Saat ini dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0, yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat. Revolusi industri 4.0 ini membawa perubahan secara mendasar bagi masyarakat di seluruh dunia, dengan julukannya saat ini sebagai masyarakat modern.

Revolusi Industi 4.0 mengakibatkan adanya otomatisasi, mekanisasi, dan digitalisasi, sehingga di era Revolusi Industri muncul inovasi-inovasi dalam hal teknologi dan informasi yang tidak terbayangkan di masa yang lampau.

Peran teknologi di era saat ini sangatlah mendominasi dalam tatanan masyarakat modern. Kekuasaan teknologi mencakup seluruh aspek tataran kehidupan manusia.

Adanya anggapan bahwa kemajuan peradaban manusia disamakan dengan berkembang pesatnya teknologi. Misalnya saja, aktivitas-aktivitas setiap individu sangat bergantung kepada teknologi. Seperti berdagang, berkomunikasi, berbisnis, sampai dalam hal hiburan, musik, main game, dan lain sebagainya.

Akar dominasi teknologi ini berasal dari ilmu pengetahuan yang sudah menyebar ke setiap sendi-sendi kehidupan manusia. Hal ini disebabkan oleh kemampuan manusia yang selalu meningkatkan kreativitas dan inovasinya di dalam menuntut perkembangan kemajuan peradaban manusia.

Teknologi sering dipandang membebaskan manusia dari takhayul. Alih-alih membebaskan, justru malah membawa manusia menjadi terbelenggu. Mengapa demikian?

Sebenarnya tak ada persoalan mengenai penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagi Herbert Marcuse, di situlah teknologi juga mampu untuk memanipulasi kesadaran manusia di dalam mengokohkan produktivitasnya.

Kita tak lagi mampu untuk menggunakan teknologi secara sadar dan kritis. Sehingga yang terjadi saat ini adalah teknologi mengusai diri kita, untuk terus-menerus menggunakannya tanpa henti setiap saat.

Asumsi yang muncul bahwa aktivitas yang kita lakukan dengan menggunakan teknologi seakan-akan dimudahkan dengan kehadirannya. Adanya Internet of Things adalah bukti nyata bahwa masyarakat saat ini telah memasuki era revolusi industri 4.0.

Istilah Internet of Things saat ini relevan dengan kehidupan yang sedang dialami saat ini. Hal tersebut memungkinkan terjaminnya kemudahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, belajar, maupun berkomunikasi tanpa terhalang jarak.

Revolusi industri ini juga memungkinkan aktivitas dalam bekerja yang awalnya mensyaratkan dengan tangan dan letih manusia, namun saat ini bisa terotomasi. Mulai dari prosedur dan perintah pengerjaannya dari tubuh total manusia, tergantikan oleh teknologi yang ada saat ini.

Revolusi industri 4.0 yang saat ini telah masuk ke sendi-sendi kehidupan manusia berbeda dengan revolusi industri yang terjadi sebelumnya. Kini, perkembangan teknologi identik dengan otomasi dan digitalisasi.

Era modern ini diidentikkan dengan era digital. Artinya, setiap aktivitas manusia akan digerakkan oleh serangkaian teknologi digital. Relasi yang dibangun oleh antar-individu adalah relasi pertukaran digital. Yang mana setiap manusia melakukan interaksi melalui simbol-simbol digital.

Hadirnya handphone, laptop, dan tablet adalah wujud nyata dari hasil perkembangan teknologi digital yang mampu menyebarluaskan informasi ke seluruh penjuru dunia. Hal tersebut didorong oleh adanya internet sebagai penghubung untuk berkomunikasi secara online tanpa terbatas oleh ruang dan waktu.

Kehadiran Internet memberikan ruang yang sangat luas bagi publik untuk mengekspresikan kepentingannya. Manusia dan teknologi seakan-akan tak dapat terpisahkan satu sama lain. Keduanya memiliki ketergantungan, teknologi sangat berpengaruh besar terhadap dinamika kehidupan manusia.

Adanya komunikasi secara online yang ditunjang oleh internet merepresentasikan bahwa terdapat tindakan manusia tanpa batasan yang menghalang, sehingga memunculkan kebudayaan baru yang menandakan pula nilai dan makna baru di dalam masyarakat modern ini.

Tentunya, kehidupan masyarakat modern ini mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini terlihat dari kebiasaan masyarakat yang selalu menginginkan segala sesuatunya menjadi lebih mudah dan efisien.

Dinamika perkembangan masyarakat mengalami perubahan pada setiap zamannya dan menjadikannya masyarakat yang memiliki ciri khas yang membedakan dari sebelumnya. Tentunya, beberapa faktor dapat mempengaruhi perkembangan masyarakat, seperti dengan kaitannya kebutuhan hidup manusia.

Pada akhirnya timbul suatu keinginan untuk menjelajahi dunia luar yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang ia miliki, sehingga memunculkan suatu istilah yang kita kenal dengan revolusi industri 4.0.

Banyaknya kemudahan dan inovasi yang diperoleh dengan dukungan teknologi digital, kita dihadapkan oleh suatu tantangan khususnya di bidang pendidikan. 

Dunia pendidikan merupakan bidang yang terdampak secara signifikan dengan adanya revolusi industri 4.0, yang mengakibatkan dunia pendidikan harus melakukan inovasi-inovasi dalam mempersiapkan sumber daya manusia dalam menghadapi kompleksitas permasalahan di era Industri 4.0.

Kekhawatiran tentang bergesernya peran manusia dan digantikan oleh robot dan kecerdasan artifisial mengakibatkan dunia pendidikan, selain harus menciptakan lulusan dengan berbagai skill, juga diharapkan mampu membentuk lulusan yang perannya tidak dapat digantikan oleh kecerdasan artifisial. 

Bagi Indonesia, memasuki era revolusi industri adalah suatu tantangan bagi bangsanya di dalam mewujudkan cita-cita ideal yang tertuang ke dalam Pembukaan UUD 1945 dengan usaha keras menyongsong era digitalisasi saat ini.

Untuk menghadapi revolusi industri 4.0 di bidang pendidikan, perlu ditekankan bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang tidak akan tergantikan dengan mesin (munculnya komputer, Intelegensi Artifisial atau kecerdasan buatan).

Sumber daya manusia tersebut antara lain adalah kemampuan memecahkan masalah (problem solving), beradaptasi (adaptability), kolaborasi (collaboration), kepemimpinan (leadership), dan kreativitas serta inovasi (creativity and innovation).

Hal ini menjadi peran penting bagi pencetak sumber daya manusia (pendidik) di dalam menghadap revolusi industri 4.0 saat ini. Tugas seorang pendidik tidak cukup hanya memberikan pengetahuan saja, akan tetapi lebih dari itu, yakni sebagai pemberi suatu nilai (transfer of values) untuk kehidupan yang dialami. 

Selain itu, para pendidik selalu memberikan motivasi serta menjadi filter supaya tidak mengarah ke hasil yang kontraproduktif. Singkat kata, dalam menghadapi revolusi industri di era ini, bagi Indonesia perlunya merefleksikan kembali filosofi atau ajaran Ki Hajar Dewantara khususnya di bidang pendidikan.

Konsep yang penting dari filosofi Ki Hajar Dewantara mengenai Patrap Triloka dan Tripusat. Dalam filosofi ini, terdapat dasar kerja seorang pendidik, antara lain adalah Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah membangun karsa/semangat/kemauan), tut wuri handayani (dari belakang mendukung).

Tentunya, untuk mewujudkan tercapainya suatu pendidikan juga perlu didukung oleh konsep yang lain dari Ki Hadjar Dewantara, yaitu Tri Pusat Pendidikan (pendidikan keluarga, pendidikan dalam alam perguruan, dan pendidikan dalam alam pemuda atau masyarakat).

Sebagai bagian akhir dari hasil pendidikan, menurut Ki Hajar Dewantara, adalah menghasilkan manusia yang tangguh dalam kehidupan masyarakat dan diharapkan akan mencetak generasi bangsa yang mampu menjawab tantangan bagi setiap zaman ke depannya.

Pemikiran dan filosofi Ki Hajar Dewantara sebagai suatu kekayaan khasanah ilmu pengetahuan yang adiluhung perlu untuk dilestarikan. Berbagai teori dan pemikiran Ki Hajar Dewantara perlu untuk digali dan diterapkan dalam dunia pendidikan.

Berbagai pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam hal pendidikan memiliki relevansi sebagai suatu solusi dalam menghadapi era revolusi industri yang penuh dengan kompleksitas, ketidakpastian, dan ambigu.

Pemikiran dan filosofi Ki Hajar Dewantara mampu apabila diimplementasikan di dalam membentuk pribadi yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.