3 bulan lalu · 257 view · 4 min baca · Sejarah 58483_23661.jpg
myrepro - WordPress.com

Warisan Karaeng Pattingalloang

Makassar menyimpan cerita yang begitu menarik tentang seorang tokoh bangsawan yang disegani. Bukan karena badik yang terhunus membuatnya disegani, melainkan hunusan cakrawala pikirannya yang tajam melanglang buana bersama ketangguhan pinisi mengarungi samudra kedalaman.

Karaeng Pattingalloang terlahir dari darah bangsawan ayahnya bernama Karaeng Matoaya. Terkenal sebagai peletak dan menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Karaeng Matoaya juga memiliki kemampuan mumpuni soal hubungan diplomatik.

Kemampuan dan kecakapan Karaeng Matoaya rupanya mengalir dalam darah Karaeng Pattingalloang. Sikap dan pikiran terbuka menjadikan Karaeng Pattingalloang bukan sekadar menjadi bangsawan, melainkan menjadi seorang yang memiliki kapasitas intelektual.

Menurut beberapa catatan menerangkan bahwa Karaeng Pattingalloang menguasai beberapa bahasa Eropa. Kalau seseorang mendengarkan Karaeng Pattingalloang bertutur, tanpa melihat orangnya, bisa saja menyebut bahwa yang bertutur tersebut orang Eropa. Sedemikian fasihnya Karaeng Pattingalloang dalam menuturkan bahasa Eropa.

Dalam tulisan Prof. Nasaruddin Umar (Imam Besar Mesjid Istiqlal Jakarta), menyebutkan bahwa prestasi intelektual Karaeng Pattingalloang meliputi persoalan teologi, filsafat, dan sains. Ia juga memiliki koleksi teropong, bola dunia, dan atlas.

Bisa dibayangkan seorang yang hidup di abad 17 berada di wilayah Asia Tenggara, namun memiliki pikiran yang demikian maju dan dapat terkoneksi dengan perkembangan di Eropa. Tokoh yang begitu langka di zamannya.

Pada masa Karaeng Pattingalloang, orang-orang Eropa dan para pedagang diberikan ruang untuk sandar dan berniaga di pelabuhan-pelabuhan Makassar. Sikap terbuka terhadap pendatang tanpa perlu merasa khawatir menjadikan Makassar sebagai pusat tujuan perdagangan dunia.

Keterbukaan Makassar terhadap para pendatang dan pedagang menjadikannya sebagai pelabuhan yang ramai didatangi. Sikap ramah dan bersahabat yang ditunjukkan Karaeng Pattingalloang menjadikannya sebagai sosok yang berpengaruh dalam perkembangan Makassar sebagai pusat perdagangan.


Karaeng Pattingalloang mesti menjadi prototipe bagi anak-anak Makassar. Perlu menggali warisannya yang memiliki cakrawala pemikiran dan wawasan intelektual serta ditunjang kemampuan bahasa yang sama bagusnya dengan orang Eropa.

Kesadaran orang Makassar perlu ditanamkan bahwa sosok Karaeng Pattingalloang mesti dihadirkan dalam konteks kekinian. Ia tidak dilahirkan langsung menjadi sosok yang memiliki wawasan luas, melainkan mengikuti proses dan berinteraksi dengan khazanah ilmu pengetahuan dan sikap terbuka terhadap berbagai peradaban.

Telah menjadi semacam hukum alam bahwa kemajuan dan kecerdasan seseorang senantiasa berbarengan dengan sikap terbuka terhadap berbagai kemajuan di peradaban lain. Sikap terbuka Karaeng Pattingalloang menjadikannya sosok yang mampu mengasa pikiran segaligus terkoneksi dengan kemajuan yang ada dibelahan dunia yang lain.

Sosok Karaeng Pattingalloang seharusnya menjadi inspirasi bagi kemajuan Makassar hari ini. Mesti diingat, yang senantiasa menjadi kebanggan orang Makassar, yakni masa lalu Makassar sebagai pusat perdagangan.

Salah satu ciri kemajuan yang berbasis perdagangan, yakni sikap terbuka. Karena, keterbukaan menjadikan para pedagang merasa nyaman untuk datang berkunjung sekaligus menjaul barang dagangannya.

Makassar pernah menjadi pusat perdagangan dan perniagaan yang tersibuk di Asia Tenggara, lewat pelabuhan Paotere. Ada banyak kapal-kapal dagang yang sandar menjadikan Makassar sebagai pusat pertemuan, baik dagang maupun bangsa-bangsa yang beragam.

Orang Makassar yang terkenal dengan prinsip siri na pacce semestinya disadari bahwa malu rasanya bila orang-orang Makassar hari ini tidak bisa melahirkan Karaeng Pattingalloang kekinian.

Mungkin orang Makassar bisa berandai, andai saja hari ini Karaeng Pattingalloang terlahir kembali dengan kemampuan intelektual dan keterbukaan terhadap semua kalangan, baik etnis maupun bangsa, bisa dibayangkan betapa maju dan pesatnya perkembangan Makassar bukan hanya sebagai pusat perdagangan, melainkan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

Prototipe seperti Karaeng Pattingalloang masih langka, baik pada zamannya maupun sesudahnya. Sebab, tidak mudah menemukan seorang tokoh selain memegang tampuk jabatan sebagai bangsawan, juga memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni dan kecakapan berbahasa dengan menguasai beberapa bahasa Eropa.

Singkatnya, Karaeng Pattingalloang bukan hanya sibuk mengurusi urusan politik dan perniagaan, tetapi juga menyibukkan diri dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi. Sehingga bisa dibayangkan armada dan perlengkapan navigasi perahu kerajaan turut dilengkapkan dengan teknologi mutakhir di zamannya.

Bila kesadaran yang sama masih dimiliki oleh penerus Karaeng Pattingalloang sebagai bangsawan dan masyarakat Makassar secara luas. Kemungkinan gerakan restorasi dan industrialisasi juga akan terjadi di Makassar, sebagaimana yang terjadi pada Jepang.

Sebuah harga yang cukup mahal yang mesti ditanggung akibat sikap terbuka dan kemampuan intelektual tidak lagi dimiliki oleh para bangsawan penerus Karaeng Pattingalloang. Sehingga Karaeng Pattingalloang hanya bisa dikenang lewat cerita.

Orang Makassar tidak lagi menjumpai Karaeng Pattingalloang berupa sosok penerusnya sekaligus tidak menemukan peninggalannya berupa buku-buku koleksi perpustakaannya, atlas, globe, dan teropong.


Ibarat pelaut yang tengah mengarungi samudra orang Makassar kehilangan kompas. Akibatnya jejak-jejak Karaeng Pattingalloang hanya bisa ditelusuri jejaknya lewat cerita. Di Makassar pun tidak ada universitas yang secara khusus dinamai dengan nama Karaeng Pattingalloang.

Kalau orang Makassar sadar semestinya warisan Karaeng Pattingalloang harus menjadi inspirasi menata kehidupan Makassar. Sikap terbuka terhadap segala hal, baik pengetahuan maupun terbuka terhadap berbagai bangsa. Untuk menjadi kunci dalam memajukan Makassar ke depan.

Sembari kita bermimpi di suatu sore anak-anak Makassar menikmati hembusan angin Pantai Losari. Sambil berbincang-bincang dengan orang Eropa bercakap dan bertutur sebagaimana mereka menuturkan bahasanya serta membincang perkembangan teknologi mutakhir.

Orang Makassar mesti percaya bahwa DNA sejarah masa lampu bukan tidak mungkin untuk kembali dilahirkan di tanah Makassar. Karaeng-Karaeng Pattingalloang bukan tidak mustahil kembali terlahir di Makassar. Karena, DNA garis sejarah punya cara unik untuk kembali hadir mewarnai jalannya sejarah.

Artikel Terkait