Biasanya saya jarang membaca status. Apalagi menonton video-video dalam Facebook. Hanya video-video yang tertentu yang saya mau. Itupun selektif saya menonton. Tetapi biar tidak kehabisan quota dan mengerti apa yang dibicarakan banyak orang. Akhirnya saya kepengen juga.

"Hamil di Luar Nikah",— salah satunya. Video ini lagi heboh di bicarakan orang banyak. Semula saya tak suka menonton-Nya. Judulnya mengingatkan saya pada Seks Bebas di Luar Nikah Sah atau Tidak, dalam Hubungan Non Marital/Tanpa Ikatan Sah?

Tetapi karena timeline medsos saya dibanjiri informasi, perbincangan dan klip seputar video itu, mau tak mau ya, terpaksa saya tersenggol juga untuk menonton. Setelah melihat rekaman pertama, jadi penasaran ingin mendengar cerita yang kedua. Hingga akhirnya berlangganan video FB untuk menonton-Nya sampai selesai.

Judul cerita video ini biasa banget. Tidak ada yang lebih subtantif. Seks bebas di luar nikah tanpa ikatan sah adalah tema yang umumnya terjadi ke layar kaca. Yang membuat video ini berbeda dari video-video sebelumnya adalah ketika laki-laki tidak bertanggung jawab atas kehamilan si perempuan.

Yang membuat saya tertarik dengan video ini, ketika laki-laki lari dari pernikahan. Tidak seperti kebanyakan laki-laki lain yang kecolongan scene-nya beda dari video-video sebelumnya. Dari awal sampai akhir saya menonton sebuah wajah lelaki "normal", yang kendatinya harus terjadi. Bukan pandangan masyarakat agama yang kolot.

Hampir di sepanjang video, saya menonton tak ada satupun dari kaum perempuan yang membela kaum laki-laki, yang ada justru laki-laki yang di salahkan atas keranjingan pada kaum perempuan. Padahal video ini kabarnya di produksi dari saudara Riski dan Wanda yang notabene-nya mereka adalah beragama Islam. Yang kemudian sekaligus mewakili diksi publik dan drama religius Indonesia yang kadangkala membuat kita ingin muntah menonton-Nya.

Saya salut seperti Riski dan Wanda yang menjadikan video serial ini "berkelas". Bahasa-bahasanya cukup kuat dan menarik. Dengan campuran Bima-Indonesia. Itu dapat menyita perhatian semua publik, baik media lokal hingga nasional.

Biasanya judul-judul Seks Bebas di luar nikah itu sangat sensitif di bumbui agama. Tetapi karena Riski doyan dengan kaum perempuan. Akhirnya medioker publik mengeksploitasi agama.

Apa Riski yang salah?

Kejadian ini mengingatkan saya sama seperti kasus Vannesa Angel berhak Menjual Diri. Itu semua karena laki-laki di anggap normal. Bahkan lazimnya terjadi pada siapapun. Sebab dasarnya hak mereka adalah cinta sama cinta, suka sama suka. Tidak ada yang di diskriminatif. Baik dari kaum laki-laki maupun perempuan itu sendiri.

Tetapi apakah seks bebas di luar nikah tanpa suatu ikatan yang sah, di larang agama atau tidak?

Dalam konsesus kebenaran dan hak kebebasan seseorang itu semasih mereka merasa nan suka sama suka, tanpa harus mengambil alih kepentingan orang lain. Apa yang harus di permasalahkan. Kan tidak ada! Lagi pula apa yang mereka mau, tidak berhak bagi publik, keluarga, dan orang tua yang mengatur dan melarangnya. Sekalipun tuhan dan agama yang keranjingan. Itu tetap saja mereka melanggar.

Wilayah Privasi Perempuan

Kita harus bijak memetakan penilaian seseorang. Karena ini wilayah sensitif dan daerah privasi kekeluargaan. Itu harus tunduk pada konsensus dan hak keputusan masing-masing. Sekalipun pihak keluarga melanggar norma-norma berlaku. Tetapi tidak berhak bagi siapapun yang mengatur dan melarang kebijakan dan kebebasan seseorang.

Apa yang menurut publik baik, belum tentu menjadi buruk bagi konsumsi keluarga dan daerah privasi seseorang. Sama, seperti yang di alami saudari Wanda. Itu juga belum tentu benar di mata saudara Riski. Agar kalian tidak salah pahami,— kalian harus mengerti!

Apa konsesus kebenaran dan konsep kebebasan pendapat?

Itu berdasarkan cara pandang masing-masing. Tidak boleh di intervensi oleh siapapun, apalagi publik, teman atau pun keluarga.

Di Era digital dengan yang terjadi di lapangan. Itu sangat jauh berbeda di wilayah kenyataan. Apalagi komentar publik, asumsi pribadi, dan berita online tidak bisa kita sertakan jadikan bukti, dan fakta bahwa seseorang itu bertindak salah atau sangat nyeleneh. Sebab apa yang menjadi pandangan publik. Itu akan berbeda pula dengan persepsi seseorang.

Riski yang kerap di anggap pria normal itu berhak mengambil keputusan dan pengadilan tersendiri. Sekalipun orang campur tangan dengan kebebasan dan kehendak privasinya. Tetap saja, tidak boleh ada orang lain yang melarang dan mengaturnya. Sebab kebebasan yang Ia tempuh adalah kemerdekaan tertinggi bagi asas kepentingan pribadi.

Ia mengerti apa yang harus di lakukan kepada saudari Wanda itu hak mutlak atas kehendak pribadi. Untuk itu,— tak satupun yang bisa mengangguknya. Sekalipun dia menghamili suadari Wanda. Itu absah-absah saja dalam dunia kenormalan seorang laki-laki.

Sah atau tidaknya seseorang nantinya, ketika melakukan hubungan seks bebas tanpa suatu ikatan yang sah. Itu tergantung penuh seseorang memandang kebenaran dan kebebasan itu seperti apa.

Kalau kita memandang kebenaran dan konsep kebebasan privasi itu tergantung pada agama, wahyu, dan mukjizat. Itu adalah sifat intersubjektif kita. Ia timbul dalam diri kita, melekat dalam keyakinan kita dan muncul dalam bak perasaan kita. Tetapi Ia hidup dalam keyakinan dan komitmen seseorang.

Meskipun tuhan yang mengatur. Jika itu di definisikan salah. Tetap saja dia harus melanggar dan menantangnya. Sekalipun orang tuanya yang membidik dan membujuknya. Maka berhak ia melanggar.

Tetapi kalau kita memandang kebebasan dan kebenaran berdasarkan cara pandang kita masing-masing. Maka substansinya adalah subjektifitas. Seperti apa yang saya maksud tadi. Itu bergantung sepenuhnya pada asumsi, pendapat, dan pemikiran kita masing-masing.

Bisa saja apa yang menurut saya 'benar'. Tetapi di mata orang lain adalah 'salah'. Menurut publik, Riski itu salah, tetapi dalam konsep pandangan sendiri itu benar. Begitu juga yang terjadi dalam pikiran keluarga Wanda dan Riski.

Semuanya mereka mengkonsumsi kebenaran dan kebebasan dengan cara konsep yang absurd, kontradiktif dan penuh dengan kejanggalan. Ad infinitum

Sangat jauh berbeda dengan konsep kebenaran dan kebebasan objektif. Itu bergantung penuh pada konsensus pengalaman, wilayah dan lapangan. Seperti yang terjadi pada Wanda dan saudara Riski.

Hamil dan tidaknya Wanda/sah—tidaknya pernikahan. Itu bukan urusan publik, keluarga atapun orang tua. Melainkan itu hak, asas, kepentingan dan kehendak pribadinya masing-masing. Itu sudah melekat pada diri seseorang. Tidak bisa dibuka oleh siapapun.

Sekalipun orang tua yang menutupnya. Tetapi tetap Ia membuka dan melanggarnya. Karena yang mereka pahami selama ini, bahwa letak kemerdekaan dan kebebasan tertinggi pada bak perasaan privasi adalah tergantung pada sikap intersubjektifitas, subjektifitas, dan objektifitas dalam dirinya.

Itu tak bisa diatur-atur oleh orang lain. Sekalipun tuhan yang melarang. Maka berhak mereka melanggar.