Tulisan saya sebelumnya tentang waria mendapat respons dan komentar dari teman-teman. Ada yang mengapresiasi tulisan saya, tetapi tidak sedikit pula yang mengkritik dan mencela.

Umumnya, kritikan tersebut dengan mengaitkan antara waria dengan cerita Nabi Luth dalam Alquran tentang kaum sodom. Kritik datang mulai dari aktivis perempuan nasional, mahasiswa pascasarjana, guru besar di Perguruan Tinggi Islam, hingga ustazah bercadar di sebuah pondok pesantren.

Bahkan di antara mereka meminta agar para waria di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta kembali ke fitrahnya, yaitu menjadi laki-laki sejati.

Saya melihat bahwa mayoritas masyarakat kita “belum” bisa membedakan antara orientasi seksual dengan perilaku seksual, sehingga mengeneralisasi bahwa waria sama dengan kaum sodom--kaum Nabi Luth yang terlaknat.

Tulisan singkat ini merupakan salah satu upaya untuk menjawab komentar teman-teman, dengan terlebih dahulu membedakan antara kaum Sodom dalam Alquran dan kehidupan seksual waria. Pembedaan dua kategori tersebut menjadi penting agar bisa melihat dua konsep yang saling berbeda.

Di sisi yang lain, tulisan saya mengenai waria dan Islam telah terbit di Jurnal Perempuan (2015) dan Jurnal Nizham (2016) dalam bentuk paper ilmiah.

Cerita Alquran mengenai Kaum Sodom  

Marilah kita simak rekaman Alquran mengenai perilaku seksual kaum Nabi Luth.

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika Dia berkata kepada kaumnya: Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu). (QS. An-Naml (27):54-55)

Kemudian di ayat yang lain:

Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka: Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf (07):80-81)

Di ayat yang lain, Nabi Luth bertanya kepada kaumnya.

Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia. dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Shu’ara (26):165-166).

Secara tekstual, Alquran merespons perbuatan yang telah dilakukan oleh kaum Nabi Luth dengan kata al-fakhsha’ (perbuatan keji) dalam QS. Al-A’raf (07):80. Bahkan, dalam Alquran, kata al-fakhsha’ terulang sebanyak tujuh kali.

Kejinya perbuatan tersebut sehingga Allah menurunkan adzab kepada kaum Nabi Luth, sebagaimana penggambaran Alquran.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu Tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hud (11): 82-83).

Rekaman Alquran mengenai cerita kaum Nabi Luth tersebut tidak ditemukan kata "homoseksual", yaitu mencintai sesama jenis, laki-laki dengan laki-laki (gay), dan perempuan dengan perempuan (lesbian).

Dalam kajian Alquran, belum ditemukan kata khusus mengenai homoseksual, lesbian, gay, biseksual maupun aseksual. Alquran menyebut perbuatan kaum Nabi Luth adalah perbuatan yang sangat keji.

Ibu Musdah Mulia dalam bukunya Mengupas Seksualitas (2015) mengatakan bahwa homoseksual sebenarnya bukan merupakan liwath (sodomi). Karena kata liwath hanya merujuk kepada prilaku seksual atau relasi seksual kaum Nabi Luth.  

Oleh karena itu, Imam Al-Thabari seorang mufassir klasik dari Persia yang karyanya Tafsir Ath-Thabari menjadi rujukan pemikir Islam lain, menyebut kaum Nabi Luth yang melakukan liwath/luthi sebagai kaum sodom-masyarakat yang berprilaku sodomi.

Sodomi berasal dari bahasa latin Peccatum Sodomiticum-dosa kaum sodom. Dalam konteks sosial, sodomi merupakan perilaku seksual yang tidak alami, yaitu memasukkan penis ke dalam dubur atau lubang anus.

Kaum Sodom Bukan Waria  

Dalam kajian seksualitas, terdapat beberapa aspek pada diri manusia yaitu seks (jenis kelamin), identitas gender, orientasi seksual, dan perilaku seksual.

Identitas gender merupakan olahan dari konstruksi sosial, yaitu perempuan dengan feminitasnya dan laki-laki dengan maskulinitasnya. Sedangkan waria memiliki kedua-duanya, yaitu laki-laki keperempuanan.

Mengutip tulisan Ibu Musdah Mulia, waria disebut dengan transgender adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis identitas. Waria biasanya disebut sebagai gender ketiga, yang mana masyarakat memandang waria sebagai tidak normal (atipikal gender).

Waria adalah mereka yang memiliki jenis kelamin laki-laki tetapi memiliki perasaan, emosi, dan sifat yang feminin. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mengubah penampilan diri menjadi perempuan, baik dengan cara suntik silikon di wajah dan payudara, suntik hormonal maupun operasi ganti kelamin (membuang penis dan membentuk lubang vagina).

Karena merasa diri sebagai perempuan dan mengubah penampilan diri menjadi perempuan, maka para waria tertarik secara seksual (orientasi seksual) kepada laki-laki.

Tetapi di sini, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa tidak semua waria yang memiliki orientasi seksual kepada laki-laki melakukan perilaku seksual (cara mengespresikan relasi seksual) sodomi.

Pengalaman saya bergaul dengan komunitas muslim waria di pondok pesantren waria Al-Fatah Yogyakarta, mereka menafikan pandangan umum masyarakat bahwa waria berperilaku seksual sodomi.

Karena menurut mereka, ada banyak cara menyalurkan hasrat seksual selain dengan penetrasi. Di sini kemudian saya berada di posisi buntu, bahwa ruang seksualitas waria adalah ruang yang abu-abu dan penuh misteri. Artinya, kita bisa memahami dunia seksualitas waria manakala kita sendiri menjadi waria.

Hasil penelitian ibu Musdah Mulia, bahwa tidak semua kelompok homo melakukan sodomi. Bahkan di antara mereka mengaku sebagai antipenetrasi dalam perilaku seksual, karena merasa jijik dengan perilaku seksual yang melibatkan alat kelamin.

Dalam kajian seksualitas, perilaku seksual dengan cara sodomi dilakukan, baik oleh heteroseksual, homoseksual, biseksual maupun manusia ke hewan. Dengan kata lain, sodomi bisa dilakukan oleh siapa pun; tidak memandang apakah dia hetero ataukah homo; atau apakah dia laki-laki, perempuan ataukah waria.

Sederhananya, semua orang "bisa" melakukan sodomi, dan persepsi bahwa kaum homo atau waria adalah sama dengan kaum sodom adalah cara pandang yang keliru dalam konteks hukum, sosial dan agama.

Faktanya, tidak sedikit istri menggugat cerai suaminya ke pegadilan karena sang suami melakukan sodomi. Bahkan, saya beberapa kali mendapat "curhatan" teman yang berstatus sebagai istri yang mengeluh karena suaminya melakukan sodomi karena menurutnya itu tindakan yang menyakitkan. Sedangkan alasan suami adalah untuk sensasi seks.

Mengetahui perbedaan cerita kaum Nabi Luth, perilaku seksual sodomi dan perilaku seksual waria akan mengantarkan kita pada pandangan anti mengeneralisasi bahwa waria adalah kaum sodom, bahwa kaum homo adalah kaum sodom.

Pertanyaanya kemudian, mengapa tudingan kaum sodom itu ditujukan kepada kaum waria, kok bukan kepada kaum hetero (laki-laki/perempuan)?

Karena masyarakat kita selama berabad-abad lamanya memiliki kebekuan pemikiran bahwa hanya ada dua jenis kelamin di dunia ini yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan transgender atau waria dianggap sebagai "bukan" bagian dari mayoritas masyarakat. Karenanya, para waria dianggap sebagai anomali gender dalam konstruksi sosial. 

Kondisi yang demikian disebut dengan transfobia, yaitu kebencian, ketakutan dan penolakan yang keras terhadap eksistensi waria. Padahal realitasnya, kaum heteroseksual juga banyak yang berperilaku seksual seperti kaum sodom.

Kalaupun ada yang bertanya, "Bagaimana waria mengespresikan seksualnya?" Menurut saya, ini adalah pertanyaan privat. Tidak semua urusan dapur rumah tangga orang lain kita "harus" tahu. Jauh lebih bermanfaat memberikan akses pekerjaan kepada waria ketimbang "kepo" dengan urusan selangkangan.

Mari bijak dalam melihat persoalan seksualitas waria.