Wajah yang sumringah. Untuk pagi ini, pagi kemarin, dan lusa. Senyumannya selalu renyah di antara deretan gigi yang mulai ompong, meskipun peluh menetesi wajahnya yang mulai berkerut-kerut. 

Sayang sekali, tidak ada setrika wajah yang bisa menghaluskan kulit seperti menghaluskan kain lusuh. Inilah pagi hari milik wajah yang menghangatkan lingkungan sekitar kami.

Wajah Mak Iroh adalah mentari pagi yang menghangatkan Desa Ujung Paku. Sinarnya tak berhenti menghiasi kampungku yang terletak paling ujung di antara desa yang lain. Umurnya sudah mencapai setengah abad lebih sepuluh tahun. Namun, semangatnya tetap berkobar seperti masih tujuh belas tahun.

Mak Iroh ialah sosok yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar. Setiap selesai subuh ia sudah mengenakan pakaian abu-abu lengkap dengan celana panjangnya. Ia pergi ke perbatasan desa, membawa karung. Karung itu berisi sesuatu yang sangat penting bagi Desa Ujung Paku ini.

“Eh, Mak. Sudah berangkat?” Sapaku seraya ikut membantu membuka karung.

“Sudah, Nak,” jawab Mak Iroh sembari menyingkapkan kerudungnya berwarna senada dengan warna bajunya. Senyumnya yang khas tidak tertinggal. Dan, itu menghangatkan pandanganku.

Beginilah, setiap pagi aku selalu berpapasan dengan Mak Iroh. Hal ini adalah hal yang paling menyenangkan dan kutunggu-tunggu. Bagiku, Mak Iroh sosok yang memberikan contoh positif bagi warga-warga di sini. Ia membangun masyarakat menjadi lebih bermoral.

Aku selalu menyempatkan untuk membantu Mak Iroh menyelesaikan kebiasaan yang ia lakukan setiap pagi. Semua itu kulakukan karena menurutku yang ia perbuat ialah demi desa kami. Aku tegaskan lagi, Mak Iroh adalah sosok yang sangat peduli.

Seharusnya, dengan umur yang tidak muda lagi, Mak Iroh tinggal menikmati sisa hidupnya. Tetapi, ada sesuatu yang membuat Mak Iroh melakukan hal itu. Sesuatu itu bernama ‘rasa’. Rasa yang tidak semua orang bisa merasakannya. Kepekaan itu yang membuat wajahnya bak mentari yang menghangatkan Desa Ujung Paku ini.

***

Mak Iroh, nama yang dikenal oleh seluruh warga. Bahkan warga dari desa lain. Apa yang dilakukannya telah banyak menginspirasi mereka. Ya, termasuk aku. Aku sangat termotivasi. Berawal dari Mak Iroh, sekarang desa kami mengalami kemajuan yang pesat.

Ujung Paku, desa terujung. Juga hampir terisolir. Namun, berkat usaha Mak Iroh yang tak mengharap imbalan dari siapapun itu, kini Ujung Paku setara dengan desa-desa lain. 

Sebelumnya, warga Ujung Paku memiliki kebiasaan yang buruk. Mereka malas, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dan hanya mementingkan diri sendiri.

Pagi ini, seperti biasa. Mak Iroh sudah terlihat di ujung desa dekat perbatasan. Ia membawa karung. Dengan mengenakan pakaian yang sama pula seperti kemarin. Juga dengan senyuman yang khas, yang menghangatkan lingkungan sekitar.

Mak Iroh tak pernah mengeluh dengan apa yang selalu ia kerjakan setiap pagi. Ia memungut sampah-sampah di sekeliling jalan Desa Ujung Paku dimulai sejak habis subuh dan selesai sekitar jam sembilan. Ia tidak pernah minta bayaran dan dibayar oleh pihak mana pun.

Tidak hanya aku yang peduli dan membantu Mak Iroh, warga-warga lain juga mulai membantu. Rasa syukur yang luar biasa. Mak Iroh menyadarkan warga-warga yang tidak peduli dengan lingkungan menjadi sangat peduli.

Untuk kian kalinya aku berpapasan dengan pemilik senyum sumringah itu. Tak bosan pula rasanya. Ia selalu memasang wajah ceria. Sungguh, aku ingin menjadi pribadi yang seperti dia.

“Mak ...” Lantang aku memanggil sosok yang tak lagi muda itu.

“Eh, berangkat, Nak?” Mak Iroh berhenti memungut sampah dan mengajakku berdialog sejenak.

“Iya, Mak. Ini mau berangkat. Mari saya bantu,” sebelum berangkat kuliah aku menyempatkan diri membantu Mak.

“Kamu harus kuliah yang rajin, Nak. Biar bisa membangun desa ini menjadi lebih maju,” tegas Mak Iroh dengan penuh keyakinan.

Aku tidak menjawab pernyataannya. Aku hanya menyeringai. Aku malu. Aku yang masih muda malah kalah dengan Mak Iroh yang sudah tua. Seharusnya aku bisa membangun desaku dengan tenaga yang kupunya. Namun, aku ... Ah, aku malu.

Di tengah ketulusan yang dilakukan oleh Mak Iroh, ternyata ada saja yang berburuk sangka kepadanya. 

Pak Iwan, seorang pegawai balai desa, melaporkan Mak Iroh dengan tuduhan mencuri barang-barang milik warga dengan kedok memunguti sampah.

“Mak Iroh harus mengakui perbuatan mencuri itu. Banyak barang-barang milik warga yang hilang!” Maki Pak Iwan dengan bengis.

“Saya tidak mencuri. Sungguh. Saya tulus memunguti sampah itu,” Mak Iroh tersedu-sedu karena dia tidak melakukan yang dituduhkan itu.

“Proses hukum tetap akan berlaku.” Lagi-lagi Pak Iwan tidak memiliki belas kasih kepada orang tua.

“Saya tidak bersalah,” Mak Iroh kukuh terhadap pendiriannya, ia merasa sedih sekali.

***

Pagi ini. “Mengapa pagi ini tidak hangat?” Aku hanya membatin pertanyaan yang masih kucari jawabannya. Pagi ini tak seperti pagi-pagi kemarin. Awan hitam pekat, mungkin sebentar lagi akan hujan. Oh.

Benar sekali. Awan pekat sudah menangis membasahi bumi, terutama Ujung Paku, desaku. Aku memutuskan untuk tidak pergi kuliah karena jarak kampusku sangat jauh. Harus melewati lima desa dahulu. 

Maklum, desaku adalah desa paling ujung. Kedua orang tuaku memaksaku untuk melanjutkan pendidikan agar aku bisa sedikit berguna untuk desa ini.

Aku termasuk orang yang beruntung karena aku satu di antara orang yang bisa berkuliah di desaku. Teman sepermainanku sudah menikah. Ada yang baru saja menikah, ada yang anaknya sudah berumur satu tahun, ada yang dua tahun. 

Oh, betapa mirisnya pendidikan di desaku. Untunglah ada Mak Iroh, sosok yang peduli dan sedikit demi sedikit mengubah pola pikir warga desaku, termasuk kedua orang tuaku. Inilah salah satu jasa Mak untuk desa kami, memotivasi untuk terus belajar.

Mak Iroh adalah orang yang memperjuangkan aku supaya bisa kuliah. Ia memberikan petuah-petuah supaya kedua orang tuaku membuka pola pikirnya. Lagi, Mak Iroh adalah sosok yang peduli dengan keadaan desaku.

Namun, ada yang lain. Mak Iroh akhir-akhir ini tak pernah terlihat. Baik pagi, siang, maupun sore hari. Biasanya, aku selalu berpapasan dengannya setiap pagi hari. Kini, Mak Iroh menghilang bagai ditelan bumi. Ada apakah gerangan?

Rumah Mak Iroh terletak di tengah desa. Rumah yang sederhana. Papan beratap rumbia. Di depannya terletak kursi kecil yang terbuat dari papan beserta meja mungilnya. Rumah itu tampak sepi tak berpenghuni.

“Apakah Ibu melihat Mak Iroh?” Aku mencari tahu ke mana Mak Iroh pergi kepada tetangga-tetangganya.

“Tidak, Nak. Sudah beberapa hari ini Mak Iroh tidak terlihat di rumah. Rumahnya kosong. Mungkin ke desa sebelah, ke rumah anaknya.” Jelas tetangga Mak Iroh.

“Oh, begitu. Terima kasih, Bu,” aku menghela napas lega. Walaupun kekhawatiranku masih menyelimuti pikiran. Aku masih tidak yakin jika Mak Iroh pergi ke rumah anaknya. Atau mungkin saja benar adanya. “Apa mungkin Mak Iroh sakit?”

Pagi ini, pagi kian kalinya Mak Iroh menghilang tanpa kabar. Kuperhatikan, sampah mulai menggunung di sepanjang jalan. Rupanya warga di sini tidak berubah pula. Selalu mengandalkan orang lain. Mengandalkan Mak Iroh.

***

Pagi ke sekian kali. Tidak terasa hangat. Keadaan seperti ini sudah dua minggu kurasakan. Alasan pertama karena Mak Iroh yang menghilang dan alasan kedua karena awan hitam selalu menggantung menghalangi sinar matahari ke bumi Ujung Paku. 

Tidak salah lagi tebakanku. Tes-tes-tes. Hujan kembali mengguyur desaku.

Sudah satu minggu lamanya hujan mengguyur Ujung Paku. Air menggenangi tiap-tiap selokan. Pasti sebentar lagi akan terjadi banjir. Seperti tahun-tahun lalu sebelum Mak Iroh pindah ke desaku.

“Pasti sebentar lagi akan terjadi banjir,” keluh seorang warga kepada warga lain.

“Iya. Mak Iroh menghilang dari sini. Pasti banjir lagi,” timpal warga lain.

Semua warga takut akan terjadi banjir lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua warga sibuk mencari Mak Iroh. Baru-baru ini, Mak Iroh mendadak dibutuhkan oleh para warga. Memang, Mak Iroh sangat berjasa untuk desa kami.

Mak Iroh menghilang tanpa jejak. Semua warga menanti-nanti kedatangan Mak Iroh kembali ke desa karena Mak Iroh yang membuat perubahan. Selain itu, Mak Iroh seperti penghangat di pagi hari.

“Kita temui saja Pak Iwan, siapa tahu dia punya solusi untuk desa kita ini,” celetuk salah satu warga.

“Oo, iya. Ide bagus itu!” Seru warga lain dengan senyum yang lebar.

Akhirnya dilaksanakan pula ide yang dianggap bagus itu. Beberapa warga menemui Pak Iwan. Mereka mengadukan nasib desa mereka kepada salah satu pegawai Ujung Paku tersebut.

“Pak, bagaimana ini? Hujan terus mengguyur dan selokan-selokan sudah tergenang air ...” Adu seorang warga.

“Pasti sebentar lagi banjir. Coba saja Mak Iroh masih di sini!” Sambung warga lain.

Pak Iwan diam membisu. Wajahnya mendadak pucat pasi. Bagaikan patung manusia. Ia tegak kaku di hadapan para warga. Ia kebingungan harus menjawab pertanyaan para warga.

“Ngg, baik. Akan saya pikirkan bagaimana cara mengatasi banjir di desa kita ini. Saya masih ada rapat. Jadi kita bicarakan besok lagi,” jelas Pak Iwan dengan nada sedikit parau karena ketakutan.

Tingkah laku Pak Iwan yang demikian membuat warga semakin cemas. Pak Iwan satu-satunya orang yang diharapkan bisa membantu memecahkan masalah malah terlihat ketakutan setelah salah seorang warga menyebutkan nama seseorang. 

Seseorang itu: Mak Iroh. Aku pun berpikir, apa ada hubungan antara kecemasan Pak Iwan dengan menghilangnya Mak Iroh.

***

Pagi lagi. Hari akan kembali dimulai. Sudah enam belas hari Mak Iroh meninggalkan Ujung Paku. Banyak pertanyaan yang ada di kepala para warga. Tak terpungkiri juga aku. 

Aku sangat berharap Mak Iroh kembali lagi ke desa. Bukan sebagai pemungut sampah setiap pagi, namun sebagai pemberi kehangatan untuk kami.

Aku berjalan menuju kampus. Seperti pagi-pagi biasanya. Rasanya ada yang hilang. Pemandangan hangat yang kurindukan. Aku rindu dengan sosok yang selalu membawa karung itu. Ternyata, setelah Mak Iroh menghilang. Tumpukan sampah tidak hanya menggunung, tetapi juga dikerubungi lalat hijau. Ais, ini berarti akan ada berbagai penyakit yang menyerang para warga.

Para warga pun semakin resah karena keadaan desa yang carut-marut. Berantakan. Rupanya para warga mulai mengambil inisiatif. Mereka memang mengharapkan Mak Iroh kembali, namun bukan sebagai pemungut sampah. Tetapi, mereka mengharapkan Mak Iroh sebagai motivator bagi mereka. Syukurlah, Mak Iroh berhasil mengubah pola pikir mereka.

Semua warga berkumpul. Pagi ini adalah permulaan hari Minggu. Oleh karena itu, akan diadakan gotong-royong dalam rangka membersihkan Ujung Paku ini. Semua warga tampak antusias menyambut kegiatan ini.

“Mari, Pak, Bu, kita sama-sama membersihkan sampah yang menggunung ini. Semuanya demi kebaikan kita semua. Supaya kita terhindar dari banjir dan penyakit-penyakit. Terutama ini adalah apresiasi kita terhadap Mak Iroh,” papar seorang warga kepada yang lain.

“Semoga Mak Iroh lekas kembali ke desa ini,” mohonku dalam hati.

Dengan peralatan yang sudah di bawa masing-masing, semua warga membersihkan sampah-sampah. Baik yang terletak di pinggir jalan maupun yang di selokan. Dengan demikian, air dapat mengalir dengan sempurna dan terhindar dari bencana banjir yang mengancam Ujung Paku.

Setelah jam dua belas siang, semua warga meninggalkan lokasi. Semuanya sudah bersih dan tidak takut lagi akan banjir. Semuanya kembali dengan wajah suka cita. Aku, teramat bersyukur. Upaya Mak Iroh menyadarkan para warga sudah menjadi kenyataan. Sekarang, pikiranku tinggal mencari keberadaan Mak Iroh.

***

Mak Iroh. Semua warga menanti sosok itu kembali. Mereka ingin menceritakan bagaimana mereka membersihkan sampah-sampah yang biasa Mak Iroh punguti sehabis subuh. Para warga teramat kehilangan.

Pak Iwan semakin ketakutan melihat para warga yang semakin maju. Maju di pola pikir dan bersatu. Apalagi, mengenai Mak Iroh. Pak Iwan kembali mematung berdiri di ruang kerjanya. Bagaimana kalau orang-orang tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Bagaimana kalau ada yang tahu kalau aku yang mengusir Mak Iroh dari desa ini,” ucap Pak Iwan kepada dirinya sendiri. Masih mematung di ruang kerjanya.

Aku terbelalak mendengar pernyataan itu. Bagaimana mungkin Pak Iwan mengusir Mak Iroh. Apa salah Mak Iroh? Aku mengurungkan kembali meminta tanda tangan Pak Iwan berkaitan berkas kuliahku setelah mendengar pernyataan itu. Aku kaget, marah, rasanya campur aduk.

Segera aku membicarakan masalah ini kepada para warga. Para warga tidak percaya dengan yang kuucapkan. Ada yang kaget, ada yang marah, ada yang ingin langsung mendatangi Pak Iwan. Namun, aku menyuruh mereka bersabar. Hal terpenting adalah mencari Mak Iroh dan membawanya kembali ke Ujung Paku.

Salah seorang warga memberikan alamat anaknya di desa sebelah, Bambu Sari. Aku langsung mencari Mak Iroh ke Bambu Sari. 

Ternyata rumah anaknya sangat mewah. Anak-anaknya adalah orang penting di Bambu Sari. “Pantas saja, Mak Iroh memilih kembali ke Bambu Sari,” gumamku dalam hati setelah melihat siapa Mak Iroh sebenarnya.

Mak Iroh adalah orang yang memiliki kepedulian tinggi. Salah satunya terhadap desaku yang hampir terisolir. Berbeda dengan Bambu Sari yang sudah maju. 

Makanya Mak Iroh memilih membuat gubuk kecil di desaku untuk memotivasi para warga. Ada-ada saja, Mak Iroh malah diusir oleh Pak Iwan, pegawai Ujung Paku.

“Maakk ...” panggilku tak sabar ketika melihat Mak Iroh ke luar rumah.

Mak Iroh terlihat sedikit bingung. Mungkin dia masih mencari tahu siapa suara yang memanggilnya. Mungkin ia memastikan apakah suara itu benar-benar milikku.

“Naakk, mari sini ...” kata Mak Iroh dengan lantang seraya memamerkan senyum khas yang hangat seperti biasanya.

Aku tergopoh-gopoh menuju Mak Iroh. Rasanya senang sekali. Sudah tiga minggu lamanya aku tidak melihat kehangatan itu. Dan pagi ini, aku kembali mendapatkannya. 

Aku disuruhnya masuk ke dalam rumah anaknya tersebut. Alangkah megah bak istana. Tiang rumahnya dilapisi emas dua puluh empat karat. Lalu, mengapa Mak Iroh memilih hijrah ke desaku dan tinggal di dalam gubuk?

Semua itu tentang ‘rasa’. Susah dijelaskan kalau sudah berbicara tentang ‘rasa’. Rasa kemanusiaan yang amat dalam.

“Saya tahu, Nak. Apa yang saya lakukan itu oleh sebagian orang dianggap negatif, hanya mencari muka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa saya akan membeli Ujung Paku. Padahal saya tulus, tidak mengharap apa-apa,” cerita Mak Iroh dengan sesenggukan. Ia merasa sedih dituduh akan membeli Ujung Paku karena ia kaya raya.

Ya, siapa lagi kalau bukan Pak Iwan yang menuduh Mak Iroh. Juga yang mengusir Mak Iroh. Ia ketakutan jika keluarga Mak Iroh akan menguasai Ujung Paku dan dia dipecat dari Ujung Paku. Sungguh tidak mencerminkan orang yang berpendidikan!

***

Semua terungkap. Semua warga telah mengetahui kebenarannya. Mereka semakin kagum dengan Mak Iroh. Termasuk aku. 

Aku sangat mengagumi kepribadian Mak Iroh. Para warga tidak berani meminta kembali Mak Iroh tinggal di Ujung Paku dengan rumah gubuknya karena ia memiliki keluarga terpandang di Bambu Sari. Para warga sebelumnya tidak mengetahui jati diri Mak Iroh. 

Mak Iroh bukan orang sembarangan. Ia telah banyak berjasa bagi Ujung Paku. Dengan demikian, kepala desa ujung paku memberikan apresiasi berupa tabungan naik haji untuk Mak Iroh. Sedangkan Pak Iwan dipecat karena caranya yang salah dalam mempertahankan kedudukannya.

“Alhamdulillah.” Rasa syukur Mak Iroh semakin membuat wajahnya memancarkan kehangatan bagi yang melihatnya. Seperti pagi-pagi biasanya. Sungguh, senyum yang benar-benar sumringah.