Saat kita masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, kita tentu pernah mendapatkan pelajaran tentang warna-warni oleh guru-guru kita. Hijau, biru, merah, kuning, dan seterusnya. Warna-warni inilah yang kemudian akan kita gunakan untuk menghias berbagai motif benda lainnya. Mulai dari mewarnai gambar yang masih tampak hitam putih, hingga membuat lukisan sendiri dengan memadukan pelbagai warna. 

Kita menentukan sendiri gradasi warna yang pantas untuk karya-karya kita, sehingga kita pun merasa puas atas karya yang kita buat ini. 

Untuk memadukan berbagai macam warna, tentu, siapa saja butuh keahlian tersendiri. Semakin lihai ia dalam mengolah warna, maka hasil karyanya pun akan tampak makin indah saat dipandang mata. 

Keahlian seseorang dalam mewarnai ini dapat diperoleh melalui ilmu pengetahuannya tentang warna. Prediksinya secara tepat mengenai paduan warna yang akan dibuat, sehingga menghasilkan kombinasi warna yang berkarakter kuat saat dinilai oleh siapa saja. 

Dan ilmu mengenai warna itu akan paripurna manakala ia menyertainya dengan banyak pengalaman, percobaan, eksperimen, sehingga pengetahuannya tentang warna tidak sebatas pada dugaan atau hipotesis saja, namun sudah berada pada tahap keyakinan dan kesimpulan.

Semakin sering seseorang bermain-main dan bereksperimen dengan warna, maka khazanah pengetahuannya tentang warna pun akan berkembang semakin sempurna. 

Misalnya, bisa saja pada saat seseorang bereksperimen tentang warna tersebut, ia memperoleh keberhasilan dengan hasil karya yang sesuai angan-angan. Pun demikian tidak menutup kemungkinan, dalam melakukan percobaannya itu, ia juga akan mengalami kegagalan sebab hasil pewarnaannya jauh dari harapan sebelumnya. 

Dengan adanya fluktuasi dari hasil bereksperimen itu tentu akan berpotensi mempengaruhi psikologis mereka yang mengerjakannya. Mereka yang mampu bersikap bijak atas kegagalan percobaannya itu, akan menjadikannya sebagai pengalaman (pengetahuan) yang berharga, sehingga mereka tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari.

Sementara itu, mereka yang mudah berkeluh kesah saat hasil percobaannya tentang warna ini gagal, akan tampak sering mengumpat setiap kali mereka mendapati kegagalannya itu. Dan biasanya, mereka yang sering mengeluh dalam menghadapi kegagalannya ini akan sulit bangkit kembali setiap kali mereka mendapatkan kegagalan, seakan perjuangan mereka telah habis seiring datangnya kegagalan itu.

Upaya untuk meningkatkan semangat bagi mereka yang hendak bereksperimen dengan warna-warna ini akan mudah dilakukan apabila mereka menyertai setiap percobaannya itu dengan minat yang serius dan passion yang nyata. 

Dengan berbekal minat itulah, maka seseorang akan cenderung merasa lebih ringan dalam bereksperimen dan menjalani setiap proses belajarnya, sebab, ia menganggapnya sebagai hal yang menyenangkan untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. 

Seiring berjalannya waktu, saya  pun sebenarnya menjadi penggemar dari warna-warna tertentu. Saya tidak tahu, kapan mulainya dan apa penyebabnya sehingga saya menjadi penggemar dari warna-warna tertentu itu.

Apakah ini gara-gara saya dulu kebanyakan menonton film Power Ranger, sehingga saya menjadi penggemar dari salah satu ranger yang berwarna merah, hijau, biru, hitam, kuning, dan pink itu?

Dan ternyata, di sini pun saya tidak sendirian. Sebab masih banyak lagi orang-orang di sekeliling saya yang juga sangat menggemari warna-warna tertentu. Kegemaran yang kemudian saya menganggapnya terlalu berlebihan, sebab sudah mengarah pada sebuah fanatisme tertentu. 

Saya menjumpai mereka yang terlalu fanatik dengan warna merah, sebab menganggapnya sebagai simbol dari kekuatan. Saya mendapati orang-orang yang fanatik dengan warna biru, karena menduganya sebagai simbol dari kedamaian. 

Saya juga sering bertemu dengan kelompok yang fanatik dengan warna hijau, sebab merepresentasikannya sebagai sumber kesuburan. Dan ada lagi pihak lainnya yang fanatik dengan warna putih, sebab melambangkannya sebagai kesucian, dan seterusnya. 

Fanatisme terhadap warna tertentu itu terus mereka kembangkan, mereka pupuk, sehingga mereka membentuk sebuah komunitas yang mewadahi siapa saja yang bersesuaian dengan pilihan warna mereka. Sementara itu, bagi mereka yang menggemari warna lainnya, silakan membentuk komunitasnya sendiri, yang menampung siapa saja yang "berselera" sama. 

Warna-warna itu kemudian mereka sisipi dengan pemahaman-pemahaman, visi misi, bahkan jika perlu falsafah kehidupan agar ia dimengerti dan didukung oleh siapa saja yang sepemahaman di dalamnya. 

Jika mereka hanya berhenti pada tataran ini saja, sebenarnya, saya masih sangat bisa memakluminya dan tidak merasa khawatir atas keadaan ini. Sebab, tentunya, tidak ada satu pun dari mereka yang mencita-citakan kerugian. 

Namun, kemudian, hal yang menjadikan saya lekas khawatir adalah saat mereka sudah menyentuh pada konsep saling menyalahkan, saling mengutuk, bahkan saling menyerang warna-warna yang lainnya yang tidak sehaluan dengan warna mereka. Saya menganggap hal ini adalah akar masalah yang akan berpotensi merugikan diri mereka sendiri maupun kelompok yang lainnya. 

Alangkah baiknya, jika mereka memahami kembali tentang konsep warna-warni yang telah mereka pelajari dari guru-guru TK mereka terdahulu. Dimana beliau telah mengajarkan tentang gradasi warna yang begitu indah pada saat dipadu-padankan dalam sebuah karya. 

Betapa uniknya kombinasi antar warna itu sehingga melahirkan warna-warna baru yang tidak pernah mereka jumpai sebelumnya. Warna-warna yang saling mendukung dengan tanpa mengaburkan identitasnya yang sejati, sehingga memanjakan setiap mata yang memandangnya.

Entah kenapa sampai saat ini paduan antar warna ini masih sangat sulit terjadi. Dan manakala terjadi pun, durasinya tidak terlalu lama. Mungkin hanya satu, dua, atau tiga tahun saja.

Di sini, saya menjadi teringat dengan sebuah adagium, bahwa di dunia ini memang tidak ada satu pun yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Dan barangkali, itulah yang juga terjadi dengan warna-warni kehidupan itu.

Jika perubahan itu yang menjadi dalih atas sulitnya terjadi konsistensi pada perpaduan warna itu, maka saya pun akan berharap sebaliknya. 

Semoga saja pola perpaduan itu durasinya pun berubah, tidak hanya dalam waktu yang singkat saja. Namun, ia terjadi dalam waktu yang lebih lama. Entah itu puluhan, ratusan, atau bahkan, jika perlu, hingga ribuan tahun lamanya.