Ada dua buku yang menarik untuk dibaca sekalipun keduanya memandang dari sudut pandang yang berbeda. Buku pertama berjudul, "History of Time" karya fisikawan kuantum bernama Stephen Hawking dan buku kedua berjudul, "Being and Time" yang merupakan terjemahan bahasa Inggris dari karya aslinya dalam bahasa Jerman, "Sein und Zeit" karya filsuf Fenomenologi bernama Martin Heidegger.

Buku Hawking berusaha menyajikan konsep-konsep teoritis Fisika yang bersifat aritmetis dan pelik perihal "ruang dan waktu", "lubang hitam", "alam semesta mengembang", "lubang cacing dan perjalanan" dalam bahasa yang sesederhana mungkin. Meski begitu, mereka yang tidak familiar dengan terminologi dalam Ilmu Fisika, harus membaca berulang kali dengan mengeryitkan kening.

Tapi tidak demikian dengan buku karya Heidegger. Buku ini sangat pelik, dengan banyaknya istilah-istilah filsafat yang tidak familiar karena menggunakan bahasa Jerman seperti "das sein", "zuhandenes", "besorgen', "vorhandenes", "zeitekstase" dll.

Bahkan seorang fisikawan bernama Carl Friedrich von Weizsaecker sesaat setelah mendengar ceramah Heidegger berkomentar, "Itu filsafat. Saya tidak memahami satu kata pun. Tapi itulah filsafat."

Jika buku Hawking sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia maka buku Heidegger baru dikutip dan disinggung sepintas lalu dalam terjemahan buku-buku filsafat. Ada buku baru karya F. Budi Hardiman yang bersifat introduksi terhadap pemikiran Heideger dengan judul, "Heidegger dan Mistik Keseharian".

Penulis buku ini pun mengakui kesulitan menafsirkan Heidegger dengan berkata,

Perlu diakui, 'Sein und Zeit' bukan buku yang mudah dibaca. Percobaan saya untuk mengantar pembaca agar memahami isi karya itu kiranya tidak akan berhasil tanpa konsultasi dengan berbagai literatur sekunder yang tersedia dalam bahasa asing.
(2016: xii)

Apa yang dapat kita peroleh dari kedua tokoh ini dalam melihat dan menghayati waktu?

Melalui pemikiran Hawking kita mendapatkan pengetahuan perihal kesatuan ruang dan waktu sebagaimana dikatakan, "Kita harus menerima bahwa waktu tidak sepenuhnya terpisah dari ruang, tapi malah berpadu dengan ruang untuk membentuk objek bernama ruang-waktu (space-time)." (2013:24).

Yang menarik saat Hawking menjelaskan perihal 'segi tiga kerucut masa depan dan segi tiga kerucut mass lalu" untuk menjelaskan bahwa cahaya galaksi dan bintang-bintang yang kita lihat sebenarnya adalah cahaya yang jutaan tahun lalu telah meninggalkan sumber cahayanya, sehingga sampai di posisi kita saat ini sebagai pengamat.

Hawking mengatakan,

Jadi, ketika kita memandang alam semesta, kita sedang memandang masa lalu."
(2013:29)

Penyingkapan Fisika ini menghantarkan kita pada sebuah kearifan bahwa apa yang kita jalani hari ini adalah sebuah pantulan dari apa yang sudah kita perbuat di masa lalu. Dengan cara yang sama, apa yang kita kerjakan hari ini berpengaruh pada masa depan kita.

Bagaimana dengan pemikiran Heidegger perihal waktu?

Heidegger membedakan dua macam waktu dengan istilah Jerman, "Innerzeitigkeit" dan "Zeitlichkeit". Istilah "Innerzeitigkeit" diartikan sebagai "keberadaan di dalam waktu".

Semua mahluk berada dalam aliran waktu layaknya batu-batu yang dilewati air sungai. Inilah yang dimaksudkan dengan waktu obyektif yang terukur dalam satuan detik, menit, jam.

Sementara istilah "Zeitlichkeit" bermakna "kesementaraan" dan istilah ini hanya patut disematkan pada manusia yang diistilahkan oleh Heidegger dengan "Das Sein'.

Menurut Heidegger, Das Sein itu zeitlich, yaitu mewaktu karena berbeda dari mengada yang lain. Das Sein tidak sekedar pasif ada di dalam waktu melainkan aktif mewaktu.

Berbeda dengan kucing yang menunggu makanan, manusia tidak sekedar menanti datangnya makanan melainkan juga memaknai saat-saat menunggu ini sebagai aspek mewaktunya (2016:119-121).

Dalam komentar penutupnya mengenai Heidegger, F. Budi Hardiman memberi penilaian terhadap karya sang filsuf sebagai berikut:

Sein und Zeit - buku yang lahir dari alam pertanian ini adalah suatu tantangan untuk merenung bagi para nomad nihilistis di metropolis-metropolis. Sementara gerak para nomad bersifat horisontal - menjelajah permukaan bumi dan menguasai pasar dan bisnis dari satu wilayah ke wilayah lain - Heidegger menawarkan gerak vertikal, suatu penelusuran ke dalam palung-palung eksistensi.

Dengan kata lain, Heidegger mengajak manusia untuk melihat dirinya dan waktu keseharian bukan sekedar menjadi manusia yang berhasrat untuk mencapai sesuatu dan dikendalikan oleh sesuatu yang hendak dicapainya dengan penuh hasrat, melainkan merenungkan dan menghayati makna eksistensi dirinya dalam kemewaktuan.

Beberapa saat lagi kita mengakhiri waktu obyektif (zeitlichkeit) di tahun 2016 dan memulai waktu obyektif yang baru di tahun 2017.

Marilah kita tidak hanya menjadi obyek yang larut dalam keseharian dan kehilangan orientasi diri namun menjadi subyek yang sadar untuk menghayati dan memaknai waktu (innerzeitigkeit) untuk berbuat lebih baik bagi sesama dan dunia.