Aktivis
1 bulan lalu · 132 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 86415_90476.jpg
Hillary Clinton saat berdiskusi di Stanford University

Wajahisme dan Kekuatan Kecantikan

Wajah merupakan simbol utama diri, yang unik dan bersifat publik. Unik karena tidak ada dua wajah di dunia ini yang benar-benar identik; bersifat publik karena dengannya kita mengenal satu sama lain dan saling mengindentifikasi diri. 

Namun wajah juga bersifat kasuistis; dihias sesuai tren; dan bersifat lunak, karena dengan 80 otot mimik wajah kita mampu membuat berbagai macam ekspresi.

Lebih jauh, wajah mendeskripsikan usia, gender, ras dengan berbagai macam derajat keakuratan; juga kesehatan, suasana hati dan emosi, serta sosio-ekonomik, dan mungkin saja kepribadian individu.

Wajah adalah semesta bagi perjumpaan kekuatan pandangan dengan segala cita rasa. Juga menjadi sumber komunikasi non verbal. Kata Gloria Swanson, "kita tidak perlu berdialog, sebab kita telah memiliki wajah." 

Selain itu juga, wajah merupakan penentu paling fundamen mengenai "kecantikan" atau "kejelekan" individu, yang secara tidak langsung membuka penghargaan diri atas kehidupan.

Meningkatnya makna sosial atas kecantikan pada umumnya, serta wajah pada khususnya, dapat dilihat dengan nyata pada dinamika pasar: setiap hari, bahkan waktu, kita melihat iklan tentang kecantikan mendominasi medium-medium promosi, seperti TV dan media sosial. 

Dan mungkin saja Anda merupakan satu dari sekian juta orang di luar sana yang cukup selektif dalam menerbitkan foto pribadi di media sosial, Facebook misalnya, sebab khawatir dibilang jelek.

Biaya rias dan barang-barang kosmetik dari hari ke hari makin menjulang tinggi. Banyak orang membelinya semata-mata karena pertimbangan estetik yang dipandang perlu untuk diri secara fisik dan mengikuti fenomena sosial yang lagi tren. Dan telah menjadi pengetahuan umum bahwa industri wajah berkaitan dengan industri tubuh (pakaian, perhiasan, dst).


Kekuatan kecantikan dan kejelekan di dalam masyarakat ditunjukkan dengan jelas oleh kita yang berpikir bahwa orang-orang yang berpenampilan rapi pada umumnya merupakan pribadi yang lebih sensitif, sopan, baik, cerdas, ramah, kelas ekonomi mapan, dan menyenangkan daripada orang yang berpenampilan urakan yang lazim dikira tak baik bahkan dicurigai penjahat.

Saya yakin Anda tidak pernah mendengar suatu negara mengadakan kontes kejelekan? Selalu yang terdengar hanyalah kontes kecantikan: itu pertama kali diselenggarakan pada tahun 1985 di Hungaria dan Cina. Kontes kecantikan di Indonesia pertama kali diselenggarakan pada tahun 1992 oleh Yayasan Putri Kecantikan, setelah bangsa ini mulai merasa diri sebagai negara berkembang.

Kontes kecantikan pertama kali pada zaman modern, jauh berbeda dengan motologi Yunani, dilakukan oleh Phineas Taylor Barnum di Amerika Serikat pada tahun 1854 dengan hanya menampilkan pakaian dan handuk, dan menjadikan masyarakat sebagai jurinya (lebih tetap disebut pameran pakaian). 

Tapi sekarang coba Anda cek, apa profesi juri di kontes-kontes kecantikan? Jangan harap orang yang Anda anggap paling cantik sebagai jurinya.

Kecantikan tidak bisa dianggap sepele di saat banyak orang makin tidak peduli menghabiskan uang demi estetika tubuh dan kecantikan. Saking pentingnya, cewek-cewek biasanya rias berjam-jam, sulam alis, cukur bulu kaki, cabut bulu ketek. Barangkali "aku berdandan, maka aku ada" merukapan slogan pemersatu cewek-cewek pada umumnya.

Mistik dan Filosofi Kecantikan

Mistik kecantikan dalam bentuk paling sederhana ialah keyakinan bahwa kecantikan itu baik, dan kejelekan buruk, dapat dibalik; apa yang secara moral baik berarti cantik secara fisik (nyaman dipandang), sedangkan yang jahat berarti buruk. 

Dengan demikian, fisik dan metafisik, tubuh dan jiwa, penampakan dan realitas, dalam dan luar, adalah satu.

Keyakinan dalam konsep dan tradisi filosofis yang paling tua, terdapat di dalam illead, Homer, menyamakan kejahatan dan kejelekan dalam deskrisinya tentang Therstis yang pemalu:

Ia adalah laki-laki paling jelek yang pernah datang ke illium. Kakinya pincang dan bengkok. Bahunya yang membungkuk hampir-hampir berpotongan dengan dadanya; dan di atasnya, tumbuh sebuah kepala yang bulat seperti telur, yang hanya dihiasi oleh sedikit rambut pendek.

Semua itu adalah indikasi pertama identifikasi atas kebaikan dan kecantikan, kejahatan dan kejelekan, yang bertumpu pada fisik.

Tetapi Plato merasa indikasi itu terlalu menyempitkan "kecantikan" itu sendiri. Baginya, "kecantikan" adalah "nilai" universal, tak terkurung tubuh. Sebab itulah Plato kemudian membangun mistik kecantikan atas dasar metafisik yang sekarang telah menjadi suatu bagian intrinsik kebudayaan Barat. 


Dalam symposium, Plato mengembangkan teori bahwa terdapat sebuah skala kesempurnaan yang beranjak dari kecantikan manusia individu, melalui "jenjang surgawi" menuju kecantikan absolut, yaitu cinta.

Dimulai dari kecantikan-kecantikan individu, pencarian kecantikan universal harus mampu menemukan [kandidat] yang pernah menapaki jenjang surgawi, melangkah dari satu tangga ke tangga lainnya—yakni dari satu menuju dua, dari dua menuju setiap tubuh yang molek, dari kecantikan tubuh menuju kecantikan institusi, dari kecantikan institusi menuju pembelajaran, dari pembelajaran secara umum menuju pengetahuan khusus yang tidak menyentuh apa-apa selain kecantikan itu sendiri—sampai ia menjadi tahu apakah kecantikan itu.

Socrates menambahkan, "seluruh hidupku akan kuberikan untuk memeroleh kekuasaan dan kekuatan cinta atas penghormatan semacam itu sejauh saya mampu lakukan."

Kecantikan, dengan demikian, bukan hanya fisik dan kehati-hatian saja—ia juga identik dengan kebaikan dan cinta, dengan kebahagiaan, merdeka, hikmat dan kebenaran, serta berpengetahuan. 

Sedangkan, kejelekan adalah kualitas yang sebanding namun bertentangan dalam sisi lain: jahat, tidak tahu apa-apa, pembohong, pembenci, tidak peduli kebenaran, kurang bersyukur, dan merusak. Indikasi pertama kecantikan adalah keluhuran budi dan intelektualitas berperikemanusiaan.

Andaikata kita semua percaya yang kembali ke Tuhan setelah mati bukanlah wajah atau tubuh, melainkan jiwa. Maka bagi siapa saja yang menyerah pada "kecantikan sejati" dan tidak bisa mencintai 'cinta', kebaikan, kebenaran, dan pengetahuan, tanamlah kalimat sederhana ini di dalam diri dan bila perlu jadikan keyakinan:

"Kecantikan adalah saat Anda dapat menghargai diri sendiri dan orang lain." ~ Zoe Kravitz

Artikel Terkait