Ketika kita melihat tren hijab di kalangan perempuan Muslim beberapa tahun terakhir ini, maka kita tidak bisa melepaskannya dari gelombang besar hijrah yang terjadi di Indonesia saat ini.

Jika satu dekade lalu kita bisa melihat pedagang di pasar sentral menjual segala jenis pakaian yang memudahkan kita memilih mana yang cocok untuk dilekatkan pada pribadi kita sebagai individu, maka hari ini kita akan melihat keseragaman jenis barang yang dijual di pasar sentral. 

Sebut saja pasar Bu****, salah satu pusat perbelanjaan di Makassar, Sulawesi Selatan. Pada kisaran 2011-2016, kita akan melihat berbagai model pakaian yang dipajang sepanjang lorong toko.

Di 2019 ini, kita disuguhkan dengan pemandangan yang hampir setiap lorong toko menjajakan satu model pakaian, yaitu pakaian syar'i. Bahkan, tak jarang kita menemukan niqab dan cadar menjadi komoditas favorit di pasar sentral. Penggemarnya sangat bervariasi, mulai dari remaja, dewasa, hingga orang tua paruh baya.

Lebih dalam lagi, kita akan melihat transformasi para penjual atau penjaga toko. Tak jarang kita akan menemukan penjual bercadar. Bahkan seolah-olah orang memasang bendera agama di lorong-lorong pasar. Hampir setiap toko menyuguhkan jenis pakaian yang sejenis untuk agama tertentu saja.

Hal ini menggambarkan agama yang tidak terdistribusi bebas dalam berbagai kelompok sosial masyarakat. Seolah menunjukkan wajah Tuhan yang begitu eksklusif dan tidak toleran terhadap perbedaan.

Pikirku, hanya ideologi yang bisa diseragamkan. Tetapi, aku keliru. Bahkan, benda mati semisal pakaian pun jauh lebih memiliki pola yang seragam dibandingkan dengan pemikiran manusia.

Hegemoni Media terhadap Perempuan

Baca Juga: Hijab Syar'i

Jika beberapa tahun silam komodifikasi tubuh perempuan oleh media visual lebih cenderung memilih perempuan yang cantik dan bertubuh bagus, hari ini, hegemoni media mainstream (YouTube, Instagram, Facebook, dan WhatsApp) tidak mengenal batas materi kecantikan itu sendiri.

Definisi cantik yang digaungkan kapitalis melalui media televisi telah mengalami pergeseran semenjak para selebgram berbondong-bondong untuk hijrah. Salah satu alasannya adalah selebgram berhijab akan lebih laris dalam endorse di pasar online.

Perubahan arus belanja masyarakat dari yang konvensional menuju yang praktis telah mengantarkan perubahan yang cukup besar dalam daya beli perempuan Indonesia.

Seorang teman pernah bercerita, "Hijrah itu butuh modal, loh!"

"Modal apa?" tanyaku.

"Modal untuk mengganti semua jenis pakaian lama ke pakaian baru yang lebih syar'i," ungkapnya.

Orang dengan gampangnya menarik diri dari yang duniawi, lalu memutuskan untuk hijrah hanya dalam sebulan menonton YouTube. Tetangga yang berpenampilan seksi selama ini tiba-tiba muncul hanya dengan memperlihatkan kedua matanya saja. Bahkan senyumnya tidak mampu ditangkap oleh mata telanjang.

Fenomena hijrah ini memberikan gambaran pada kita bagaimana media elektronik (televisi & internet) mampu menjadi alat dalam merubah paradigma masyarakat.

Masih untung kalau yang berubah adalah kapasitas intelektualnya (dari yang tidak berpengetahuan menjadi berpengetahuan). Akan tetapi, yang berubah adalah orientasi belanjanya (pakaian dan make up).

Para pemilik modal pun mulai mengubah pola penjualan. Dari yang konvensional menuju yang online. Terlebih lagi jenis pakaian disesuaikan dengan kebutuhan pasar hijrah itu sendiri. Tak jarang kampanye hijrah diluaskan dengan niat untuk melancarkan bisnis pakaian tersebut.

Bisnis pakaian yang sudah dibangun oleh para pemilik modal (termaksud para pendatang baru dalam usaha mikro ini), dan agama menjadi lembaga yang memfasilitasi bisnis ini.

Budaya literasi perempuan yang sangat minim membawa pengaruh pada lompatan pemahaman perempuan terhadap penggunaan teknologi dan informasi. Ia (perempuan) cenderung menjadi korban dari agama yang menawarkan dogma. Karena sejauh ini perempuan adalah bagian dari masyarakat konsumtif yang paling banyak jumlahnya.

Budaya konsumtif dalam diri perempuan mengantarkannya pada kekeliruan dalam memahami penggunaan tekhnologi dan penerapan syariat. Alih-alih menutup aurat, seorang pedagang di pasar sentral berteriak, "Ke sini ki cewek, belanja ki gamis murah meriahnya. Lebih cantik ki kalo ma tutup aurat ki."

Sungguh lucu namun menarik untuk dilihat, sebab objek pasar adalah perempuan. Yang mana perempuan memiliki kecenderungan yang besar untuk mengikuti perkembangan fashion. Apalagi yang dibumbui dengan nama Tuhan di setiap produknya.

Yasraf Amir Pilliang dalam hipersemiotika menjelaskan bahwa relasi subjek dan objek dalam masyarakat konsumerisme dipandang sebagai relasi konsumsi semata (konsumer par-exellence).

Pernyataan filosofis Cartesian yang masih melekat pada Hegel dan Marx, aku berpikir, maka aku ada, kini makin tereduksi maknanya oleh kenyataan sosial yang berkembang. Yasraf menggambarkannya lewat pernyataan, aku mengonsumsi, karenanya aku ada.

Perempuan akan merasa ke-aku-annya mawujud dalam kepuasan berbelanja. Maka pernyataan Yasraf tersebut sangatlah cocok untuk menggambarkan kondisi masyarakat konsumerisme pada abad ini. Sampai pelaku-pelaku agama pun menggunakan pola pergeseran konstruk sosial masyarakat ini melalui ayat-ayat agama yang ditafsirkan untuk mengubah orientasi belanja masyarakat ke orientasi belanja yang lebih agamais (Syar'i).

Bagi Yasraf, dalam kondisi masyarakat konsumerisme, subjek menginternalisasi nilai-nilai sosial dan budaya objek-objek melalui tindakan konsumsi semata.

Dalam hal ini, para pemodal (dibaca: subjek) melihat pola kebiasaan perempuan (dibaca: objek) dalam menghabiskan waktu dan mendapatkan kesenangan melalui belanja (dibaca: hiburan) serta upaya untuk mendapatkan kepuasan tersendiri sebagai hasil jerih payahnya dalam bekerja, baik sebagai wanita karier atau sebagai ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu dalam pekerjaan domestik, dilihat sebagai peluang bisnis yang lebih menjanjikan.

Perempuan teramat impulsif dalam berbelanja. Sebab dengan berbelanja ia akan memiliki kepuasan tersendiri. Sebagaimana dinukilkan oleh Yasraf dari Judith Williamsons bahwa konsumsi adalah kegiatan eksternalisasi. 

Di mana perempuan menyalurkan keinginan belanjanya untuk mengaktualisasikan diri. Meraup eksistensi di tengah masyarakat. Makin bermerek pakaian yang digunakan, maka akan makin tinggi kepercayaan diri kita dan akan menunjukkan sejauh mana kelas sosial kita dalam masyarakat. 

Judith Williamsons menggambarkan bahwa rasa kepemilikan subjek (dibaca: pembeli) atas objek (dibaca: barang dagangan) adalah perasaan kebebasan. Yang mana di balik tindakan konsumsi yang dilakukan subjek, ada rasa kepemilikan yang sangat tampak.

Sebagaimana Yasraf mengutip Judith dalam hipersemiotika, bahwa di dalam masyarakat konsumer sekarang; ".....Membeli dan memiliki, di dalam masyarakat kita memberikan rasa mengontrol. Bila kita membeli sesuatu, kita cenderung merasa bahwa kita mengontrolnya".

Tuhan dalam Balutan Busana

Jika selama ini nama Tuhan sering kita dengar di tempat-tempat ibadah (Masjid, Gereja, dan Kuil). Akan tetapi, hari ini nama Tuhan justru dapat kita jumpai di lorong-lorong pasar sentral.

Dengan melekatkan kata syar'i sebagai produk Tuhan pada barang dagangan, akan memberikan untung lebih bagi pedagang di tengah masyarakat yang sedang dimabuk agama ini.

Makin banyak embel-embel agama yang ditempeli, akan makin laku barang dagangan tersebut. Begitu pula pada perempuan, mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala, semua dilabeli dengan nama Tuhan.

Lihat saja salah satu perusahaan shampo terkenal "Sun****", mereka dengan cepat menyadari kebutuhan pasar. Dengan segera mereka mengeluarkan produk terbaru "sun**** hijab" .

Dengan mengandeng artis papan atas, semisal artis "B" sebagai model iklan. Itu adalah pangsa pasar yang sangat besar.

Apalagi jika artis tersebut tengah naik daun, ia dikenal hampir di seluruh pelosok negeri. Terlebih lagi jika beberapa tahun terakhir ini, ia sudah memutuskan untuk berhijab. Itu menjadi nilai plus bagi para pemodal untuk memasarkan produknya.

Yang menarik adalah produk shampo hijab ini difokuskan untuk perempuan yang menutup aurat. Pertanyaannya, apa bedanya shampo hijab dengan shampo biasa? Pada hemat saya, semua sama. Sama-sama bisa dipakai untuk rambut.

Pemilihan artis tersebut sebagai model iklan akan membawa untung lebih. Apalagi jika dia adalah salah satu icon dari perempuan yang mengalami gelombang hijrah dalam dekade ini. Dengan begitu, akan makin banyak perempuan yang tertarik untuk berganti shampo. Dari shampo biasa menuju shampo fundamental.

Belum lagi dengan gelombang besar-besaran dari para artis yang memutuskan untuk membangun bisnis pakaian syar'i. Menguntungkan, sebab mereka pun tidak perlu promosi lebih. Mereka sendiri bisa menjadi endorse-nya. Apalagi ditambah dengan fakta bahwa mereka telah berhijrah, hal itu akan lebih meyakinkan masyarakat untuk berbelanja produk mereka.

Saya mengutip Fyodor Michailovitsy Dostoyevski, ia mengatakan, "jikalau Tuhan tidak ada, maka segalanya diperbolehkan."

Fyodor mengibaratkan, jika Tuhan tidak ada, maka manusia tidak akan memiliki batasan-batasan atau sekat-sekat sosial. Di mana batasan-batasan ini yang memberikan pola pemikiran yang eksklusif dalam diri manusia yang beragama. atas nama Tuhan lalu bersikap tidak manusiawi.

Mencap orang lain sebagai kafir hanya karena busana yang ia kenakan tidak sesuai dengan busana yang ideal menurut kita. Bahkan tidak jarang kita memaksakan pola keberagamaan kepada orang lain.

Memaksa orang lain berhijab dengan memberikan hukuman sosial di masyarakat berupa cibiran dan saling sindir. Menurut hemat saya, ini adalah fakta sosial yang cenderung terjadi di tengah masyarakat.

Apalagi pada kalangan perempuan Muslim yang mengaku diri Islam. Namun, dalam realitasnya tidak memberikan contoh ajaran Islam yang Rahmatan Lil Alamin.