Kirana ♈ Azalea
1 tahun lalu · 856 view · 5 menit baca · Sosok 76417_87407.jpg

Warga Indonesia Keturunan Tionghoa

Keberanian Grace Natalie Louisa mendirikan partai politik baru patut diapresiasi. Selain akhir-akhir ini kepercayaan masyarakat terhadap partai politik merosot tajam, juga faktor non-teknis lainnya berupa latar belakang Grace Natalie sebagai keturunan Tionghoa.

Agak aneh memang. Kalau kita menelisik sejarah bangsa-bangsa Nusantara, orang Tionghoa sudah lama datang, menetap, dan beranak-pinak di bumi Nusantara ini. Namun kehadiran mereka, setelah beberapa abad, masih saja dianggap sebagai ‘pendatang’.

Anggapan sebagai ‘pendatang’ sangat terlihat ketika Ahok menjadi gubernur propinsi DKI Jakarta beberapa waktu silam. Terlepas dari beragam rekam jejaknya, sempat ada gesekan terjadi yang banyak disebabkan latar belakang Ahok yang Kristen dan keturunan Tionghoa. Dia dianggap tak layak memimpin di Indonesia, bukan hanya karena penganut agama non-mayoritas, walakin juga memiliki genetik sebagai ‘pendatang’.

Kiprah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai pejabat publik cukup membanggakan sebenarnya. Meski Ahok bukan pejabat publik pertama dari kalangan Tionghoa, tetapi nama Ahok bersinar terang. 

Dulu muncul nama Kwik Kian Gie yang kini perannya kurang diketahui. Sebelum Kwik Kian Gie, Ahok, dan Grace, sudah banyak warga keturunan Tionghoa yang turut serta membangun Indonesia, terutama melalui olah raga, khususnya sepak bola dan bulu tangkis.

Sejumlah nama seperti Tan Liong Houw, Thio Him Tjiang, Beng Ing Hien, Chris Ong, Kwee Kiat Sek, Mulyadi, sampai Surya Lesmana, merupakan warga keturunan yang menjadi bintang sepak bola Indonesia. Kwee Kiat Sek, Tan Liong Houw, Thio Him Tjiang, dan Beng Ing Hie, merupakan punggawa tim nasional Indonesia di ajang Olimpiade 1956 di Melbourne. 

Kala itu timnas membuat kejutan dengan menahan imbang tanpa gol Uni Sovyet, yang diperkuat Lev Yashin. Strategi ‘parkir bus’ berhasil membikin Yashin dkk gagal menceploskan sebiji gol pun.

Sebelum berkiprah di ajang Olimpiade 1956, mereka turut berjuang di ajang Asian Games II 1954. Kiprah mereka terus berlanjut beberapa tahun kemudian. Mulai ajang Pra Piala Dunia 1957, Asian Games III 1958, Pra Olimpiade 1960, sampai Asian Games IV 1962. Mereka tetap eksis sampai era 1960-an. 


Sayang tumbangnya rezim Orde Revolusi yang digantikan rezim Orde Militeristik menjadi pemicu surutnya kiprah etnis Tionghoa di kancah publik, termasuk sepak bola. Sampai sekarang, jarang dilihat warga keturunan yang berkiprah di sepak bola, kalau malah dibilang tak ada.

Jika di arena sepak bola kiprah mereka sudah menyusut, berbeda dengan di arena bulu tangkis. Di arena ini kiprah warga keturunan juga hebat, tetapi saat ini sudah menyusut meski tidak separah kiprah di arena sepak bola. Oei Hok Tjoan, adalah orang yang jasanya tak boleh dilupakan oleh dunia bulu tangkis Indonesia. Melalui usahanya, bulu tangkis berkempang pesat ke berbagai daerah setelah hanya berkembang di Batavia.

Banyak nama yang berseliweran sebagai bintang bulu tangkis nasional meski saat itu belum terbentuk organisasi bulu tangkis nasional. Mulai dari Nyoo Kiem Bie, Tan Po Siang, Oey Hok Tjoan, Gan Kai Ho, Then Giok Sie, hingga Liem Soei Liong. Nyoo Kiem Bie sendiri selain menjadi pebulu tangkis, juga merupakan pesepak bola hebat. 

Ia berposisi sebagai pemain belakang. Tetapi ia lebih memilih menekuni dunia bulu tangkis, apalagi setelah di tahun 1957 Indonesia bergabung ke IBF (International Badminton Federation, sejak tahun 2007 berganti nama menjadi Badminton World Federation [BWF]).

Ketika Indonesia meraih gelar juara Piala Thomas tahun 1958, nyaris semua punggawa tim merupakan warga keturunan. Nama-nama seperti Tan Joe Hok, Tan King Gwan, Lie Po Djian, Tan Thiam Beng, serta Tio Djoe Jen, adalah punggawa tim yang berasal dari kalangan warga keturunan. 

Saat itu, di pertandingan pertama Indonesia berhasil menggulung Denmark 6-3, lalu berturut-turut mendepak Amerika Serikat 7-1, Thailand 8-1, dan Jepang 6-3. Di pertandingan puncak, Tan Joe Hok dkk sukses menggulung Malaysia 6-3 yang merupakan juara bertahan. Itulah kali pertama Indonesia meraih piala Thomas.

Peran pemain keturunan tak hanya sampai di situ. Pada piala Thomas 1964, terdapat nama Ang Tjing Sian yang menjadi bagian tim. Kemudian hadir nama Agus Susanto dan Nio Hap Liang alias Rudi Hartono Kurniawan, yang namanya berkibar setelah meraih delapan gelar juara All England. 


Di era 1970-an hingga 1980-an, muncul nama Indra Gunawan, Indratno, Tjun Tjun, Johan Wahyudi, Ade Chandra, Christian Hadinata, Liem Swie King, Kartono, Heryanto, Hadibowo, Hadiyanto, Bobby Ertanto, Hastomo Arbi, hingga Eddy Kurniawan. 

Generasi berikutnya memunculkan nama Eddy Hartono, Gunawan, Goei Ren Fang alias Alan Budi Kusuma, Hermawan Susanto, Hariyanto Arbi, Lioe Tiong Ping,  Hendrawan, Candra Wijaya, Tony Gunawan, hingga Hendra Setiawan. Nama-nama pemain keturunan terus menghiasi dunia bulu tangkis Indonesia.

Tak hanya di bagian putra, bagian putri juga turut dihiasi nama-nama keturunan. Nama-nama seperti Ten Koen Liong, Herly The, Ong Tjiauw Tjiang/Teng Koen Liong, Thio Yu Wan/Tan Yok Sin, Ayat/Herly The, adalah penguasa PON II tahun 1951. 

Di era 1950-an hingga 1980-an, memunculkan bintang srikandi keturunan, seperti Oei Lin Nio, Goei Kiok Nio, Megah Inawati, Megah Idawati, Utami Dewi, Maria Fransiska, Verawati Wiharjo, Imelda Wiguna, Ivana Lie, Merry Herliem, Elizabeth Latief. Era berikutnya masih memunculkan nama-nama keturunan, seperti Kho Mei Hwa, Susy Susanti, Minarti Timur, Yuliani Sentosa, Yuni Kartika, Lidya Djaelawidjaya, Ellen Angelina, Cindana hingga Mia Audina.

Untuk saat ini, kiprah mereka memang cenderung menyusut. Tetapi tak separah di sepak bola yang tampaknya sudah punah, di arena bulu tangkis masih ada nama-nama keturunan. Sebut saja Alvent Yulianto, Simon Santoso, Hendra Setiawan, Evert Sukamta, Alrie Guna Dharma, dsb dst.

Di arena politik, saat ini masih diperlukan pahlawan yang siap berperan tanpa berkorban. Bukan berperan dengan bertempur fisik walakin menyediakan kekayaannya untuk menjadi pejabat publik tanpa memikirkan untung rugi secara materi. Jika mereka hadir di kancah politik, maka Indonesia akan memiliki pejabat publik yang mampu mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk warga ‘keturunan’, cenderung kurang meminati dunia politik. Nuansa SARA ketika ada warga keturunan yang mencalonkan diri dalam pemilu menjadi salah satu sebab. Hal ini membuat sebagian besar warga keturunan cenderung apatis. Mereka lebih tertarik menekuni dunia bisnis daripada politik praktis.


Suka tidak suka, mau tidak mau, harus diakui bahwa warga keturunan cenderung hidup berkecukupan. Jika mereka mau menyumbang materi, kursi legislatif dan eksekutif bisa diisi oleh kalangan berkecukupan yang rela berkorban materi demi Indonesia. Mereka bisa menjadi pahlawan revolusi yang dapat dinikmati beberapa tahun kemudian, meski mereka sendiri tak ikut menikmati. Bukankah pahlawan kemerdekaan banyak berkorban tetapi tak menikmati kemerdekaan?

Terjun ke dunia politik tak perlu membentuk partai baru bernuansa SARA, Partai Tionghoa Indonesia misalnya. Di negara Bineka Tunggal Ika ini sudah seharusnya pelaku politik tahu diri tak bijak membentuk partai bernuansa SARA.

Selain cenderung mengotak-kotakkan rakyat, juga akan mencemarkan SARA yang di bawa ketika terlibat masalah. Misalnya jika ada Partai Tionghoa Indonesia, kemudian kadernya terjerat berbagai kasus, mau tidak mau citra Tionghoa ikut buruk. Warga keturunan bisa masuk ke partai yang sudah ada dan memiliki basis massa yang mapan.

Indonesia Tionghoa bukanlah penumpang di Indonesia, walau tak dimungkiri gairah menguasai Indonesia dengan egonya bisa jadi ada di sebagian kalangan mereka.

Artikel Terkait