INGATKAH di masa yang lampau kita
Saban hari duduk berleha-leha di bawah rindang pohon itu. Barang panas
menyengat tiap petala tubuh kita

Kutahu kau pun menikmati
Detik-detik itu kendatipun
Bising sejawat menganggu

Lamun tatapan lembut yang
kau lemparkan seolah
berkata, "Sebentar saja. Mari beranjak
ke tempat yang hanya Kau dan Aku."

"Di mana?", tanyaku

Kau pun lama melirik
Kanan dan kirimu, bak
Penyamun tanah tandus

Tersungging
Mesra bibir legitmu dan perlahan
Menarik wajahku di dadamu, lalu berkata lembut: "DI SINI."

Ah, yang benar saja.

Kala

MATAHARI-MATAHARI dapat terbenam dan terbit
Juga bulan.
Sekali cahaya singkat jatuh untuk kita
Serentak, malam adalah tidur yang abadi.

Beri aku seribu ciuman, kemudian seratus,
Lalu seribu yang lain, lalu seratus kedua,
Sampai seribu lainnya, lalu seratus lagi,
Hingga tak terhitung lagi
Waktu yang memagut
Aku
Kamu
Dan tiap tembangku.

Pesan Ranting

BURUNG-BURUNG langgang
Menari indah di langit
Cuitan lantangmu membelah cakrawala
Demi lari di peraduan
Pastikan sayapmu tak terkilir
Di langit pemangsa berseliweran
Pun di bumi. Ku sediakan tempat bertengger, kala kau lelah dan terluka
Bukan sangkar.

Arah Waktu

MALAM tiba
Berselimut kelam
Pernak-pernik bintang menghiasi
Langit yang merenung

Hanya gema tembangku yang memantul
Di separuh ruangan tempatku berleha-leha
Waktu menyeru masa silam
Seolah ingin membalikkannya
Namun malam tak mengizinkan
Sebab tak ingin ada duka

Ku memandang ke Daksina
Kulihat cinta bersuit
Dengan bibir basahnya
Seolah luka tak pernah ada
Aku sedikit terhibur.

Kumemandang lagi ke Paksina
Kulihat rindu merintih
Tangisan yang amat menyayat
Aku pun merunduk, menggelengkan kepala
Maaf, tak perlu kuturuti!

Aku lalu menengadah ke langit malam
Di setiap titik bintang, kelap-kelipnya
"Kalian lihat? Betapa bebalnya Aku ini"
Mereka tahu
Mataku sedang berbohong
Menutupi sedih dengan tatapan girang
Karena mulut sulit sepakat.

Kehidupan Senja

HARI hampir berakhir
Lembayung senja memangkas horizon
Suara sang muazin merambat agung
Merdu dan syahdu

Embuk burung memanggil sanak
Masuk dalam lindung dedaunan
Waktunya beristirahat
Sigap Sang nokturnal bersiap
Menyergap yang tersesat
Di malam gelap

Tentu tak sama, kawan
Manusia kadang bukan hewan
Yang sepakat rehat lamun sejenak
Malam-siang bagai lingkaran
Yang tak kenal pangkal ujungnya
Celoteh tak kurang barang sejenak
Memang hidup anak Adam

Ditempat lain Aku menyaksikan
Peraduan cinta yang hampa
Yang dulu pernah terkesan
Karena luka yang dalam
Cinta dan mimpi pun gentas
Putus bak tertebas

Inderaku tak henti meraba
Walau terkulai lemas
Apa yang bisa kita harapkan?
Jika kau bisa menjawab
Maka sampaikan pada-Nya
Seperti yang kulakukan.

Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Perempuan Selain Engkau

MUNGKIN dirasa cinta menepiskan waktu dan mematikan rasa
Bersama kawan kami tertawa
Kami ramai, namun terasa berdua
Kami ramai, namun cinta melekatkan kami
Kami ramai, namun rasa memainkan dengan syahdu tiap detakan hati.

Matanya ... Senyumnya ....

Tak bisa kujelaskan dengan larik-larik ini

Matanya ... Senyumnya ....

Tak bisa kutepis. Tatapan yang membelah ruang dan
Waktu di sekelilingku.

Bolehkah kupeluk melepas cinta. Cinta yang menggebu bagai lava
Yang siap menyembur?

Boleh kah kukecup melepas rindu. Rindu yang lama menghujam dada, yang perih namun tak berbekas?

Sebentar saja ... Ya, sebentar saja ....

Aku tahu cinta bukanlah seongok kotoran seperti mereka yang dilanda pilu.
Aku tahu cinta tak sekadar menjanjikan fatamorgana sebagai penghibur musafir yang haus di padang tandus.

Maka
Jika diizinkan lidah dan hati ini ingin bersaksi
Bahwa tidak ada perempuan selain Engkau.

Cinta Dalam Kamar

SEPASANG kekasih tak pernah letih beradu rasa di hadapanku yang putus asa. Riang menunjukkan cinta bersama
Tak tahu Aku di sana.

Usai lelah di keramaian
Mereka pergi berseliweran
Jalan seolah tak berbeban
Lupa kalau ada teman

Tak puas mereka beranjak pulang
Hingga di sana mereka sekamar
Beradu cinta di sana
Melampiaskan nafsu yang liar

Perempuan yang tak sabaran
Menanggalkan semua pakaiannya
Aku kaget bukan kepalang melihat nikmat Tuhan yang terpampang

Dasar jalang!

Men(t)ari

MENTARI datang membawa jingga
Menerobos awan kelabu
Namun tak sampai kepadaku
Membawa riang tak jenuh

Aspal-aspal itu masih basah
Tak ada tanda kehangatan
Para manusia datang terus menginjak
Tak tahu sedih di sana. Merekat rasa yang kunjung tak tersampaikan

Hingga si mata jeli berlalu melewati hati yang diterjang rindu dengan langkah pendeknya. Rasa hati ingin menyapa namun tak kuasa.

Menjelma Iblis

KATAMU ingin menjelma Iblis
Padahal Aku tak ingin kita jadi buah
Bibir di langit
Lagi
Meski malam bisu atas kesaksian sepinya
dan siang berpagut dalam kilap berahi
Tetap saja pagi akan menghakimi
Iblis dalam jemari rindu kita.

Arah

LAMAT-LAMAT, ia pergi ke Barat
pikiranku tafakur di Timur
Kadang berharap ia putar arah
Kadang lebih suka bersua lain pesona
Aku akan tetap rekah

Kerelaan ini tidak sederhana
di Timur ia mematri rajah
di Barat aku menyerah.

Sampai nanti kita berangkat.
Aku ke Timur kau ke Barat
dengan bekal yang berlainan;
Aku membawa pertanyaan
kau membawa perhitungan.