Komunitas waria muslim di Yogyakarta memiliki aktivitas berbeda. Mereka berkumpul dalam lembaga kecil bernama Pondok Pesantren Waria Al-Fatah. 

Pasca-penggerebekan pondok pesantren Waria oleh sekelompok umat Islam yang mengatasnamakan diri sebagai pembela “Tuhan” awal tahun 2016, aktivitas pondok pesantren mulai vakum dan sepi dari hiruk pikuk belajar Alquran.

Saat kondisi pondok pesantren Waria sepi dan senyap itulah saya hadir. Yang bisa dilakukan adalah memulai aktivitas belajar Alquran bersama dengan guru-guru yang lain. Awalnya santri yang datang belajar masih sedikit. Tapi seiring dengan pergantian bulan ke bulan, tahun demi tahun, aktivitas pondok pesantren kembali hidup.

Bahkan makin banyak tamu yang datang dari beragam profesi dan kalangan, seperti mahasiswa, dosen, aktivis NGO, peneliti, tokoh agama, dan wartawan, baik dari Indonesia maupun dari luar negeri.

Hampir setiap tamu yang datang selalu bertanya kepada saya, mengapa Anda memilih pondok pesantren waria sebagai tempat mengajar? Apakah Anda mendapat tekanan dari pihak luar? Dan pertanyaan lainnya.

Oleh karena itu, tulisan ini merupakan jawaban dari pertanyaan di atas.

Panggilan Jiwa 

Sebagai seorang perempuan yang memiliki pengalaman mengajar dari tingkat anak-anak hingga mahasiswa, bagi saya, mengajar adalah passion. Mengajar adalah bentuk pengabdian. Adalah sebuah tantangan tersendiri manakala mengajar di pondok pesantren waria karena santrinya adalah ”tidak biasa”. Mereka bukan anak-anak, bukan pula mahasiswa, tetapi seorang waria.

Pertama kali mendengar cerita teman-teman waria tentang kasus penggerebekan oleh sekelompok oknum yang mengaku sebagai pembela ”Islam”, hati saya miris mendengarnya. Sesama Islam kok menindas umat Islam? Kenapa kelompok Islam melakukan kekerasan terhadap kelompok Islam yang lain?

Jika tindakan kekerasan itu mengatasnamakan agama, agama yang mana yang mereka maksud? Jangan-jangan mereka membela kelompoknya sendiri, dan bukan membela agama Islam yang sesungguhnya? Di sini jiwa saya terpanggil untuk menemani teman-teman waria kembali belajar Islam, meski sejatinya saya ”diminta” oleh teman-teman waria untuk membantu mereka. 

Karena bagaimanapun, belajar adalah hak. Kewajiban negara adalah menjamin warga negaranya untuk terpenuhinya hak-hak tersebut tanpa melihat status gender dan orientasi seksual, sebagaimana yang tertulis dalam Undang-Undang.

Bahkan Tuhan menyuruh umat manusia untuk belajar, belajar dengan cara membaca, sebagaimana dalam Firman-Nya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Nabi Muhammad juga menganjurkan kepada umatnya untuk belajar, sebagaimana dalam hadis: Menuntut ilmu adalah wajib.

Jika Allah dan Rasulnya menyuruh umatnya belajar, bagaimana mungkin manusia memiliki otoritas hak dan wewenang untuk melarang manusia lain belajar Islam? Di sinilah logika Front Umat Islam (FUI) perlu dipertanyakan kembali.

Karena faktanya, teman-teman waria di pondok pesantren waria belajar Islam sangat mendasar. Kalau boleh saya katakan, mereka berada di level start and beginner. Ada yang sudah lancar membaca, ada yang bacaanya kurang lancar, ada yang lancar tapi tajwid dan makhorijul hurufnya kurang tepat, dan ada yang masih baru mulai belajar membaca.

Belajar Islam di pesantren waria dibagi menjadi dua kelas, yaitu kelas Alquran dan kelas Iqra’. Kelas Alquran diperuntukkan untuk yang sudah bisa membaca Alquran dan khatam Iqra’. Sedangkan kelas Iqra’ dari juz satu (1) hingga juz enam (6) diperuntukkan kepada teman-teman yang baru mulai belajar membaca huruf Arab.

Baca Juga: Islam dan Waria

Di waktu yang lain, ada kelas untuk menulis huruf Arab, menghafal surat-surat pendek, praktik mengafani mayat, praktik bersuc,  dan belajar tata cara salat dan bacaannya. Kemudian di malam hari, ada kegiatan belajar hadis dan sharing pengalaman antarwaria. Kegiatan tersebut berbeda setiap minggunya dengan mengikuti jadwal yang ada. 

Sepanjang pengalaman saya bersama teman-teman waria dari tahun 2016 hingga sekarang tahun 2019, saya tidak menemukan teman-teman waria membahas fikih waria atau isu pernikahan LGBT. Kedua isu tersebut sangat jauh dari panggang dan api sebagaimana yang diresahkan oleh kelompok "sebelah".  

Jika teman-teman hadir semua, maka jumlahnya sekitar 45 hingga 70 orang waria. Akan tetapi, karena mereka juga ada yang datang dari luar kota dan luar provinsi, jadi yang datang setiap minggunya sekitar 20 - 30 orang waria, dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak empat (4) orang.

Kegiatan ekstra pondok pesantren adalah nyekar atau tabur bunga ke peristirahatan terakhir teman-teman waria yang pergi mendahului dengan menyertakan bacaan tahlil, yasinan, dan doa untuk mereka.

Study tour ke pondok pesantren-pondok pesantren yang ramah waria juga menjadi agenda kunjungan pondok pesantren waria. Bahkan kegiatan tersebut dilakukan hampir setiap tahun dan menjadi kegiatan rutin tahunan. Kemudian piknik bersama-sama ke pantai dan ngopi bareng menjadi aktivitas yang lain bagi teman-teman.

Bahkan teman-teman juga mengikuti ajang kontes waria, baik dalam kategori olahraga, tata rias, dan memasak. Tidak hanya itu, teman-teman waria juga membuka usaha seperti laundry, catering, dan salon kecantikan. Hasil keuntungan dari usaha tersebut untuk pemberdayaan mereka dan sisanya untuk kas pondok pesantren.

Di sisi yang lain, tidak sedikit teman-teman waria yang bekerja di lembaga sosial khusus untuk pemberdayaan waria, seperti Viesta, Kebaya, dan Iwayo. Pekerjaan tersebut tidak hanya membuat waria memiliki penghasilan cukup, akan tetapi juga mereka memiliki relasi dengan orang-orang ”penting” di Yogyakarta sehingga, dengan penghasilan itu, mereka mendirikan arisan dengan nama ”Arisan Syariah”.

Saya melihat teman-teman waria Yogyakarta adalah waria yang mandiri dan merdeka. Asumsi dan stigma bahwa waria adalah pelacur, pengamen, dan meresahkan masyarakat tidak saya temukan pada sosok mereka.  

Bersama Mereka, Saya Bahagia    

Waria di pondok pesantren Waria Al-Fatah berada di rentang usia 45-65 tahun. Jujur, secara usia, mereka sudah lanjut usia, tetapi semangat belajar mereka tidak kalah dengan para kaum muda. Dalam berbagai kondisi dan cuaca, baik hujan lebat maupun panas menyengat, jika minggu sore, teman-teman waria sudah berada di pondok pesantren untuk belajar Islam.

Semangat mereka jauh mengalahkan keinginan saya untuk mengajar. Sehingga sering kali saya dihubungi oleh pengurus pondok pesantren manakala saya tidak hadir tanpa izin. Semangat mereka belajar Islam di usia yang tidak lagi muda itulah yang membuat saya bertahan bersama mereka hingga sekarang.

Melihat mereka datang ke pesantren untuk tujuan mengaji, saling sharing pengalaman sesama waria, saling menguatkan antarsesama, dan diakhiri makan bersama dengan menu yang sederhana, itu sudah cukup membuat saya bahagia. Bahagia karena saya bersama teman-teman waria yang luar biasa.

Saya tidak mendapat tekanan dari siapa pun. Bahkan saya bersyukur berada di antara mereka. Mereka mengajarkan kepada saya makna saling menguatkan dan makna menghargai perbedaan. Dengan mereka, saya melihat keberagaman Indonesia yang sejati.

Karena definisi beragam tidak hanya dimaknai beragam bahasa, suku, budaya, agama, dan daerah, tapi orientasi seksual dan identitas gender juga memiliki makna keberagaman.