7 bulan lalu · 39 view · 5 min baca menit baca · Budaya 12236_82833.jpg
https://www.google.com

Walet di Kota Seribu Pintu

Berkunjung ke Semarang, tak lengkap bila tidak mengunjungi Bangunan Seribu Pintu.Bangunan bersejarah di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein, tempat “Peristiwa Pertempuran Lima Hari”terjadi di Semarang(14-19 Oktober 1945). Pertempuran Lima Hari merupakan serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia melawan tentara Jepang di Semarang pada masa transisi kekuasaan ke Belanda. Tak heran jika bangunan tersebut kemudian menjadi cagar budaya.

Karena memiliki banyak pintu dan jendela yang tinggi dan lebar, masyarakat di Semarang kemudian menyebutnya Lawang Sewu, seribu pintu. Di bagian tengah ruangan tersebut terdapat kaca mozaik yang ketinggiannya sembilan meter-an. Mozaik itu menjelaskan tentang Lawang Sewu sebagai kantor perkeretaapian terbesar pada zaman itu. Memang Lawang Sewu sempat dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia.

Selain Lawang Sewu, pengalaman ketakjuban juga muncul kala orang memandang ke langit dan melihat segorombolan burung walet yang beterbangan. Uniknya, sewaktu hujan mereka tidak mencari tempat berteduh, melainkan bertengger rapi di atas kabel hitam besar yang disoroti oleh lampu jalan. Burung walet itu selalu bersama-sama, bergerombol, dan tidak pernah ada yang dibiarkan terbang terpisah. Walet dan Lawang Sewu dua aspek menakjubkan dari Kota Semarang dapat dijadikan metafora rakyat di Negara kita?

Lawang Sewu

Berbeda dengan Yogyakarta, Kota Budaya, yang banyak dikunjungi wisatawan asing, Lawang Sewu, Bangunan Seribu Pintudi Semarang ini justru banyak dikunjungi wisatawan pribumi. Boleh ditebak, Lawang Sewu,wisatawannya pribumi karenabangunanya mirip bangunan Eropa. Artinya “tidak usah jauh-jauh ke Eropa, mampir saja ke Lawang Sewu”.Arsiteknya saja orang Amsterdam, Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B. J. Quendang.


Sedangkan di Yogyakara, banyak destinasi budaya yang sungguh-sungguh Asia (atau mungkin bahkan Indonesia), Borobudur dan Prambanan dapat disebut dalam ranah ini. Kendati Lawang Sewu nampak bergaya Eropa, namun boleh jadi, Bangunan Seribu Pintu tersebut merupakan miniatur Indonesia.

Saya berpikir, jika Indonesia adalah sebuah bangunan, maka seribu pintunya adalah masyarakatnya yang plural, jamak akan budaya dan adat istiadat. Bahkan menurut Denys Lombard, di dalam budaya dan adat istiadat yang jamak di Indonesia sendiripun selalu plural di dalam dirinya, mengalami konstelasi yang berkembang di dalam peradaban bangsa.

Misalkan saja, budaya kasta Jawa dipengaruhi oleh Hinduisme yang berkembang di awal-awal peradaban.Selanjutnya Para pedagang Arab masuk dan menyebarkan Islam yang dengan sistem egaliter mempersiapkan jalan bagi masuknya modernisme dengan diperteguh oleh Kristianitas lewat jalur pendidikan (Nusa Jawa: Silang Budaya, 1996). Dan tak terkecuali Cina serta India yang menjadi ansestor kita dalam kebudayaan.

Maka sebetulnya, bila di zaman ini banyak tema toleransi diusung, bukan sebagaiantisipasi konflik karena kita berbeda, melainkan karena kesadaran bahwa di dalam diri kita sendiri sudah mengandung pluralitas.Maka paradigma dikotomi tersimpulkan sebagai demagogi, karena justrumengkondisikan rakyat Indonesia untuk memiliki claim truthyang sejatinya menutup mata pada detakpersilangan budaya dalam bumi IndonesiaMasyarakat Indonesia dibentuk dari berbagai konstelasi budaya yang tidak tunggal.Bukankah semakin plural, kesadaran akan fungsi toleransi menjadi tuntutan?

Lawang Sewu memberi pemahaman bahwa masyarakat Indonesia bisa masuk ke dalam seribu pintu, namun tetap dalam pemahaman bahwa mereka Indonesia. Dan sebetulnya itulah negara yang ideal. Tidak ada dikotomi mayoritas-minoritas, Indonesia-Tionghoa, Barat-Timur. Hidup bernegara mengatasi dikotomi dan menjunjung egalitas yang mengakar pada kesetaraan martabat manusia yang dipahami dalam korelasionalnya. Sampai pada titik ini kita sadar,rupa-rupanya impian itu seolah-olah terlalu jauh.

Berbagai fenomena di abad milenial ini kemudian membuat banyak orang bertanya-tanya. Perselisihan yang didasarkan pada dikotomi, dikompori oleh demagogi penguasa serta politik yang abu-abu, menjadikan rakyatnya berjalan dalam seribu pintu di satu bangunan namun tidak saling mengenal. Fenomena ini layaknnya pemandangan para wisatawan pribumi yang datang ke Lawang Sewu. Mereka pergi untuk mencari pemahaman pribadi dengan relasi interaksi superfisial. Jarang kita melihat orang saling tegur-sapa, padahal semua pengunjungnya adalah pribumi, Indonesia.

            Walet Semarang


Melihat burung walet di kota Seribu Pintu mengingatkan kita akan dongeng “burung punguk merindukan bulan”. Mereka setelah terbang ke bumi untuk melepas kesedihan sepeninggalan Punguk, lalu tak bisa lagi kembali ke bulan. Konon, karena dongeng itulah burung selalu terbangnya ke atas  berusaha menggapai bulan, namun hanya menjala angin.

Burung walet di Semarang mirip dengan kisah burung punguk. “Mereka seperti batu meteor yang melesit sendirian, melintasi keluasan tanpa batas, entah di mana kelak bisa mendarat, di planet lain, atau kembali ke bumi; atau hilang dalam ketakterbatasan alam” (Pramoedya Annanta Toer: Bumi Manusia, 1987).

Dan merekapun adalah metaforis dari masyarakat Indonesia zaman ini yang berada di ambang batas ketakpastian. Bencana alam, busung lapar, terorisme, dikotomi masyarakat disertai demagogi  pemerintah yang korup, menjadikan impian ke bulan terasa utopis. Masa depan yang sejatinya tak dapat didugaipun kini diprediksi dengan sikap pesimis.

Yang ada orang lalu bernostalgia akan masa lampau sebagaimana burung walet yang mengitari bangunan sejarah Lawang Sewu. Sutan Sjahril pernah menegaskan, hanya orang yang telah sanggup meninjau ke belakang dengan hitungan abad yang mampu mengerti kepastian arah dan tujuan sejarah (Y.B. Mangun Wijaya: Dilema Sutan Sjahril). Saat ini diberbagai segmen perjuangan politik, kisah-kisah  di era 45 dinarasikan kembali.

Era 45 mencerminkan perpolitikan yang digenangi  penghayatan suci, kebaktian kepada kawan sebangsa yang hina dina tanpa pamrih.Pegangan kerja dan berpikir adalah menjunjung tinggi segala yang mulia dan indah pada manusia dan pengangkatan bangsa dari keterbelakangan ke taraf kemerdekaan. Namun, berpatokan pada masa lampau artinya berkubang pada lingkaran idealisme yang buntuh pada persoalan praktis.


Indonesia zaman ini kendati tertatih merangkak meluruskan kain yang menyusut namun getar batin (religiusitas) sebagai Indonesia masih berdenyut. Layaknya burung walet yang diterpa hujan, namun tidak tercerai berai, melainkan berbaris rapi di atas kabel. Ini bukanlah dongeng Burung Punguk Merindukan Bulan, melainkan kisah burung Walet yang terbang di Semarang yang menghadirkan semangat sehati sejiwa sebagai bangsa Indonesia yang hidup di bumi.

Akhirnya, sekiranya kisah Walet di Kota Seribu Pintu membuat kita semakin merakyat demi kerakyatan di negara Indonesia. “Negara sejati bisa memberi rakyat gaji yang layak, perumahan, pendidikan, tetapi tidak memberikan faktor-faktor yang lebih abstrak yang jelas semakin menambah rasa kepuasan seperti cinta yang dibalas, rasa hormat dari orang-orang lain, atau satu perasaan harga diri pribadi” (Orang-orang Malang). Jika kita digariskan oleh Yang Maha Kuasa sebagai embrio di rahim Pertiwi, maka tak bisa tidak plasenta darinyalah yang harus memberi asupan.  Dengan demikian, belajar dari kisah Walet di Kota Seribu Pintu, marilah kita menjadi etalase keharmonisan.

Artikel Terkait