Penulis Lepas
1 minggu lalu · 616 view · 5 min baca · Gaya Hidup 58837_68439.jpg
Pexels

Wanita yang Kehilangan Daya Tarik dan Misterinya

Ada banyak hal yang misterius di muka bumi ini. Mungkin ribuan, atau jutaan, atau miliaran, atau "seaha-aha"—itu adalah suatu istilah di kampung saya di Tegal untuk menyebutkan jumlah yang tidak terbatas.

Dan salah satu hal yang misterius itu adalah berkaitan dengan pria dan wanita—khususnya wanita. Maksudnya, di antara mereka, ada ketertarikan besar untuk alasan yang simpel saja: bahwa pria dan wanita pada dasarnya saling misterius satu sama lainnya.

Itu kata Osho, guru spiritual dari India itu, pada bab lima di dalam bukunya yang berjudul Tao The Golden Gate.

Tetapi sialnya, dalam masyarakat modern, di negara-negara maju khususnya, daya tarik dan kemisteriusan yang ada pada wanita itu (seolah-olah) menghilang. Alasannya sederhana saja menurut dia, yaitu karena wanita menjadi hampir serupa dengan pria.

Maksudnya, wanita telah mulai merokok (dan minum alkohol). Begitulah kata Osho. 

Dengan menulis ini, saya tidak sedang bermaksud mengatakan bahwa wanita tidak boleh merokok. Saya hanya ingin mengatakan kesan apa yang saya dapat ketika melihat wanita yang merokok. Yaitu, bahwa daya tarik dan misterinya seolah-olah betul-betul menghilang.

Dan lima tahun lalu, omong-omong, saya pernah punya pacar wanita yang merokok. Saya melihatnya pertama kali pada suatu sore yang agak cerah di sebuah Skateshop di Tegal punya teman saya.


Saat itu, wanita yang tiga minggu kemudian menjadi pacar saya itu sedang bertengger di atas skateboard yang tergeletak di lantai skateshop sambil merokok. Dia adalah kenalan teman saya yang punya Skateshop itu.

Tetapi terus terang, sebetulnya, saya tidak pernah menyukai wanita yang merokok. Saat saya pertama kali melihatnya di Skateshop sore itu dan mendapatinya sedang merokok, dan meskipun dia cantik, saya tidak tertarik sama sekali.

Itu membuatnya, seperti kata Osho, daya tarik dan misterinya menghilang, cuma gara-gara dia merokok. Tetapi saat itu saya berpikir, mungkin, itu karena bersumber dari ketidaksukaan saya saja pada wanita yang merokok—dan itu masalah saya sendiri. Sementara saya, sebagai pria, tidak pernah merokok sama sekali. 

Lalu apa yang membuat saya akhirnya berpacaran dengannya? Itu bermula ketika saya melihatnya lagi untuk kedua kalinya, yaitu seminggu setelah saya melihatnya di Skateshop sore itu untuk pertama kalinya.

Ketika saya pertama kali melihat dia di Skateshop sore itu, mata kami hanya saling pandang sekelebat saja, yaitu pada saat saya membuka pintu dari luar untuk masuk ketika saya baru tiba di sana sore itu. Dan mata kami ketemu pada saat saya membuka pintu.

Kemudian adegan saling pandang itu cuma terjadi seketika itu saja. Kami seperti saling cuek setelah itu. 

Namun, pada waktu yang bersamaan, wajah dia langsung menerobos pikiran dan benak saya. Itu membuat saya terus-menerus memikirkannya berhari-hari; dan itu aneh, betul-betul aneh. 

Penyebabnya mungkin adalah ini: di benak saya waktu itu, ada semacam pengetahuan batin atau persepsi tertentu yang muncul ketika saya melihat wanita itu.

Ini seperti kamu yang, misalnya, melihat seseorang di stasiun kereta atau di dalam kereta atau di toko kelontong—maksud saya di mana pun, lalu kamu merasa seperti ada sesuatu tertentu antara kamu dengan orang itu. 

Kelak, orang itu mungkin akan menjadi temanmu, atau pasanganmu, atau selingkuhanmu, atau musuhmu, atau apa pun itu. Singkatnya, kamu merasa orang itu seperti akan memainkan sebuah peranan penting dalam kehidupanmu.

Dan kamu tidak pernah tahu orang itu akan memainkan peranan seperti apa dalam kehidupanmu karena hidup ini misteri, sampai hidup itu sendiri mengungkapkannya kepadamu melalui momentum berikutnya.


Dan tentang wanita yang merokok yang saya lihat pertama kali di Skateshop sore itu, juga tentang pengetahuan batin yang saya rasakan ke dia saat itu—di mana saya merasa bahwa saya dan dia akan saling kenal, menjadi terungkap setelah saya untuk kedua kalinya melihat dia.

Saya melihat dia yang kedua kalinya di sebuah studio musik, tempat saya waktu itu mengadakan sebuah gigs atau acara musik bersama teman-teman Tegal Skateboarding, seminggu setelah saya pertama kali melihatnya di Skateshop.

Itu studio musik yang, oleh anak-anak muda di kota kami, sering dipilih sebagai tempat manggungnya band-band underground. Sebuah tempat yang kecil dan pengap, berbentuk persegi empat, dengan langit-langit ruangan yang cukup rendah.

Dan saya melihat dia di muka pintu masuk studio itu, saat di mana sebuah gigs itu sedang berlangsung di dalam studio. Dia sedang duduk di sebuah bangku saat itu sebagai penjaga tiket, bersama teman saya. Tetapi saat itu dia tidak sedang sambil merokok, dan saya mendapatinya sedang mengobrol dengan teman saya yang duduk bersamanya.

Lalu, dengan spontan, saya memotong percakapan mereka begitu saja, dengan menepuk bahu wanita itu, dan bertanya: "Ada pulpen?"

Saat itu, saya tepat berdiri di ambang pintu, dengan mencangking kertas berisi daftar band-band yang main di acara gigs tersebut. Ada sekitar dua puluh tujuh band yang akan main, dan waktu itu hari sudah hampir siang sekitar pukul sebelas, dan sudah ada empat band yang rampung main dari pertama acara itu dimulai pukul sepuluh.

Saya muncul dari dalam studio musik itu, untuk meminjam pulpen pada salah satu teman saya yang bertugas di luar studio, saat di mana band kelima sedang main di dalam. Pulpen itu, nantinya, akan saya gunakan untuk mencoret band-band yang sudah selesai main atau yang telat atau tidak datang sesuai rundown.

Dan wanita itu agak terperangah, cuma sejenak saja, ketika menengok ke arah saya setelah saya tepuk bahunya, sebelum kemudian merogoh tas yang dia bawa untuk mencari pulpen dengan tanpa bicara, dan menyerahkan pulpen itu kepada saya setelah menemukannya.

"Ini," katanya.

"Aku pinjam dulu," kata saya. "Nanti aku balikin pas acara udah kelar."

"Ya," katanya.


Tapi saya lupa mengembalikan pulpennya. Dan lagi pula dia menghilang ketika acara musik itu sudah rampung pada sore harinya.

Kemudian saya minta nomor WhatsApp-nya pada teman saya yang punya Skateshop itu, dan mengirimi wanita itu pesan singkat pada malam harinya.

"Pulpenmu masih di aku," kata saya.

"Mau dibalikin nggak?"

"Mau," balas saya. 

"Berarti kita harus ketemu," katanya. 

Dan malam itu juga, kami memutuskan untuk ketemu di depan Balai Kota Tegal, tempat saya dan teman-teman dulu bermain skateboard hampir tiap malam.

Kami menjadi teman dekat, setelah pertemuan itu. Dan dua minggu kemudian—karena kami saling suka, kami memutuskam untuk pacaran. Gampang sekali.

Sejak saya melihat dia yang kedua kalinya di studio musik itu, sampai saya dan dia pacaran, saya tidak pernah lagi melihat dia merokok. Dan daya tarik dan misterinya menjadi ada dan begitu kuat ketika saya meihat dia tidak merokok. 

Aneh sekali. Mungkin ini soal selera saja.

Dan dia terlihat lebih alamiah ketika tidak sedang merokok. Lagi pula, menjadi tidak alamiah adalah menjadi jelek, kata Osho. Sementara menjadi alamiah adalah indah dan memukau.

Artikel Terkait