orang membaca lalu mengobrol; lalu-lalang orang, para perokok, dan beraneka aroma bercampur menjadi satu, tak ubahnya kabin tongkang.

Sejarah Kedai Kopi

Kedai kopi pertama yang didirikan bernama kedai kopi Kiva Han (1475) yang berada di kota Konstantinopel (Istambul). Kedai kopi ini menyediakan kopi khas Turki yang terkenal kuat karena diseduh tanpa sistem filter.

Pada tahun 1529 kedai kopi mulai merambah Eropa. Kopi yang disajikan mulai mengalami modifikasi cita rasa dengan penambahan cream dan pemanis.

Bangsa Inggris menyebut bisnis kedai kopi dengan sebutan penny university (Universitas Uang), karena pada saat itu bisni kedai kopi menjadi bisnis yang menjanjikan dan menghasilkan banyak keuntungan.

Pada tahun 1946 mesin espresso ditemukan. Kedai kopi pertama kali yang menggunakannya adalah kedai kopi Gaggia Italia. Era kopi modern dimulai dari sini.

Kedai kopi pertama di Indonesia adalah kedai kopi Tinggi Tek Sun Ho, berada di hayam-Wuruk Jakarta Barat didirikan oleh Lian Tek Soen pada tahun 1878. Menu andalan kedai kopi ini adalah kopi jantan dan kopi betina.

Kedai Kopi dalam Sejarah Peradaban

Peran Kedai kopi saat ini tidak hanya terbatas di sektor ekonomi saja. Ketika menemukan dimensi sosialnya, kedai kopi juga memiliki peran dalam stabilitas sosial-politik.

Tercatat dalam beberaoa sejarah peradaban, kedai kopi mempunyai peran tersendiri dan tidak bisa dipisahkan.

1.  Markas Gerilyawan – Tebuireng Jombang 1899

Sejarah panjang berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng Jombang oleh KH Hasyim Asy’ari tahun 1899 tidak terlepas dari peran kedai kopi.

Sebelum Pondok Tebuireng berdiri, Kecamatan Diwek Jombang dikuasai oleh Belanda yang mendirikan pabrik gula dan juga pusat prostitusi untuk mengeruk kekayaan serta merusak moral pribumi.

Gerilyawan yang terdiri dari para santri KH Hasyim Asy’ari menjadikan kedai kopi sebagai lokasi strategis untuk melakukan spionase sekaligus menyusun siasat.

Puncaknya adalah runtuhnya kekuasaan Belanda setelah berpuluh-puluh tahun tidak bisa diruntuhkan oleh generasi sebelum KH Hasyim Asy'ari. Berdirilah Pondok Pesantren Tebuireng Jombang 1899 sampai sekarang.

2. Tempat ‘Membakar’ Masa – Revolusi Prancis 1789

Peristiwa kerusuhan Bastille menjadi penanda dimulainya Revolusi Prancis 1789. Hutang kerajaan yang membengkak dan kegagalan panen di awal 1789 menjadi isu hangat yang intens dibincangkan masyarakat sepanjang tahun 1788.

Tokoh revolusioner saat itu seperti Camille Desmoulins menjadikan kedai kopi sebagai lokasi utama untuk menyebarkan isu revolusi sekaligus berorasi dan membakar semangat revolusioner.

Diskusi - diskusi yang diadakan di kedai kopi terakumulasi sepanjang tahun, mengobarkan semangat revolusioner dan menggerakan masa dalam jumlah yang besar. 

Puncaknya pergerakan masa yang besar tersebut mampu menggulingkan salah satu tokoh pemerintah yang kuat pada saat itu.

3. Markas Revolusioner – Sons of Liberty 1776

Sons of Liberty adalah kelompok revolusioner yang memperjuangkan hak hidup bebas bagi koloni-koloni Britania raya. Mereka adalah Sams Adam, John Hancock, Jhon Adams, Paul Revere, Patrick Henry, dan Benedict Arnold.

Green Dragon Travern merupakan kedai kopi yang dijadikan sebagai markas Sons of Liberty untuk berdiskusi, menyusun siasat politik, serta menyebarkan pemikiran revolusioner kepada semua rakyat.

Puncaknya adalah pertemuan Kongres Kontinental ke-2 di Pennsylvania State House Philadelphia 4 Juli 1776. Menghasilkan keputusan status kemerdekaan bagi 13 koloni dari kerajaan Britania Raya.

Kedai Kopi Poros Informasi

Latar belakang orang-orang yang berkunjung ke kedai kopi beragam dan tidak bisa dibatasi. Akibatnya apapun informasi bisa didapatkan dari sini. Topik agama, politik, sosial-budaya, sampai teori konspirasi.

Samuel Pepys dalam bukunya berjudul The Diary of Samuel Pepys menyebutkan bahwa dari satu kedai kopi yang ia kunjungi dapat mengetahui informasi tentang konflik Belanda, komet yang terlihat di berbagai tempat, ancaman wabah, sampai informasi mengenai kekaisaran Bizantium.

Pada abad ke-17 kedai kopi dikenal dengan sebutan “School of Wise”. Hal ini merujuk pada bagaimana arus informasi dan pengetahuan begitu deras mengalir diobrolkan di kedai kopi.