Aku tidak tahu apa alasan tepatnya istriku akhir-akhir ini selalu menyimpan pisau di bawah bantalnya saat tidur. Entah itu tidur siang maupun malam hari. Dalam beberapa kesempatan aku pernah mencoba mempertanyakan, "Kenapa kau terus-terusan menyimpan pisau di bawah bantalmu, Sayang?"

"Aku takut dibunuh oleh Malam." jawabnya.

"Dibunuh oleh malam bagaimana?"

"Malam itu bisa membunuh, Suamiku. Aku hanya berjaga-jaga saja. Jadi sebelum dia membunuhku, aku akan menusuknya dengan pisau ini terlebih dahulu."

"Ini gila, Sayang"

"Tidak, kau saja yang belum paham."

"Tapi sampai kapan akan seperti ini?"

"Sampai dia menghilang dari kehidupanku, kehidupan kita."

"Sayang, malam itu kata benda. Malam itu hanya julukan yang kita pakai untuk menyebut waktu setelah matahari terbenam. Mana bisa dia hilang dari hidup kita?"

Dia terdiam. Percakapan (atau perdebatan?) kami selalu berakhir dengan menggantung seperti ini. Tak pernah selesai, tak pernah menemukan solusi akhir.

Aku sempat terpikir untuk membawanya ke psikiater, jangan-jangan dia berhalusinasi. Mana ada malam yang bisa membunuh? Sangat tidak masuk akal kan? Saat kucetuskan ingin mengajaknya berkonsultasi dengan yang lebih ahli, dia malah marah. 

Matanya menatapku tajam dan dia menolak dengan keras apa pun alasan yang aku ajukan. Lama kelamaan aku hanya bisa tersenyum pasrah. Tak apalah. Selama tidak mengganggu tidur kami walau dengan hati sedikit waswas kujalani saja semuanya dengan mencoba untuk tidak terlihat kacau. 

Namun semakin hari tingkah istriku semakin menjadi. Aku merasa tingkat halusinasinya sudah makin parah. Sering kali saat sedang sarapan atau makan malam bersamaku, dia berkata bahwa Malam dapat mengubah dirinya menjadi apa pun atau siapa pun. Setelah kapan hari menjelma menjadi sesosok malaikat mau dengan jubah hitam, sekarang Malam sedang menjelma dalam sosok wanita berbaju merah katanya.

Aku mulai merasa hampir gila. Dia yang berhalusinasi tapi aku yang rasanya sudah butuh pengobatan psikis. Semua yang dia katakan Itu sangat tidak mungkin, pikirku. Malam bisa berubah wujud, bisa membunuh pula. Aku hanya bisa tertawa getir.

Malam ini, sepulang dari kantor aku tidak langsung pulang ke rumah  Aku ada janji untuk menemui seseorang di rumah makan cepat saji yang letaknya tak terlalu jauh dari kantorku.

Dia ini spesial. Sangat spesial, mungkin. Dia adalah seseorang dari masa laluku. Orang yang dulunya menjadi primadona kampus, yang disukai banyak lelaki. Aku juga sempat menaruh rasa suka padanya, hanya saja tak pernah sempat untuk mengungkapkannya. 

Tiga bulan yang lalu kami tak sengaja bertemu di sebuah swalayan saat aku berhenti sejenak untuk menghabiskan waktu sembari menunggu kemacetan agak sedikit mereda. Dia bekerja di salah satu toko pakaian. Penampilannya berubah drastis, tapi tetap cantik. Dengan sukarela kami bertukar nomor telepon dan sejak itu pula menjadi sering berkomunikasi.

Ah, malam ini dia juga terlihat sangat cantik. Masih memakai seragam kerjanya yang ditutupi oleh cardigan merah, dengan make up tipis di wajahnya dan rambut yang panjang terurai. Siapa yang tak akan tertarik melihatnya, coba? Agak sedikit aneh memang bila di umur seperti kami ini dia belum menikah.

Belum lagi makanan yang kami pesan diantarkan, telepon genggamku berdering. Suara istriku terdengar, "Cepatlah pulang, aku akan membunuh Malam."

"Apa maksudmu, Sayang?"

"Aku bilang, cepatlah pulang!"

"Tapi aku sedang ada meeting," aku berdalih.

"Pulang sekarang atau kau akan menyesal!"

Sambungan telepon dimatikan.

Setelah sempat membicarakan sebentar dengan orang spesialku ini, akhirnya kami sepakat untuk segera datang ke rumahku. Dia akan ikut tentu saja. Aku sudah berencana untuk memperkenalkannya pada istriku, aku sudah lelah dengan halusinasi tak jelasnya dan ingin mengakhiri pernikahan kami. Kalau memang ini saat yang tepat, baiklah.

Bergegas kupacu mobilku, dia duduk di sebelahku dengan wajah sedikit cemas. Akupun tak kalah cemasnya tapi mencoba untuk terlihat tetap tenang. Semua akan baik-baik saja, pikirku.

Sesampai di rumah bukan sambutan istriku yang kami temui, tapi kelebatan pisau yang dengan pastinya langsung mengarah ke dada kiri orang spesialku.

"Sudah kubilang aku akan membunuh Malam sebelum dia membunuhku. Dan kau lihat kan? Dia memakai baju merah!" kata istriku.