Kulihat matanya menegadah ke langit, entah untuk melihat senja atau menahan air mata agar tak jatuh ke pipi manisnya. Aku bisa merasakan betapa hancurnya hati yang tak pernah menyakiti itu. Namun aku juga tak harus terus menunda untuk mengatakan kepadanya.

"Berapa lama kau akan tinggal di Blora?" suara lembutnya memulai pembicaraan yang sempat terhenti karena kehabisan kata.

"Entah, mungkin aku akan kembali setelah menemukan Pramoedya," kataku.

"Masih soal Cerita Dari Blora itu?" tanyamu meyakinkanku.

Kau tak pernah menanggapiku ketika aku bercerita tentang Pramoedya ataupun Blora, kau selalu menganggapku membuang-buang waktu dengan ceritaku. Kau tak pernah mau mengerti bahwa ada banyak cerita di Blora memuat sejarah Blora, bahkan semua itu kutahu dari Pramoedya.

"Kenapa kau begitu tertarik dengan Pramoedya?" tanyamu untuk ke sekian kalinya.

"Haruskah kuulangi?" dan aku diam , aku mulai berpikir harus mulai dari mana untuk menceritakanya, kerena hampir semua sudah kuceritakan padamu, ah kau hanya mengulur waktuku.

Kau diam menunggu jawabanku, air matamu akhirnya menetse juga membasahi pipi manismu, dan taukah kau saat bulir-bulir air matamu jatuh saat itulah kau mengiris jantungku, percayakah kau aku laki-laki yang tak tahan melihat air mata perempuan jatuh dan aku benci kau menangis.

"Ah kau tak akan pernah tau, Pramoedya pernah menyelamatkanku makanya aku ingin bertemu denganya di Blora"

"Maksudmu?" kau mengernyitkan dahi.

Aku tau arti raut mukamu itu, aku tau kau hendak mengatakan bukankah Pramoedya sudah meninggal beberapa tahun lalu, dan kau tau Pramoedya tidak dimakamkan di Blora, aku tau kau tau akan itu kau sengaja membuatku menjelaskan banyak hal tentang itu.

Kau tak tau Pramoedya pernah menyelamatkanku aku tak pernah menceritakan padamu soal ini, karena setiap aku hendak menceritakan padamu air mata itu selalu menghentikan kalimatku, hingga kalimatku yang hendak mengatakan aku akan pergi ke Blora juga tertahan, bukan hanya di bibir tapi juga membekas di hati hingga sekarang aku berhasil mengatakanya padamu dan membuatmu berurai air mata.

Dulu ketika aku baru pertama masuk sebagai mahasiswa aku kurang begitu mengerti akan duniaku, dunia sastra, kau tau kan aku mahasiswa jurusan sastra. Saat itu aku bahkan tak pernah mengenal Shakespeare, Paulo Celho, Orhan Pamuk, Ernest Hemingway, atau bahkan Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, Arswendo Atmowilotio, Seno Gumira Ajidharma, Putu Wijaya, dan nama-nama lain dalam dunia sastra, saat itu aku benar-benar buta akan duniaku.

Bahkan aku hanya tau Puisi "Aku" Chairil Anwar, kau tau waktu itu aku menjadi bahan tertawaan teman-temanku di duniaku orang-orang sekelilingku menertawakanku kau tau betapa sedihnya aku waktu itu?

Aku menyendiri untuk mencari duniaku, dunia yang sebenarnya tak ingin ku masuki, aku masih ingat dulu kau juga menjauhiku. Aku masih ingat tatapnmu dulu sangat menyakitkan sangat beda dengan ketika aku sudah mengenalmu. Hingga aku menemukan sebuah buku, ya aku menemukan itu kau tau buku itu buku yang ku anggap menyelamatkanku sebuah buku dengan judul "Cerita Dari Blora" karya Pramoedya Ananta Toer.

Aku begitu kagum dengan buku itu, buku yang kemudian mengantarkanku bertemu dengan Roman  Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca).

Dan bukankah kau juga tau semenjak itu aku benar-benar menjadi aku yang sekarang kamu kenal, aku mulai membaca karya sastra bukan hanya dari sastrawan di negeri ini tapi juga sastrawan dunia juga karyanya ku baca.

Jadi bagaimana kau bisa mengatakan buat apa aku ke Blora? Bukankah kau juga seharusnya tau aku ke sana untuk mencari Pramoedya, bukan untuk mencari Orangnya atau wajahnya tapi mencari jejak kenanganya, mencari jejal-jejak ceritanya seperti dalam karyanya, ya aku ingin pergi ke Blora untuk mencari dan menelusuri jejak karya Pramoedya.