Minggu pertama Agustus 2019, saya menikmati kopi Vietnam di sebuah Coffee Shop di kota Yogyakarta. Saya bersama seorang kawan perempuan yang berprofesi sebagai pengacara. Obrolan yang dibahas seputar peluang mencari pekerjaan dan link founding proposal untuk lembaga pemberdayaan perempuan. 

Tetapi obrolan kami terhenti manakala kawan saya kehadiran kawannya, yakni seorang laki-laki yang juga berprofesi sebagai pengacara dan bergabung di meja kami.

Layaknya seorang kawan, kawan saya memperkenalkan saya ke kawan laki-lakinya. Kawan saya bilang bahwa saya mengajar di Pondok Pesantren Waria Yogyakarta.

Seketika arah obrolan pun berubah ketika saya melihat raut wajah laki-laki pengacara itu menatap ke arah saya dan melontarkan beberapa pertanyaan. Satu kata yang dapat saya kutip darinya bahwa “waria itu orang gila”.  

Saya terdiam, kok bisa seorang pengacara bilang seperti itu?

Masih di minggu yang sama, saya menghadiri sebuah forum untuk kegiatan pemberdayaan perempuan muslim Yogyakarta yang mana mayoritas anggota forum adalah seorang sarjana.

Entah mengapa, tiba-tiba salah satu anggota forum mempertanyakan tentang waria yang waktu itu tidak ada dalam Term of Reference (TOR). Spontan salah satu anggota forum mengatakan dengan suara lirih bahwa “Waria itu penyakit”. Saya melirik ke arahnya dengan mengeryitkan dahi.

Suatu hari ketika saya memposting foto bersama kawan-kawan waria di Facebook, saya mendapat komentar beragam dari nitizen, salah satunya dari seorang Profesor di sebuah Perguruan Tinggi Negeri Islam. Katanya, “Kamu tidak ikutan jadi waria, kan?”

Seketika saya terdiam dengan pertanyaan tersebut. Karena menurut saya, seorang yang paham ilmu pengetahuan melampaui tataran masyarakat awam akan tercerahkan dengan realitas kehidupan yang beragam. Tetapi faktanya tidak.

Dari tiga kejadian tersebut, tulisan ini penting untuk dihadirkan kepada pembaca bagaimana melihat eksistensi waria dalam kehidupan kita.

Waria Bukan Penyakit, Tidak Menular 

Pada Senin (26/08/2019), komunitas waria se-Yogyakarta dari IWAYO, KEBAYA, dan Pondok Pesantren Waria Al-Fatah menggelar audiensi ke pemerintah provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan tema “Pemberdayaan Untuk Komunitas Waria Yogyakarta”.

Kami disambut oleh asisten gubernur dan beberapa pemerintah lainnya, salah satunya dari Dinas Kesehatan. Dalam kesempatan tersebut, salah satu tim dari pemerintah, yaitu dr. Ahmad Ahadi (Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Grhasia), memberikan respons dan tanggapan.

Menurut dr. Ahmad Ahadi bahwa “waria itu bukan penyakit, karenanya waria tidak menular”.

Pernyataan dr. Ahmad sebagai seorang dokter ahli jiwa melunturkan pandangan bahwa waria sama dengan penyakit yang dapat menular kepada siapa saja yang mendekat kepada waria. 

Lebih lanjut, dr. Ahmad mengatakan bahwa eksistensi waria ada di antara kehidupan kita, baik sadar atau tidak. Di lampu-lampu merah ketemu dengan waria, di pasar ketemu dengan waria, dan di salon-salon pun ketemu dengan waria.

Karenanya dr. Ahmad dengan tegas mengatakan bahwa bentuk pengingkaran realitas yang sesungguhnya adalah manakala memaksa pengetahuan diri bahwa manusia hanya ada laki-laki dan perempuan.

Jika Boleh Memilih, Saya Tidak Mau Lahir Menjadi Waria 

Ketika memaksa pikiran bahwa di dunia ini ada dua entitas gender, yaitu laki-laki dan perempuan, maka di sinilah kemudian kebekuan berpikir dimulai.

Manusia yang memiliki kebekuan berpikir akan sangat sulit untuk membuka ruang-ruang perjuampaan dengan pemikiran lain yang berbeda. Sederhananya, orang yang demikian beranggapan bahwa pengetahuan pemikiran dirinyalah yang benar dan yang lain salah (truth claim).

Kebekuan berpikir yang demikian yang menjangkiti cara pandang mayoritas masyarakat kita, sehingga tidak bisa melihat ciptaan Tuhan dengan perspektif  yang unik dan beragam.

Pada tataran selanjutnya, cara pandang yang demikian kemudian menggunakan teologi agama (dalil/teks/ayat/hadist) sebagai landasan argumentasi. 

Ketika membawa nama “Agama” inilah banyak kawan-kawan waria kita yang “tidak” bisa berkutik. Karena bagaimanapun, kita harus mengakui bahwa agama (tafsir) sejatinya belum mengakomodir kepada kelompok minoritas (baca waria).

Waria “dipaksa” untuk bertekuk lutut kepada yang namanya “fitrah” bahwa menjadi laki-laki sejati adalah jalan taubat untuk para waria. Padahal kalau kita mau membuka telinga dan mata, mendengar suara pengalaman para waria dan melihat kehidupan waria sehari-hari, niscaya penghakiman atas nama apa pun tak akan terjadi.

Mengutip cuplikan cerita ibu Sinta Ratri (Pengasuh Pondok Pesantren Waria Al-Fattah) bahwa “Andai boleh memilih, saya tidak mau lahir dan hidup menjadi waria”.

Kenapa ibu Sinta tidak mau menjadi waria? Karena menjadi waria itu berat; persoalan hidup yang ditanggung tidak seberat seperti persoalan hidup saya (he he he).

Beratnya hidup menjadi waria diuraikan oleh ibu Sinta mulai sejak dalam keluarga. Banyak para waria yang “terusir” dari keluarganya karena ia waria. Kemudian hidup berkomunitas atau berkelompok sesama waria lainnya di tanah rantau.

Di sinilah kemudian lahir persoalan baru, yaitu tentang bagaimana mempertahankan hidup. Karena ingin bertahan hidup, tidak sedikit para waria yang bertahan hidup dengan cara mengamen dan menjadi pekerja seks komersial.

Mengamen adalah pekerjaan yang umum dilakukan oleh waria meski secara sosial pekerjaan mengamen dianggap sebagai pekerjaan yang “tidak” bermartabat.

Sedangkan pekerjaan menjadi PSK, di samping dianggap sebagai anomali sosial, juga sangat berkaitan dengan kesehatan, yaitu rentan dengan penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS yang berdampak terhadap kematian.

Kemudian secara identitas kewarganegaraan, banyak para waria yang tidak memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk), baik karena hilang dompet dan tidak diurus kembali ke kampung halaman.

Secara pendidikan, para waria adalah mereka yang memiliki ijazah paling tinggi SMP. Sehingga ketika mereka ingin memiliki ijazah SMA, maka para waria sekolah program Kejar Paket C untuk mendapatkan ijazah setara SMA.

Pada konteks pendidikan untuk waria, kawan waria yang bergelar sarjana yang saya temui di kota Yogyakarta “mungkin” bisa dihitung dengan jari. Banyak dari mereka lulusan SD, SMP dan kejar paket setara SMA. 

Tidak hanya berhenti pada persoalan penerimaan keluarga, kepemilikan identitas kewarganeraan, risiko kesehatan HIV/AIDS pada waria yang bekerja sebagai PSK dan rendahnya tingkat pendidikan. Tetapi persoalan yang lebih “menyakitkan” adalah stigma sosial.

Menganggap waria sebagai orang gila dan sebagai penyakit menular adalah stigma yang membuat waria tak dihargai kemanusiaannya.

Karenanya, mengutip ungkapan Mami Vinolia (Ketua Dewan Yayasan Kebaya), bahwa “Belajar kepada waria akan membuat kita kenal kepada waria, karena tak kenal maka tak sayang”.

Dalam konteks beberapa orang yang saya temui yang memberikan komentar “negatif” mengenai waria, menurut saya menunjukkan bahwa orang yang bersangkutan belum “kenal” terhadap waria.

Kenal menjadi diksi kata yang penting untuk membangun pengetahuan dan pemahaman terhadap kelompok waria. Kenal juga melibatkan perasaan dan pikiran untuk empati kepada mereka yang terdiskriminasi secara sosial.

Kenal merupakan anjuran Allah untuk melihat Ciptaan-Nya yang beragam, sebagaimana dalam Firman-Nya dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, bahwa penciptaan Allah yang beragam adalah untuk tujuan saling mengenal (li ta’arafuu).

Ketika kita menutup mata dan pintu untuk mengenal mereka yang berbeda (yang liyan), maka di situlah kemudian lahir bibit prasangka, penghakiman sepihak, dan bahkan dengan tindakan kekerasan.

Sederhananya, pendidikan boleh sarjana sampai doktor dan gelar akademik boleh hingga sampai Guru Besar. Tetapi jika tidak bisa menghargai waria, maka itu artinya tidak bisa menghargai manusia.

Mengutip tulisan Novelis Indonesia Okky Madasari dalam Novel Entrok, “Ealah.. Nduk, Sekolah kok malah membuatmu tidak menjadi manusia.