Fenomena ateisme sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala. Sebelum Nietzsche lahir pun orang-orang ateis sudah sangat banyak. Jadi, ateisme bukanlah fenomena baru. Nietzsche lebih memberikan perspektif baru dan mengajak kita semua untuk bermenung dan menyadari betapa kitalah sebenarnya para pembunuh Tuhan itu.

Bagi Nietzsche, Tuhan sebagai isi kepercayaan sudah mati, sudah hilang dan tergantikan dengan tuhan-tuhan yang lain yang tak pantas pula disebut tuhan. Hanya, ia mewakili seluruh nilai dan kepercayaan yang sebelumnya disematkan kepada Tuhan kala Ia belum mati.

Nietzsche melihat zamannya, yakni ketika ia hidup dan mencermati seluruh sejarah peradaban Eropa, dan merefleksikannya, lalu akhirnya ia menyatakan bahwa sejarah zamannya pada dasarnya adalah periode sejarah yang mewakili segala zaman dalam tragedi pembunuhan Tuhan. Atau, zaman hilangnya orientasi dan nihilisme.

Kaum postmodern melihat kematian Tuhan justru lebih subtil lagi, dengan menunjukkan bahwa subjek rasionalitas kemanusiaan, dalam arti transenden, sudah hilang. Dengan begitu, Tuhan ikut hilang bersamaan dengan itu. Tuhan sudah ikut dimakamkan bersama subjek transenden, subjek ideologis yang bersemayam hampir ribuan tahun yang lalu dalam narasi besar sejarah peradaban manusia.

Tuhan sebagai narasi besar telah sebegitu ditinggalkan. Yang tersisa hanyalah narasi-narasi kecil, subjek-subjek kecil yang dianggap lebih kompeten dalam merekonstruksi realitas dari serpihan yang berserak-serak. Kaum post-mo lalu menyadari bahwa kepercayaan terhadap narasi besar adalah sebuah kekeliruan historis yang sama sekali tidak berdasar.

Tetapi toh kematian Tuhan ini tidak harus membuat kita gundah dan takut. Karena yang namanya subjek-subjek kecil yang berserakan, kita semua, masih bisa hidup. Dalam bahasa Nietzsche, Tuhan sebagai matahari sudah terbenam, tetapi masih ada matahari-matahari lain yang lalu diciptakan manusia.

Matahari-matahari akan tetap eksis secara apa adanya walau cahaya tunggal yang dimilikinya telah terbenam dan sirna. Kita hanya menyaksikan Tuhan dalam peristirahatan terakhir nan abadi di kuil-kuil, gereja-gereja, dan tempat ibadah lainnya.

Nietzsche memang ateis, tentu, tetapi bukan ateis dalam pengertian yang selama ini kita pahami. Nietzsche jelas bukan orang beragama. Ia secara tegas telah meninggalkan agamanya. Tetapi toh ada semacam pencarian tentang kekudusan, kesalehan, atau makna yang sedang ia cari dan perjuangkan.

Kematian Tuhan diwartakan oleh Nietzsche di depan orang-orang yang sebenarnya telah kehilangan kepercayaannya. Tapi Nietzsche lalu menegaskan bahwa kematian Tuhan bukanlah hal yang sepele dan harus dianggap serius. Kematian Tuhan menandakan hilangnya seluruh horizon, orientasi, moral, dan akan dibawa ke mana nasib bumi ini jika tanpa hukum-hukum Tuhan.

Saat Tuhan telah mati dan saat di mana matahari telah tenggelam, orang-orang dapat menciptakan tuhan-tuhan baru, matahari-matahari baru, pegangan-pegangan baru. Tidak ada masalah dengan itu. Kaum pencerahan dan sainstifik masih percaya dengan tuhan-tuhan mereka sendiri.

Tapi bagi Nietzsche, pembunuhan Tuhan bukanlah sesuatu yang selesai begitu saja. Fakta bahwa Tuhan telah mati sudah benar-benar terjadi. Tapi sayangnya, orang-orang yang sezaman dengan Nietzsche tidak paham dengan apa yang terjadi. Nietzsche mengajak semua orang di zamannya untuk menyadari semua konsekuensi dramatis dari kematian Tuhan.

Sebuah kematian, betapapun tidak disadari, tetap menjadi sebuah fakta di mana Tuhan telah ditinggalkan, menggantinya dengan hal-hal yang remeh-temeh, kecil, namun dianggap lebih bernilai daripada asbtraksi-abstraksi tentang Tuhan yang tidak berguna.

Manusia-manusia zaman pencerahan banyak mencurigai bentuk kepercayaan-kepercayaan metafisis. Sehingga akhirnya orang-orang seperti itulah yang lalu menganggap Tuhan sebagai sebuah hipotesis yang sama sekali tidak berguna dan tidak penting.

Sekalipun begitu, mereka banyak tidak menyadari betapa kematian Tuhan juga menjadikan mereka bertumpu pada nilai-nilai baru, yang pada akhirnya menjadikan tuhan-tuhan baru dalam dogma tunggal sains dan otoritas kepercayaan sebagai sandaran hati.

Barangkali pemikiran Nietzsche ini bisa kita bawa ke sebuah pemahaman mengenai Ia yang iIahi, yang memang bersifat beyond, yakni sesuatu yang melampaui soal ada. Meski Nietzsche masih sangat berkutat pada persoalan-persoalan onto-teologi, seperti tema tentang kehendak untuk berkuasa. 

Itu artinya, betapapun Nietzsche telah meng’iya’kan kematian Tuhan, toh masih ada sesuatu yang ingin ia cari, perjuangkan, dan secara mati-matian dibela sebagai otoritas yang dipandang lebih otentik. Ia bisa berupa kekudusan, kesucian, atau barangkali nihilisme itu sendiri.

Namun, Nietzsche memberikan kritik yang sangat tajam terhadap hampir semua persoalan yang mengiringi modernitas, seperti kemajuan, sains, dan bahkan agama. Baginya, fakta bahwa Tuhan telah mati ditandai oleh adanya pegangan-pengangan baru bagi bergesernya wujud ilahi ke dalam ukuran-ukuran yang dibentuk oleh manusia sendiri.

Tetapi, kematian Tuhan bukanlah akhir dari semuanya. Orang masih tetap dapat memiliki pegangan, kepercayaan baru, dan ada nilai-nilai yang selalu dapat diperjuangkan.

Ketika Tuhan telah tidak ada, kita lalu memproyeksikan kepercayaan kepada hal-hal lain, seperti ide tentang moral, pengetahuan atau sains, yang dianggap lebih objektif dan nyata kebenarannya.