Kemunculan tulisan Afi yang viral di dunia media sosial bukanlah untuk pertama kalinya. Sebelumnya, Afi memang dikenal suka menulis dan tak sedikit juga yang menyebarkan tulisan itu. 

Memang perlu diakui bahwa dia adalah salah satu pemuda yang kritis. Akan tetapi, apa yang sering disebut kritis oleh orang pada umumnya belum tentu menghasilkan sesuatu bernilai benar, ataupun tanpa masalah.

Begitu pula terhadap tulisannya yang berjudul “Warisan”. Meskipun pada umumnya, orang-orang menerima dan merespon positif ciptaan Afi itu, akan tetapi sepertinya tidak banyak yang menyadari masalah dibaliknya. Masalah itu memiliki konsekuensi, yang bagi orang-orang tertentu, dapat membawa dampak buruk terhadap Islam sebagai agama yang berbeda dari agama selainnya.

Dalam tulisan ini, saya akan menerangkan masalah-masalah yang ada.

Masalah Pertama: Manusia Makhluk Penerima

"Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.

Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan."

Disini, saya sedikit bingung akan maksud tulisannya. Dia menghubungkan status agama, nama, kewarganegaraan, pada waktu tepat setelah lahir dengan waktu dia menulis—bertahun-tahun setelah kelahirannya. Kalimat-kalimat ini memiliki dua kemungkinan makna:

1. Statusnya pada masa kini ditentukan oleh statusnya pada masa kelahirannya.

2. Statusnya pada masa setelah lahir ditentukan oleh orang tua/keluarga/masyarakatnya

Saya menghasilkan kemungkinan pertama, sebab dia tidak menyertakan keterangan lampau pada "kewarganegaraan saya warisan, ..." Bisa saja, yg dia maksud adalah "saya" pada masa kini.

Akan tetapi, mungkin juga yang dimaksud adalah kemungkinan kedua. Alasannya, keterangan lampau adalah sesuatu yg implisit/asumtif, sebab pada kalimat sebelumnya dia sedang membahas masa lampau. Sehingga, asumsinya, "saya" disana bermakna lampau. Kejelasan maksudnya akan nampak pada kalimat-kalimat berikutnya.

"Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara."

Pada kalimat itu, Afi juga berusaha menghubungkan kondisi sekarang dengan kondisi masa lalu (kelahiran). Saya menduga bahwa Afi menganggap agama, kebangsaan, dan hal lainnya yang dimiliki oleh seseorang ditentukan pada masa kelahirannya. Dia menyebutnya sebagai "warisan" dan itu akan menentukan pula status seseorang semasa hidupnya.

Dugaan itu saya rumuskan karena Afi mengatakan bahwa dia tidak pernah bersitegang dengan orang yang memiliki warisan berbeda. Artinya, status agama sedari lahir itu masih melekat pada dirinya (Afi) dan orang beragama yang membelanya pada masa kini. Anggapan itu pun diperkuat pada bagian berikutnya.

"Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri."

Dia seolah menganggap bahwa orang yang membela agamanya mati-matian dan kita (orang-orang beragama) adalah orang yang berstatus agama tertentu sedari kelahiran. Singkatnya, agama adalah warisan.

Anggapannya merupakan masalah, sebab manusia adalah makhluk yang dinamis. Bukan sekedar menerima dari pendahulu. Dalam sosiologi pun, budaya tidak hanya membentuk masyarakat, akan tetapi sebaliknya pula, masyarakat membentuk budaya. Oleh sebab itu, terjadi perubahan budaya karena manusia bukanlah makhluk yang hanya menerima. Manusia juga mengevaluasi, mengkritik, memodifikasi, atau bahkan membuangnya.

Dalam beragama pun, tidak serta merta diturunkan saja dari orang tuanya. Terkadang, ada orang yang meragukan agamanya, dan kembali mencari agama mana yang paling tepat untuk dianutnya. Hasilnya, beragam. Ada yang kembali beragama, dan ada yang tidak. Saya adalah salah satu dari orang yang beragama. Dan saya adalah orang yang membela agama dengan "mati-matian", dalam cara saya. 

Membela agama tidaklah sama dengan membela teman yang diancam oleh preman. Bagi saya, membela mencakup meluruskan kembali pandangan yang salah, dan mengembangkan pemahaman yang masih belum jelas benar-salahnya. Misalnya, mengingatkan, atau mungkin berdialog dengan teman yang menganggap zina adalah perbuatan yang halal.

Masalah Kedua: Penilaian yang Kurang Beralasan

"Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya.

Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu."

Pada titik ini, dia menceritakan beberapa pengalamannya, kemudian menarik pengalaman itu untuk memahami sesuatu yang berskala besar (bahwa sikap saling "menarik" ada pada kita/orang beragama). Ini adalah generalisasi.

Akan tetapi, bagi saya, generalisasinya pun bermasalah. Sebab, bukankah, pengalamannya itu tidak menentukan ada-tidaknya titik temu? bagi saya, pernyataan bahwa "tak akan ada titik temu" tidak didukung oleh argumentasi apapun, sekalipun itu dihubung-hubungkan dengan pengalaman tadi.

"Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,

memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya.

Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman". Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan.

Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba."

Pada bagian ini, Afi tidak memberikan bukti ataupun alasan-alasan, melainkan sekedar pernyataan-pernyataan persuasif yang tidak begitu saling menentukan. Saya bisa menghormati itu karena saya kira dia adalah Islam aliran tertentu yang menolak pembuktian keagamaan atau ketuhanan semacam Dzakir Naik.

Nah, pada kalimat berikutnya, saya semakin yakin bahwa Afi mempersepsi  orang-orang yg beragama adalah orang-orang yg menerima sesuatu dari orang tuanya. Orang yang beragama pada saat ini ditentukan oleh "warisan"-nya.

"Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.

Tapi tidak, kan?

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan?

Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.”

Pada kalimat di atas dan di bawah ini pun, Afi hanya memberikan pertanyaan yang belum jelas hubungannya bagaimana. Barangkali, dia mengasumsikan hubungan yang saling menentukan nilai—misalnya, jika Tuhan menciptakan keragaman, maka kita tidak perlu menyeragamkan atau mengatakan bahwa golongan kita benar dan yang selainnya salah. Akan tetapi, bagi saya sendiri, pertanyaan tentang pelaku pencipta keragaman, dan jaminan kerukunan adalah pertanyaan yang tidak memperkuat argumentasinya.

Untuk memahami perlunya menyeragamkan atau mengatakan bahwa golongan yang satu benar dan yang selainnya salah, maka yang perlu diketahui adalah (1) apakah keseragaman itu penting? (2) apakah mengatakan benar-salah itu penting?

Darisana, dengan pembahasan yang lebih mendalam, maka saya kira jawabannya bisa penting, dan bisa pula tidak penting. Sebagai contoh, tentu kita perlu menyeragamkan pikiran koruptor agar tidak lagi korupsi, dan kita juga perlu mengatakan bahwa korupsi itu salah. Atau, dalam konteks agama, tentu kita perlu menyeragamkan pikiran bahwa Zina itu dosa dan Zina adalah salah.

Tapi, terkadang kita tidak perlu menyeragamkan kebiasaan kita dengan tetangga kita sendiri, sebab, barangkali, tidak ada kepentingan yang berkaitan dengan hal itu. Kecuali dalam rangka mencegah korupsi dan Zina itu tadi.

“Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.”

Secara keseluruhan, saya cukup sepakat dengan pernyataan di atas. Akan tetapi, saya menjadi ragu pada pernyataannya pada kalimat perspektif pancasila.

Saya kira, Afi menganggap makna memaksa juga meliputi juga menilai pemeluk agama lain. Padahal, menilai agama lain tidaklah memaksa. Menilai hanya perbuatan yang mengatributkan seseorang mengenai benar-salah, dan itu adalah hal yang wajar. Sama wajarnya dengan membedakan Islam, Kriten, Budha, Hindu, dan Konghucu.

“Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.”

Saya kira, lebih tepat jika apabila dikatakan, agama tertentu tidak boleh mengharuskan Indonesia sesuai dengan teks keagamaannya. Kenapa Indonesia? Sebab konteks yang paling cocok terhadap “studi kasus” itu adalah Indonesia, dalam prinsip bhinneka tunggal ika.

Lagi, bagi saya, superiositas antargolongan adalah hal yang wajar. Itu juga berlaku dalam, lagi-lagi, dengan tulisannya yang superior terhadap orang-orang yang membela “warisan” itu.

Konsekuensi: Layakkah Tulisannya Diikuti?

Tulisan Afi (1) menganggap manusia sebagai makhluk statis dan tidak kritis terhadap agamanya, dan (2) beberapa dari penilaiannya tidak berdasarkan kepada alasan-alasan yang cukup. Menimbang-nimbang hal tersebut, maka sebenarnya tulisan Afi tidak begitu logis.

Tentu, hal yang logis itu menjadi sinyal warning tentang kelayakan tulisannya, dan kelayakan untuk dianutnya.

Bagi saya, setiap yang kurang logis dalam konteks gagasan yang berkaitan dengan kehidupan sosial, tidak layak untuk dianut. Perlu untuk memahami kembali dan membedah alasan dan logika dari setiap pernyataannya.  

Apresiasi: Tulisan Persuasif dan Pemantik Kuriositas

Mungkin, alasan kenapa tulisannya tidak begitu argumentatif adalah karena dia sekedar ingin mengutarakan pendapatnya tanpa ada banyak perdebatan. Dan memang, tulisannya itu dikemas dengan bentuk yang bagus. Sangat indah. Nyaman untuk dibaca. Bahkan saya kira, tidak senyaman membaca tulisan ini yang mana perlu berpikir lebih keras untuk memahaminya.

Diksinya pun tidak berat. Jikalau berat, biasanya tulisannya akan sangat argumentatif; akan ada banyak jaring-jaring logika yang saling berkaitan menyusun suatu argumen utama. Faktanya, tidak begitu.

Saya belajar banyak darinya mengenai mengemas pesan/gagasan. Mungkin, salah satu penyebab terkenalnya tulisan tersebut adalah karena pesan itu sangat mudah di baca dan friendly di masyarakat umum.

Selain itu, dia adalah salah satu pemuda yang berada pada tingkat SMA yang berani mengkritisi kehidupan sekitar. Dibandingkan dengan pemuda lain yang saya temui, Afi adalah salah satu anak spesial yang jarang ditemui. Bak berlian ditengah laut. Barangkali, berlian itu jatuh dari tangan orang-orang yang sudah memiliki modal besar.

Berkat tulisannya pun, saya jadi terpikirkan tentang batasan-batasan kesatuan dan perbedaan diantara umat beragama. Bagi saya, bersatu tidak harus sama secara menyeluruh. Ada beberapa perbedaan yang perlu dipelihara. Termasuk juga dengan esensi agama itu sendiri.

Hanya saja, saya belum tau sampai batasan yang bagaimanakah perbedaan itu harus dijalani, dan juga kesamaan itu dijalani.

Penutup

Afi adalah salah satu kekayaan bangsa kita yang perlu dijaga, dikembangkan, dan semangatnya perlu diseragamkan kepada pemuda lainnya. Sama-sama berpikir, tetapi jika tidak seragam, saya kira tidak akan ada persatuan.

Saya masih sepakat dengan KH. D. Zawawi Imron yang datang dan mengisi kuliah tamu di FISIP Unair, pada 17 Mei 2017. Perbedaan pada manusia memang tak dapat dihindari. Akan tetapi, dibalik perbedaan itu tetap ada kesamaan. Dan itulah pemersatunya. Dalam hal perbedaan pun, jangan dimaknai dan disikapi sama. Yang berbeda, ya berbeda. Yang sama, ya sama.