Mahasiswa
1 bulan lalu · 123 view · 4 min baca menit baca · Budaya 96401_47904.jpg
Koleksi Pribadi

Waktu Paling Tepat untuk Indonesia ‘Ngupat’

Mudik lebaran adalah fenomena tahunan bagi mereka yang rela pergi jauh untuk senantiasa menjaga kepulan asap dapurnya tetap eksis. Saya? Tidak mudik. Hanya pindah desa dan kecamatan untuk bertemu sanak saudara. Satu hari jelang Idul Fitri, seperti biasa Saya membantu ibu di rumah untuk membuat ketupat atau kupat  dalam Jawa nya.

Suasana di dapur kala itu hening, sambil mengisikan rendaman beras dan kapur sirih ke dalam sisi lubang ketupat, imaji-imaji ku berpendar kemana-kemana. Tumbuh dalam keluarga yang cukup kental akan ke-Jawaan nya, Saya jadi kepikiran tentang filosofi ketupat.

Ketupat atau kupat, yang bermakna ‘ngaku lepat’ (dalam bahasa Jawa), atau ngaku salah/bersalah. Sangat pas jika ketupat dijadikan hidangan lebaran, sebagai ‘pengingat’ bahwa setiap insan wajib ngaku lepat dan saling memaafkan.

Imaji Saya mulai berkelana lebih jauh. Mungkin ngaku lepat disaat-saat seperti ini adalah momentum yang pas untuk memaafkan diri sendiri yang banyak dosanya, tetangga yang kadang kurang terjaga lisan nya, dan kawan-kawan lama maupun yang jauh di sana, tanpa ada rasa gengsi sama sekali.

Bahkan Saya juga sering minta maaf kepada orang yang, Saya tidak tahu itu siapa. Pokoknya minta maaf saja, halal bi halal.

Menelusuri sepak terjang halal bi halal agaknya memang tak bisa lepas kaitannya dengan para pemimpin bangsa. Kala itu, tahun 1948 atas permintaan Presiden Soekarno, K.H. Abdul Wahab Chasbullah, tokoh NU, dimintai nasehat bagaimana untuk meredakan bakal-bakal perpecahan yang hendak terjadi di Indonesia. Lantas lahir istilah “Halal bi Halal”. Sebagai panasea untuk Indonesia.

Para elite politik yang ‘berperang’, saling menyalahkan serta pemberontakan dimana-mana adalah ancaman besar bagi integrasi Indonesia saat itu. Strategi epik Bung Karno untuk meredam kericuhan politik rasanya memang berbuah manis.

Dengan cara menyebar undangan dan mengumpulkan para petinggi politik yang berseteru untuk menghadiri acara bertajuk “Halal bi Halal”. Karena setiap kesalahan adalah dosa, dan dosa adalah haram, maka harus dihalalkan dan disucikan. Harapan nya, para elit politik ini dapat saling akur.

Jika ditarik ke dalam waktu saat ini, Indonesia mengalami memiliki momen yang sama dengan tahun-tahun itu, meski ada beda disebagian sisi. Tahun 2019, Indonesia menggelar pemilihan serentak yang tak kalah panas dari berita para selebritis.

Tak henti-henti nya para tim sukses dari tiap-tiap calon mengakampanyekan jagoan nya dengan berbagi cara, halal maupun haram. Politik uang, post truth, fitnah dan hoaks tersebar kemana-mana. Namun, bukan mereka yang ‘di atas’ sana yang mengalami kericuhan, justru malah mereka yang berada di tataran akar rumput.

Tak berhenti disitu, deretan peristiwa yang membuat Indonesia semakin terkoyak adalah duka dari wafatnya puluhan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menunaikan kewajiban untuk menghitung ‘suara berharganya’ rakyat Indonesia. Rapor merah bagi KPU yang disematkan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan segenap warga negara Indonesia, dan juga Saya.


Hal lain yang membuat hati masyarakat Indonesia kecewa adalah sistem pemilu yang masih ‘cacat’. Setidaknya ada 199 kasus kesalahan entri surat suara yang masuk dalam catatan KPU. Ditambah perbedaan-perbedaan klaim hasil quick count yang dihitung masing-masing paslon, maupun yang nongol di televisi.

Saat perhitungan suara oleh KPU selesai, maka diumumkan bahwa Joko Widodo dan Ma’ruf Amin keluar sebagai pasangan terpilih untuk melanjutkan tampuk pemerintahan Indonesia.

Tak lama setelah nya, kubu oposisi, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, mengumumkan bahwa mereka tidak menerima hasil yang diumumkan KPU. Kubu ini menilai bahwa dalam perhitungan suara terjadi banyak kecurangan. Bahkan mereka akan mengajukan banding sampai tingkat Mahkamah Konstitusi (MK).

Prof. Mahfud MD pun turut menanggapi apa yang dilakukan kubu Prabowo-Sandi tersebut. Mereka akan menang jika bukti-bukti kecurangan kuat.

Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, Amien Rais juga turut serta menggembor-gemborkan istilah people power. Beliau seakan memang tidak menerima hasil real count yang dilakukan KPU.

Padahal, jika para penguasa pemerintahan melakukan kesalahan atau kecurangan dalam pemerintahan nya. Maka akan dengan sendirinya rakyat akan menuntut nya untuk turun.

Kejadian tidak menyenangkan juga datang sebagai dampak dari adanya Aksi Damai 22 Mei lalu di Jakarta. Mereka menuntut hasil pemilu presiden yang dianggap banyak kecurangan. Pada awalnya aksi memang berjalan damai, namun tak disangka aksi berakhir ricuh dan chaos. Rusuh. Alhasil ibu kota ini menjadi serasa tidak aman.

Namun, setelah dilakukan penyelidikan, tertangkap oknum-oknum bayaran yang sengaja mengacaukan Aksi Damai 22 Mei tersebut.


Efek dari adanya chaos ini pun merambat dalam penggunaan teknologi komunikasi seperti WhatsApp dan Instagram. Para pengguna tidak bisa mengirim gambar, video juga pesan suara dengan lancar. Hal ini dilakukan oleh pemerintah dengan dalih agar berita bohong tidak cepat menyebar karena Aksi Damai 22 Mei itu.

Dengan adanya keputusan tersebut, malah merugikan sebagian besar pegusaha online dan banyak menimbulkan keluhan rakyat. Dan banyak masyarakat yang terpaksa menggunakan VPN yang notabene ‘kurang aman’.

Kini Indonesia kembali berduka dengan wafatnya ibu negara ke enam, Ibu Ani Yudhoyono, istri Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau wafat karena kanker darah yang dideritanya. Sempat dirawat di Singapura untuk menjalani pengobatan intensif.

Pepatah mengatakan bahwa Tuhan takkan memberi cobaan di luar batas kemampuan makhluknya, sebagai negara yang sangat agamis, sudah seharusnya Indonesia setuju dengan itu.

Berbagai cobaan yang datang hendaknya dapat menyadarkan seluruh rakyat Indonesia untuk kembali membangun ukhuwah persaudaraan dan integrasi umat.

Maka dari itu, Saya merasa bahwa lebaran kali ini datang pada waktu yang tepat. Ini adalah kesempatan besar dan alasan yang sangat logis yang diberikan Tuhan, untuk memperbaiki kembali moralitas bangsa. Saling mengaku salah, saling memaafkan, dan saling bergotong-royong menambal bobroknya negara. Siapapun pemimpin nya, tetap rakyat yang paling tinggi kuasanya.

Untuk seluruh rakyat Indonesia, sudah ada ‘ngupat’ kah dalam dirimu?

Artikel Terkait