Salah satu hobi saya adalah berkebun. Orang orang bilang hobi itu saya warisi turun temurun dari orang tua dan simbah saya. Saking hobinya, sering di waktu libur, saya lebih suka atau “krasan” membawa sabit dan cangkul daripada memegang pena. Di waktu kecil saya sering menemani ayah atau kakek di kebun atau pekarangan serta membantunya membersihkan rumput.

Biasanya, sambil berkegiatan, keluarlah petuah petuah orang tua yang masih saya dengar sampai kini. Salah satu petuah yang sampai sekarang saya ingat adalah tentang akar. Orang hanya melihat dan memuji pohon yang indah dan buah yang ranum tanpa menyebut akar tanaman. Akar yang memberi makan tetapi tidak terlihat karena tertutup oleh tanah.

Tetapi akar tidak protes tentang hal tersebut. Dia tetap ikhlas mencari makan untuk menghidupi pohon itu. Jika tidak dia lakukan maka pohon tersebut akan kurus dan bahkan mati. Buahnya pun tidak akan muncul.

Banyak di kehiduan ini yang dapat diibaratkan dengan pohon dan akar. Orang lebih melihat film, artis, olahragawan dan profesi lain yang berhasil tetapi tidak melihat atau memikirkan siapa dibalik keberhasilan tersebut. Mereka tidak akan peduli bagaimana sutradara dan penulis skenario membuat film, pelatih atlet, atau pelatih artis yang melatih cara akting.

Tak terkecuali juga dalam dunia pendidikan. Orang lebih perhatian pada siswa, guru yang mengajar dan kuota dan melupakan bidang bidang pendidikan yang lain, yang juga punya andil besar dalam menghadapi pandemi saat ini. Salah satu bidang tersebut adalah wali kelas.

 Wali kelas tugasnya tidak hanya mengajar dan mendidik tetap juga menjadi wakil orang tua siswa di sekolah. Berbeda dengan guru mata pelajaran yang juga mengajar dan mendidik, intensitas wali kelas dalam pembinaan kesiswaan lebih banyak karena menjadi orang tua kedua.

Menjadi oran tua kedua di sekolah berarti juga melaksanakan tugas sebagaimana oran tua mereka dirumah kecuali membiayai. Wali kelas menjadi tempat siswa untuk konsutasi tentang berbagai hal dan wakil dari siswa dalam berbagai urusan dengan sekolah. Selain itu, jika ada permasalahan, wali kelas berkewajiban menyelesaikanya bekerjasama dengan Guru Konseling.

Pada sekolah sekolah dengan siswa yang secara akademik dan ekonomi menengah keatas, tugas wali kelas lebih ringan. Tetapi tidak seperti halnya pada sekolah yang kondisi siswanya sebagian besar menengah ke bawah baik dari segi akademik maupun ekonomi. Perlu pembinaan lebih dari wali kelas, seperti sekolah tempat saya bekerja, apalagi di masa pandemi Covid 19.

Syukurlah, sekolah saya adalah sekolah negeri, SPP gratis, sehingga beban untuk menagih uang tidak ada. Saya membayangkan bagaimana sulitnya sekolah swasta dalam menagih uang SPP dimasa anak belajar di rumah. Akan tetapi gantinya adalah permasalahan belajar siswa yang meningkat pada masa belajar di rumah ini.

Saat belajar di sekolah persoalan belajar dapat ditangani dengan cepat. Siswa dapat langsung dipanggil dan diberikan pembinaan. Tetapi berbeda saat pandemi. Tidak semua siswa dapat dihubungi dengan mudah. Tergantung dengan kuota, jaringan terutama adalah motivasi belajar siswa tersebut. Ditambah lagi dengan kurangnya dukungan dari orang tua.

Saya sering berpikir kenapa repot repot berjibaku dengan putra orang yang rendah motivasi serta orang tua yang pasrah. Tetapi rasa tanggung jawab karena sudah dipercaya untuk membimbing siswa tersebut membuat saya membuang jauh jauh pikiran itu. Walaupun harus memutar otak untuk mengatasi siswa bermasalah tersebut.

Saya menerapkan peribahasa yang menyatakan” Jika Kamu Melakukan Hal Biasa, hasilnya juga biasa saja”. Kalaupun tidak bisa melakukan yang ekstrem, maka intensitasnya saja yang ditingkatkan. Saya juga meminta beberapa anak yang “luar biasa” untuk wajib berangkat sekolah saat saya piket dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat supaya dapat dipantau.

Begitu juga dalam hal permasalahan telepon genggam. Daripada pusing memikirkan anak tidak punya HP serta orang tua yang tidak bunya biaya untuk membelinya, saya mencari alternative lain. Saya meminta temanya satu kelas untuk main kerumahnya untuk meminjami HP, atau anak yang tidak punya HP untuk main ke rumah temanya.

Solusi tersebut ternyata ada efek positifnya juga. Siswa bermasalah yang wajib sekolah akan terpacu untuk mengerjakan tugas tugasnya. Sementara yang tidak punya Hp dapat tetap mengikuti pembelajaran dan mengirimkan tugas. Walaupun solusi tersebut tidak bisa di generalisasikan pada siswa dengan kasus yang sama, tetapi dapat menjadi alternatif pemecahan masalah.

Belum lagi jika permasalahanya adalah motivasi belajar siswa yang rendah. Apalagi di masa pandemi, gangguan belajar sangat banyak. Sementara itu banyak orang tua yang sudah pasrah tidak bisa menasehati anaknya. Sehingga wali kelas harus mengerahkan kemampuanya untuk dapat memotivasi siswa.

Wali kelas tentu akan senang dan banga melihat keberhasilan anak anak didiknya. Walaupun orang di luar biasanya lebih melihat sebagai keberhasilan sekolah. Tapi tidak apa. Seperti prinsip yang selama ini di gaungkan oleh simbah saya “ Jadilah Seperti Akar Tanaman”. Tidak kelihatan tapi sangat berguna.