Chicago, kota besar dengan pemandangan menakjubkan dan juga beberapa cafe romantis, rupanya mampu membuat wisatawan tertarik.

Tetapi kini semuanya berubah drastis. Kota terlihat sangat sepi, tak ada lagi wisatawan datang dan pergi, bahkan tak akan kau temui tawa warganya. Semua wajah, baik itu tua dan muda selalu memancarkan aura ketakutan , terutama pada anak perempuan kota ini.

Awal bulan kemarin, kota Chicago heboh dengan berita munculnya pembunuhan anak perempuan, aktivitas anak pun ditutup seketika. Meski begitu, masih saja kasus baru bermunculan. Aku yang berstatus sebagai detektif kota, tak tega dengan pembunuhan buas ini. 

Waktu aku masih berdiskusi dengan salah satu inspektur, satu orang bawahannya melaporkan jika ditemukan lagi mayat anak perempuan di pinggir sungai. Tanpa berpikir panjang, kami pun menuju ke TKP.

Sampai di sana, aku fokus pada seorang perempuan tua menangis di luar garis polisi. Mungkin itu ibu atau saudara gadis malang itu. Aku hanya mendapatkan waktu 5 menit untuk melihat korban dan menyelidiki di sekitar tempat kejadian. Kemudian seperti orang lainnya, aku dipersilakan melihat dari luar garis polisi saja.

Sampai malam ini aku belum mendapatkan laporan hasil otopsi dari kawanku yang bekerja di bagian tersebut. Aku pun sangat geram, hingga kuputuskan untuk menyusulnya ke rumah sakit. Aku sudah tak peduli lagi dengan aturan inspektur yang dikhususkan untukku, karena perselisihan selalu saja terjadi. 

"Gloria! Aku paling benci dengan sikapmu yang tak pernah mau menunggu," ucap kawanku setelah aku masuk kedalam lab dengan kostum penyamaran.

Aku mulai menjalankan tugas untuk mencari bukti. Tepat seperti dugaanku sebelumnya, korban ini dibunuh dengan orang yang sama seperti kasus-kasus sebelumnya. Terlihat luka pada jantung, dengan panjang sekitar 5 cm. Kemudian juga ditemukan sebuah cairan obat di dalam tubuhnya, yang berpotensi tinggi jika dicampur dengan zat pengaktif.

Untungnya kejadian penyamaran tadi malam tidak ketahuan oleh siapa pun kecuali kawanku saja. Aku pun masih diperbolehkan ikut dalam kasus ini. Aku mengikuti inspektur dalam menjelajahi sekitar tempat TKP dan juga ikut dalam menginterogasi saksi. 

"Siang hari, aku dan adikku pergi ke rumah Diane. Adik hanya melihat kami latihan menari, kemudian siang aku mengajaknya pulang, di depan rumahnya aku meninggalkan adik, dan kembali untuk mengambil barang yang ketinggalan, saat aku kembali dia sudah tidak ada," penjelasan kakak korban. 

Setelah sesi interogasi saksi dan bukti di tempat kejadian, polisi mengadakan rapat, aku juga masih ikut di dalamnya. Anehnya, inspektur menyimpulkan bahwa sang kakak yang membunuhnya, karena ada unsur kecemburuan pada kasih sayang keluarganya. 

Aku dengan lantang menyangkal hal itu, karena setelah aku menelusuri sekitar tempat kejadian, kutemukan jejak bahwa ada seorang anak yang mengajaknya melewati lorong sungai yang tidak mungkin bisa orang dewasa melewatinya, jadi menurut kesimpulanku seorang anak dewasalah yang telah membunuh korban.

Polisi masih saja tak percaya dengan opiniku, hingga tiba di mana CCTV menunjukan seorang anak laki-laki membawa korban baru yang telah terjadi tadi pagi. Seperti kejadian sebelumnya aku ikut menyelidiki mayat korban di lab, dan mencoba sedikit berdiskusi dengan kawanku. 

"Seperti sebelumnya, ada obat amlodipine pada tubuhnya," seketika aku terbayang wajah korban yang meronta-ronta kesakitan karena efek obat itu tercampur pada minuman bersoda.  

Amlodipine memang salah satu obat keras. Jika dicampur dengan zat pengaktif seperti soda, maka risiko dari obat tersebut membuat jantung akan bocor. Semua korban memang meminum obat itu dengan soda, tetapi sebelum obat merangsang pada jantung karena masih banyak yang belum tercerna, sehingga tusukan pisaulah yang membuat mati seketika.

Kemudian aku memberikan usulan untuk membuat pancingan seorang anak untuk tersangka. Ide ini memang memiliki risiko yang besar, tapi menurutku itulah cara terbaik. Seorang detektif pasti akan berselisih dengan para polisi terutama dengan inspektur, mungkin karena mereka merasa sedikit tertindas dengan jabatannya, tapi itulah kenyataan bahwa detektif lebih pintar darinya. 

Karena usulan konyol itu, mereka (polisi) mengeluarkan aku dari kasus ini. Aku sang detektif tak akan berhenti di situ, akan kubuktikan pada semua bahwa caraku memang tepat. Aku terpaksa memakai ponakan sebagai umpan untuk menangkap sang tersangka, kudapatkan izin dari bibi tetapi dengan kebohongan pula.

Jessica, tante tak akan melepasmu ataupun menyakitimu, itu janjiku," batinku. saat kami tiba di supermarket.

Aku menyuruhnya menunggu di pojokan selama aku ke toilet. Aku awasi dia dari kejauhan. Saat tiba di mana seseorang bertanya padaku, aku terhalang olehnya dan hilanglah Jessica di tempat itu. Aku bukan orang yang bodoh, sudah kupasang sebuah GPS pada jaketnya, aku terus mengikuti sinyal itu.

Rasa khawatir muncul ketika GPS berhenti di tengah hutan. Aku masih terus menelusurinya, hingga kutemukan alat itu di sebuah mobil box tergeletak di dalamnya. Aku mengirimkan pesan kepada polisi tentang keberadaanku, aku masih mencoba mencari sesuatu yang janggal di mobil ini. 

Firasatku benar, di bagian bawah mobil terdapat sebuah pintu. Perlahan kubuka dan terlihat sebuah jembatan bawah tanah. Aku masuk pelan-pelan, terlihat Jessica bersama anak laki-laki itu, kemudian anak itu menyuruh keponakanku duduk dan memberi sebuah obat.

Karena Jessica tidak mau, anak laki-laki itu marah. Ingin rasanya aku mencegah, tapi bagaimana jika ia tahu ada aku, pasti anak itu akan kabur lagi. Polisi keparat, selalu datang terlambat, pikirku.

"Stop," aku pun keluar dari persembunyian, aku tak tahan melihat keponakanku menangis. Ternyata dia tak melarikan diri, dia tak ubah binatang buas mulai marah dan ingin menancapkan pisaunya pada tubuhku.  

Perkelahian pun terjadi, tapi nahasnya aku harus terjatuh dan sekarang anak itu sudah berdiri di depanku dengan pisaunya. Spontan aku menutup mata ketika pisau akan menyambar tubuhku, tapi tak kurasakan sakit malah sebuah cairan kental muncrat bersama suara bising.

Saat kubuka mata, seketika aku terkejut karena Jessica memegang sebuah gerinda dan kepala anak laki-laki itu sudah terpisah dengan tubuhnya. Kemudian datanglah polisi, dengan sergap kuambil gerinda di tangan Jessica, karena teringat janjiku.